Jama'ah Penuh Berkah

Tidak ada dakwah tanpa kepemimpinan. Kadar tsiqah antara qiyadah dan jundiyah menjadi penentu bagi sejauh mana kekuatan sistem jamaah, kemantapan langkah-langkahnya, keberhasilan dalam mewujudkan tujuan-tujuannya, dan kemampuannya dalam mengatasi berbagai tantangan dan kesulitan.

Pilar Da'wah

Mentoring adalah salah satu bagian dari pilar da'wah kita, dan anak muda adalah tonggak perjuangan)

Inilah Jalan Kami

Katakanlah: Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha suci Allah, dan aku tiada Termasuk orang-orang yang musyrik. (12:108)

Biduk Kebersamaan

Biduk kebersamaan kita terus berjalan. Dia telah menembus belukar, menaiki tebing, membelah laut. Sayatan luka, rasa sakit, air mata adalah bagian dari tabiat jalan yang sedang kita lalui. Dan kita tak pernah berhenti menyusurinya, mengikuti arus waktu yang juga tak pernah berhenti.

Bai'at adalah pintu perjuangan

Semua kesungguhan akan menjumpai hasilnya. Ini bukan kata mutiara, namun itulah kenyataannya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang diusahakan dengan sepenuh kesungguhan.

Tampilkan postingan dengan label Pembangkit Jiwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pembangkit Jiwa. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 April 2011

Perselisihan Dalam Bingkai Cinta

Mari kita ikuti…
Sepercik perjalanan orang-orang besar dalam persaudaraan. Dahulu, Abu Dzar radhiallahu anhu pernah menghina Bilal bin Rabah dengan menyebut orang tuanya. Bilal mengadu kepada Rasulullah dan Abu Dzar menyesal sejadi-jadinya atas perkataannya kepada Bilal. Ia lalu menempelkan pipinya ke tanah sambil berucap kepada Bilal, ” Demi Allah, aku tidak akan angkat pipiku dari tanah, sampai engkau injak pipi ini dengan kakimu.” Akhirnya kedua sahabat itu berpelukan dan saling memaafkan. Mereka, orang-orang besar itu, bukan tak pernah berselisih dan bukan tak pernah tersulut emosinya. Perselisihan antara mereka juga terjadi, dan bahkan kemarahan antara mereka juga telah tersulut. Tapi lihatlah bagaimana mereka menyelesaikan masalah antara mereka.
Lihatlah bagaimana kaum Muhajirin dan Anshar ketika kedua kelompok sahabat Rasulullah saw hampir saja berbaku hantam dan saling bunuh karena diingatkan masa lalu mereka yang saling berperang. Masing- masing kelompok telah menghunus pedang mereka dan bersiap untuk berperang. Dalam situasi kritis itulah Rasulullah saw untuk melerai mereka dengan mengatakan, ” Wahai kaum Muslimin, apakah karena seruan jahiliyah ini (kalian hendak berperang) padahal aku ada di tengah-tengah kalian. Setelah Allah memberikan hidayah Islam kepada kalian. Dan dengan Islam itu Allah muliakan kalian dan dengan Islam Allah putuskan urusan kalian pada masa jahiliyah. Dan dengan Islam itu Allah selamatkan kalian dari kekufuran. Dan dengan Islam itu Allah pertautkan hati-hati kalian”. Maka kaum Anshar itu segera menyadari bahwa perpecahan mereka itu adalah dari syaithon dan tipuan kaum kafir, sehingga mereka menangis dan berpelukan satu sama lain. Lalu mereka berpaling kepada Rasulullah saw dengan senantiasa siap mendengar dan taat..” (Sirah Ibnu Hisyam 1/55)
Ukhuwah
Saudaraku…
Begitu indahnya persaudaraan yang berbalut cinta diantara mereka. Setelah Rasulullah wafat, peselisihan juga terjadi diantara mereka. Tapi lagi-lagi mereka memang orang-orang besar dalam cinta.
Mu’awiyah memiliki sepetak kebun di Madinah, berikut sejumlah karyawannya. Ibnu Zubair memiliki kebun yang letaknya di samping kebun milik Muawiyah. Mu’awiyah ketika itu adalah seorang khalifah yang menguasai lebh dari 20 wilayah. Sedangkan Ibnu Zubair adalah hanya salah seorang rakyatnya. Keduanya juga mempunyai persoalan di masa lalu. Tukang kebun milik Mu’awiyah datang dan masuk ke kebun milik Ibnu Zubair, lalu Ibnu Zubair menuliskan surat kepada Mu’awiyah dengan nada marah. Surat itu bertuliskan,
” Bismillahirrahmanir rahim. Dari Abdullah bin Zubair, putra penolong Rasul (Zubair bin Awwam) dan putra Dzatun Nuthaqain (Asma binti Abu Bakar yang mempunyai gelar itu), kepada Mua’wiyah bin Hindun, anak dari perempuan yang memakan hati paman Rasulullah. Ketahuilah, tukang kebunmu masuk ke kebunku. Demi Allah yang tidak Tuhan selain Dia, kalau tidak segera engkau larang mereka, aku akan mempunya urusan denganmu!”
Mu’awiyah membaca surat dari Ibnu Zubair tersebut. Dia tampak lapang dada dan menerimanya dengan tenang. Ia lalu memanggil anaknya yang bernama Yazid yang kebetulan karakternya emosional. Mu’wiyah menyodorkan surat itu dan bertanya kepada anaknya, “Apakah kita perlu menjawabnya? ” Yazid bin Mu’awiyah menjawab, “Menurutku, ayah harus mengirimkan pasukan dengan kekuatan besar yang barisan terdepannya ada di Madinah dan ujung terakhirnya ada di Damaskus. Mereka harus datang kembali dengan membawa kepala Ibnu Zubair.” Mu’awiyah menjawab, “Tidak. Ada yang lebih baik dari itu.” Ia lalu menuliskan surat balasan kepada Ibnu Zubair dengan mengatakan
Bismillahirrahmanir rahim. Dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan, kepada Abdullah bin Zubair putra penolong Rasul dan putra dzatun Nuthaqain. Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. Jika ada bagian dari dunia milikku dan milikmu, lalu kemudian engkau memintanya, niscaya akan aku berikan itu semuanya untukmu. Jika sampai suratku ini kepadamu. Ambillah kebunku itu seluruhnya menjadi kebunmu. Termasuk tukang kebunku juga menjadi milikmu. Wassalam.
Surat itu akhirnya sampai ke Abdullah bin Zubair. Membaca surat itu Ibnu Zubair menitikkan air mata dan pergi ke Mu’awiyah di Damaskus. Ia memeluk Mu’awiyah dan berkata, “Semoga Allah menjaga akalmu, dan Allah telah memilihmu diantara orang-orang Quraisy untuk menduduki tempat ini yakni jabatan khalifah”
Saudaraku…
Ternyata perang tak terhindarkan, dan terjadi di antara mereka. Dalam perang jamal Aisyah, Thalhah dan Zubair beserta sejumlah sahabat Radiallahu anhum keluar untuk berperang dengan menghunus pedang. Sementa di pihak lawan, Ali Radiallahu anhu dan para sahabat dari ahli Badar juga berangkat untuk berperang. Seseorang berkata kepada Amir Asy Sya’bi, ,”Allahu Akbar. Para sahabat saling berperang dengan pedang dan masing-masing tidak ada yang menghindar?! ” Amir Asy Sya’bi mengatakan, “Para penghuni surga juga bertemu. Tapi mereka masing-masing merasa malu dengan yang lain.”
Ketika Thalhah gugur di medan perang Jamal dalam posisi menentang Ali ra, justru Ali turun dari kudanya dan menanggalkan pedangnya. Ia berjalan kaki menuju Thalhah. Melihatnya telah gugur bersimbah darah. Ali tahu, Thalhah adalah salah satu dari sepuluh orang yang dijamin masuk surga oelh Rasulullah saw. Ali ra memberihkan tanah dari janggut Thalhah sambil mengatakan, “Aku sangat gusar melihatmu seperti ini wahai Abu Muhammad. Tapi aku akan meminta kepada Allah swt agar menjadikan antara diriku dan dirimu sebagaimana difirmankan dalam Al Quran, “Dan kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan. ” (QS Al Hijr:47)
Saudaraku…
Lihatlah bagaimana kisah Imam Ghazali, tentang Hasan Al Bashri yang pernah didatangi seseorang dengan mengatakan, “Wahai Abu Sa’id, seseorang melakukan ghibah atasmu.” Hasan Al Bashri menjawab, “Kemarilah.” Ketika orang itu datang, Hasan Al Bashri memberinya beberapa kurma. Lalu Hasan Al Bashri mengatakan, “Pergilah kepada orang itu dan katakanlah padanya, “Engkau telah memberikan kebaikanmu untukku. Dan karenanya aku memberimu kurma.” Orang itu lalu memberikan kurma kepada orang yang menggibahi Hasan Al Bashri.
Saudaraku…
Mari belajar dari orang-orang besar itu

Sumber : http://izzimedia.com/perselisihan-dalam-bingkai-cinta/

Amanah itu seperti Cinta


Dua hari yang lalu baca salah satu teman di FB (walaupun cuman ‘kenal’ namanya saja.. hehe, maaf :) ), gini isi statusnya “Amanah itu seperti cinta, ketika datang tak bisa ditolak”.. emm,, mantep analoginya : Amanah itu ibarat Cinta… ketika ia datang tak bisa (susah) di tolak.. :D
Tapi bentar neh… (jujur :D ) obrolan ini bukan mau ngomongin Cinta-cinta-an,, tapi lebih kepada amanah itu tadi. Sebab setiap manusia diberikan Amanah oleh Allah berupa kehidupan, harta, ilmu, iman (amanah yg paling berharga). Tapi ko kenapa di kait-kaitkan dengan cinta, apa ada hubungannya?… Nah itu dia yang ingin saya obrolkan bareng Fren-fren semua.. Antara Amanah dan Cinta (Buseettt Bahasanya Beurrattt euy :P )
OK.. semua pasti setuju klo 5 huruf ini (C-I-N-T-A) ga akan pernah bosen di bicarakan, ga akan pernah habis jadi tema sebuah karya yang di-explore oleh para penulis, sastrawan, pujangga, dll… pokoknya ga ada matinya selama kehidupan ini masih ada, dan pastinya semua orang pernah merasakan ‘jatuh’ CInta (Fallin’ In Love.. hahayyy ), klo ga pernah perlu dipertanyakan tuh :P , Nah tau kan gimana rasanya… emmm,, Manis-Asem-Asin, RAME RASANYA (Nano-Nano dunk..!!), ya, terkadang Manis, terkadang Asem, terkadang Asin juga :D , pokoknya campur aduk dah… tapi di tengah kecampur adukan itu, kita semua ‘menikmati’ rasa itu… RAME RASANYA… (STOppppp… ngobrolin Cintanya sampe disini saja, bisa panjang ceritanya,, bisa berabe ntar… he.. he..he)
SO, begitulah dengan Amanah, tak terkecuali amanah Dakwah. Seperti obrolan Cinta di atas, banyak rasanya, Manis, Asem, Asin…. Karena saya pun merasakan hal itu, ketika ada amanah Dakwah terkadang Manis terasa jika : Amanah bisa di jalankan dengan baik, sesuai dengan harapan. Tapi kadang terasa Asem dan Asin jika : Amanah yang kita emban tidak bisa optimal, saling bentumpukan antara amanah satu dengan yg lain, ga ada yang bantu nyelesain amanah(he..he..he). tapi setelah saya teliti lebih jauh, tenyata ada sedikit perbedaan : Cinta, walaupun kadang Manis, Asem, Asin. Tapi kita bisa ‘menikmatinya’, beda halnya dengan Amanah (Dakwah) walaupun kadang Manis, Asem, Asin. Tapi sering kali kita TIDAK bisa ‘menikmatinya’… kenapa???, saya coba jawab sendiri : karena kita masih belum IKHLASH, coba lihat dan dengarkan.. ada saja kader Dakwah yang ber-keluh akan amanahnya, Cape lah, Lelah lah, Bosen lah, BT lah,,,, dan lah-lah lainnya (asal jangan wulan Jamilah.. he..he.. maaf intermezzo), padahal jika di hitung.. paling cuman beberapa amanah, itu juga amanah yang ga strategis yang apabila kita bandingkan dengan para kader Dakwah yang tidak ber-keluh, amanah yg mereka emban jauh lebih banyak dan lebih berat.. jangan jauh2 membandingkan dengan Rasulullah dan para Sahabat yang Super banyak dan berat amanahnya, sudah banyak ko contohnya di era informasi ini, banyak kisah mengharu biru memperjuangkan perjuangan dakwah (maaf ga bisa di sebutin disini, kepanjangan.. salah satunya buku “Bukan di Negri Dongeng” baca saja sendiri OK). Berkaitan dengan obrolan tadi, ada satu rangkaian kata penuh makna dan semangat…
Ketika waktu terasa begitu sempit, Allah ingin menunjukkan pada kita begitu berharganya waktu…
Ketika tubuh terasa letih, Allah ingin mengingatkan begitu lemahnya manusia…
Semua itu dengan kekuasaanNya…
Allah ingin meninjukkan bahwa cintaNya tak pernah habis untuk hamba-hambanya…
Jika Dakwah adalah jalan yang panjang, jangan pernah berhenti sebelum menemukan penghujungnya…
Jika bebannya berat, jangan minta yang ringan, tapin mintalah punggung yang kuat untuk menopangnya…
Jika pendukungnya sedikit, jadilah yang sedikit itu…
Semoga kita termasuk orang-orang yang sedikit itu…
ketika ‘beban’ berat Dakwah kita hadapi, jangan lah minta di ringankan, jangan lah ber-keluh, tapi mintalah PUNGGUNG yang KUAT untuk menopangnya, tapi mintalah JIWA yang LAPANG untuk besabar di jalan-Nya, Sebab tak sedikit yang berguguran di jalan ini.
Sabarlah wahai saudaraku
Tuk menggapai cita
Jalan yang kau tempuh sangat panjang
Tak sekedar bongkah batu karang
Yakinlah wahai saudaraku
Kemenangan kan menjelang
Walau tak kita hadapi masanya
Tetaplah al-Haq pasti menang
Tanam di hati benih iman sejati
Berpadu dengan jiwa Rabbani
Tempa jasadmu jadi pahlawan sejati
Tuk tegakkan kalimat Ilahi
Pancang tekadmu jangan mudah mengeluh
Pastikan azzam-mu smakin meninggi
Kejayaan Islam bukanlah sekedar mimpi
Namun janji Allah yang Haq dan pasti..!”
By IZZIS (Jalan Juang)

Sumber : http://izzimedia.com/amanah-itu-seperti-cinta/

"Penumpang Gelap di Gerbong Dakwah", Kita kah itu???

Sebuah renungan….. untuk kita, kawan!!
Layaknya sebuah perjalanan kereta dengan gerbong yang besar dan panjang. Mungkin isinya tidak sekedar penumpang kelas satu. Bisa jadi akan ada penumpang tanpa kacis, mereka yang sekedar menumpang, pedagang asongan, pengemis, bahkan pencopet.
Begitu pula dakwah ini. Ketika keterbukaan menjadi pilihan, konsekuensi logis harus menjadi pertimbangan. Saat era jamahiriyah digemakan. Mau tidak mau dakwah harus menerima berbagai macam profil manusia yang ada di masyarakat.
Yang menjadi pertanyaan, bagaimana kemudian dakwah memposisikan mereka semua sesuai kapasitasnya masing-masing?
Setiap perjalanan memiliki tabiatnya sendiri. Hal tersebut tak lain gambaran realitas. Dakwah adalah sebuah perjalanan panjang. Ia memiliki arah dan tujuan yang harus ditempuh. Boleh jadi umur generasi tidak mencukupi kesempatan memperoleh tujuan tadi. Sehingga dakwah mengalir melintasi zaman. Tabiat perjalanan mengisyaratkan kepada kita bahwa ada berbagai jenis manusia yang menyikapi perjalanan. Ada mereka yang yakin akan sampai pada tujua sehingga mampu bersabar. Ada mereka yang keyakinannya kecil tapi masih setia. Ada mereka yang tidak tahu kemana yang penting ikut saja. Ada pula mereka yang tetap di dalam tetapi mulai iseng, tidak mengikuti aturan. Ada juga mereka yang ingin bermain-main dengan waktu, sehingga keluar sebentar untuk melihat dunia luar. Ada pula mereka yang berlagak mengikuti perjalanan, tapi bermaksud mengacaukan, selalu mengkritik bahkan menarik orang lain untuk keluar.
Begitulah. Saat peluit perjalanan dibunyikan. Kereta dakwah melaju dengan gerbong-gerbong besar dan panjang. Di dalamnya boleh jadi kita menemukan berbagai jenis penumpang. Bagi mereka yang menjadi pelopor keberangkatan, mereka para sabiqunal awalun, mereka tak lain adalah penumpang kelas satu. Mereka yang pertama kali mengajak orang untuk bergabung kepada perjalanan dakwah maka tidak ada balasan kecuali keridhaan Allah dan keindahan surga-Nya. Begitu juga dengan mereka yang menjadi pengikut setia di belakang para sabiqunal awalun tadi. Mereka adalah penumpang kereta dakwah yang baik. Mereka akan mendapat bagian yang sama dengan apa yang didapat orang-orang sebelum mereka. Firman Allah SWT: “dan sabiqunal awalun di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Allah tidha kepada mereka dan mereka pun ridga kepada Allah. Dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Mereka ekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS At-Taubah:100)
Para penumpang gelap
Selain sabiqunal awalun dan pengkut setianya. Ada pula “para penumpang gelap” perjalanan dakwah. Mereka ikut dalam perjalanan dakwah, ada di gerbong-gerbong besar dan panjang ini. Tapi mereka bukanlah penempuh perjalanan sejati. Setidaknya ada beberapa karakter mereka yang bisa kita waspadai.
Pertama, aq-qai’diin. Mereka yang duduk-duduk saja dan orang-orang yang bersamanya. Kalimat aq qai’diin di sini diambil dari ayat Allah dalam surat At Taubah:”…berimanlah kamu kepada Allah dan berjihadlah beserta rasul-Nya. Niscaya orang-orang yang sanggup diantara mereka meminta izin kepadamu (untuk tidak berjihad) dan mereka berkata: biarkan kami bersama orang-orang yang duduk.” Merekalah yang tidak menemukan kebahagiaan aktivitas dakwah. Mereka tidak mengerti seberapa besar kenikmatan beriman dan berjihad. Mereka hanya mementingkan “status” dakwah sebagai tameng seolah-olah mereka adalah orang yang alim lagi shalih. Jasad mereka sebenarnya mampu menanggung beban, tapi batin mereka terlalu kerdil. Mereka akan segera taat pada hal-hal yang mereka sukai. Namun mereka akan bermalas-malasan pada hal-hal yang mereka benci. Apabila dihadapkan pada suatu ujian untuk melakukan sesuatu hal yang tidak mereka sukai, sekalipun di dalamnya ada kemaslahatan bagi jama’ah dakwah. Mereka akan berpaling sambil memberi alasan atau mereka mentaatinya dengan terpaksa dan hati yang kesal.
Hati mereka lambat laun akan terkunci mati dari keindahan perjalanan dakwah menuju Allah ini. Bukan mustahil mereka tergoda dengan rayuan untuk keluar dari perjalanan dakwah sejauh itu bisa bermanfaat bagi diri mereka sendiri.
Kedua. Mencampur adukkan antara amal shalih dengan keburukan. Inilah kelompok penumpang yang jatuh pada percampuran berbahaya. Salah satu kakinya menapak di bumi dakwah. Sedangkan kaki yang lain menginjak pada hal-hal yang berbau maksiat, cita-cita duniawi dan impian yang panjang. Merekalah orang-orang yang belum memurnikan langkah. Mereka tidak tahu bahwa dunia itu mimpi. Sedangkan igauan mimpi adalah menipu. Mereka merasa bahwa umur selalu bertambah. Padahal setiap nafas yang terhembus selalu mengurangi kesempatan hidup. Mereka masih gemar mabuk harta dan kehormatan dunia. Hal yang bisa membuat mereka gontai dari jalan dakwah.
Mereka hadir dalam tarbiyah dan menjadi bagian pembinaan. Namun mereka justru lebih banyak melelahkan para murabbi dan membebani dengan beban yang berat. Kadang mereka lebih sering membuat malu ketimbang menghadirkan prestasi. Meski demikian, kita sangat berharap mereka bertaubat kepada Allah. Semoga Allah mengampuni mereka semua yang melakukan hal demikian. Karena Allah SWT Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Firman Allah: “dan (ada pula) orang-orang yang mengakui dosa mereka, mencampur baurkan amal shalih dengan amal buruk. Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha penyayang.” (QS: At-Taubah: 102)
Berkah Tarbiyah
Salah satu ciri khas Bani Israil adalah melanggar kesepakatan, mengkhianati janji, tidak mau taat, lari dari kewajiban, kalimat yang tidak bisa dipegang dan berpaling dari kebenaran yang nyata. Akan tetapi karakter ini juga merupakan tabiat setiap jamaah yang belum matang pendidikan imannya. Ia adalah tabiat umat manusia pada umumnya. Tidak ada yang bisa mengubahnya kecuali tarbiyah imaniyah yang tinggi, lama dan dalam pengaruhnya. Oleh karena itu, tabiat ini harus diwaspadai oleh para pimpinan. Diperhitungkan dalam perjalanan dakwah yang berat: agar tidak dikejutkan dengan kemunculannya sehingga tidak mampu mengatasinya. Imam Asy Syahid Hasan An Banna menjelaskan. “Takwin (pembentukan): dengan cara menyeleksi unsur-unsur yang layak untuk mengemban semua beban jihad dan memadukan sebagiannya dengan sebagian yang lain.” (Risalah Ta’lim, Hasan al-Banna)
Semoga Allah senantiasa membimbing kita kepada jalan dakwah yang lurus. Semoga Allah senantiasa membersihkan hati-hati kita dari kesempatan untuk berbuat maksiat (baik yang disengaja maupun tidak, yg tidak disadari maupun tidak, yang merasa melegalkan sendiri, dll) dan melanggar ketaatan. Semoga Allah menurunkan berkah-Nya dari langit, mengeluarkannya dari perut bumi, mendekatkannya dari keajuhan. Berkah yang melimpah untuk para dai yang setia. Aamiiin…
Ya Robb, sekali lagi Jangan jadikan hamba dan teman2 hamba sebagai penumpang gelap di gerbong Dakwah ini..
Wallahu a’lam….

Sumber : http://izzimedia.com/penumpang-gelap-di-gerbong-dakwah-kita-kah-itu/

Minggu, 27 Maret 2011

MENGAWAL PERUBAHAN

Oleh: Tate Qomaruddin, Lc.

Rasulullah saw. Bersabda, “Setiap Nabi mempunyai sahabat dan hawari yang selalu berpegang teguh dengan petunjuknya dan mengikuti sunnahnya. Lalu muncullah generasi penganti (yang buruk) yang (hanya) mengatakan apa yang tidak mereka lakukan dan melakukan apa yang tidak diperintahkan. Maka siapa yang berjuang (untuk meluruskan) mereka dengan tangannya maka dia adalah mukmin. Dan barang siapa yang berjuang dengan lidahnya maka ia adalah mukmin. Dan barangsiapa berjuang dengan hatinya maka ia adalah mukmin. Dan tidak ada di belakang itu keimanan sedikit pun.” (Muslim)

Hadits Rasulullah saw. di atas menegaskan beberapa hal. Pertama, akan selalu terjadi perubahan pada kaum muslimin. Kedua, perubahan itu bisa menuju ke arah yang buruk. Ketiga, seorang mukmin harus berjuang untuk mengawal perubahan ke arah kebaikan dan perbaikan.
Dakwah adalah proyek mewujudkan perubahan. Pimpinan proyeknya adalah Rasulullah saw. ordernya dari Allah swt. Oleh karena itu, ketika Rasulullah saw. dimi’rojkan ke Sidratul-Muntaha, beliau tidak minta tetap tinggal di sana. Padahal beliau bisa menikmati ibadah, bertemu dengan para nabi yang diutus sebelum beliau, dan bahkan menjadi imam mereka. Beliau tetap turun lagi dan menjadi penghuni bumi yang sarat dengan berbagai tantangan dan persoalan. Beliau memang mendapat tugas untuk melakukan perubahan, dan Rasulullah saw telah melakukannya dengan sukses. Hal ini dijelaskan dalam ayat-Nya:
“Sungguh Allah telah benar-benar memberi karunia kepada orang-orang mukmin karena Dia telah mengutus pada mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab (Quran) dan hikmah (Sunnah), meskipun mereka sebelum itu benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata.” (Ali ‘Imran 164)
Proyek perubahan saat ini harus dimulai dengan pembangunan fondasi berupa individu-individu Muslim. Di atas fondasi itu dibangun keluarga-keluarga Islam. Dari keluarga-keluarga islami terbentuklah masyarakat islami. Semua itu merupakan bekal untuk dakwah melakukan perbaikan terhadap pemerintahan agar menjadi pemerintahan yang islami. Tidak hanya sampai di situ saja. Dakwah juga terus bergerak untuk mengembalikan khilafah islamiyyah yang telah dihancurkan oleh orang-orang kafir dengan dukungan antek-anteknya. Dengan begitu umat Islam akan menjadi ustadziyyatul-‘alam, guru peradaban bagi seluruh umat manusia.
Atas dasar itu,tidak boleh umat Islam tinggal dan tidak berupaya memberikan pengaruh pada perubahan yang terjadi. Perubahan adalah sunnatullah. Perubahan akan terus bergulir. Jika tidak menuju kebaikan pasti menuju keburukan. Jika bukan orang baik-baik yang mempengaruhi maka pasti orang-orang buruk yang melakukannya. Tanpa kesertaan orang-orang yang baik, akan muluslah perusakan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk berkontribusi dan mengawal perubahan agar mengarah kepada perbaikan dalam segala sektor, di antaranya:
Pertama, mempersembahkan waktu, tenaga, harta untuk kemaslahatan Islam, umat Islam, dan umat manusia pada umumnya. Allah swt. Berfirman:
“Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (pergi berperang) dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri Rasul. Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah. Dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan suatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. 9:120)
Ayat di atas memberikan informasi bahwa Allah tidak suka kepada orang yang berdiam diri dan tidak terlibat dalam perjuangan. Allah menyebut perbuatan itu tidak layak. Sebaliknya, kepada orang yang terlibat dalam perjuangan di jalan Allah untuk menyebarkan kebaikan dan hidayah Allah swt. dengan apa pun yang dimilikinya, Allah menjanjikan segala yang dilakukannya akan bernilai amal saleh. Tidak ada yang sia-sia dari orang yang berjuang di jalan Allah, sekecil apa pun perjuangannya.
Kedua, menghadirkan emosi dan semangat yang kuat untuk kejayaan Islam dan umatnya serta memberikan pelayanan kepada masyarakat seluas-luasnya. Berbahagia saat Islam mendapatkan kemenangan-kemenangan dan merasa sedih bila Islam mendapatkan tekanan dan ujian. Ia tidak rela bila Islam dihinakan dan bila kaum Muslimin diinjak-injak. Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang tidak peduli dengan urusan kaum Muslimin maka ia tidak termasuk golongan mereka.”
Perubahan hanyalah terjadi atas perkenan Allah swt. Manusia hanya bisa merencanakan dan memperjuangkan. Namun sebelum itu semua manusia harus memiliki semangat dan optimisme bahwa perubahan bisa terjadi. Jika dari awal kita sudah pesimis dan mengatakan bahwa keadaan tidak mungkin berubah, berarti kita sudah kalah sebelum bertarung. Dalam sebuah hadits qudsi disebutkan, “Aku (Allah) tergantung prasangka hamba-Ku terhadap-Ku.”
Ketiga, tidak cukup hanya emosi dan semangat. Karena banyak orang yang punya semangat menggebu-gebu untuk melakukan perubahan, namun yang keluar dari dirinya hanyalah umpatan, cacian, dan makian terhadap keadaan. Emosi dan semangat yang produktif lah yang membawa seseorang untuk berfikir keras dan bekerja cerdas dalam rangka mencari jalan keluar dari segala problem yang merundung umat dan bangsa. Ia rela menjadikan dirinya sebagai bagian dari solusi dan bukannya menjadi masalah. Bahkan bila hal itu membuatnya menjadi “korban”.
Keempat, memerintah kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; menyeru manusia kepada jalan Islam dan jalan dakwah dengan cara hikmah dan nasihat  yang baik. Itulah sifat yang melekat pada orang beriman dan tidak mungkin terpisahkan.
“Dan orang-orang beriman laki-laki dan orang-orang beriman perempuan sebagian mereka adalah penolong bagi sebagaian lain, mereka memerintah kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar.” (QS. At-Taubah 71)
Dalam kondisi apa pun amar makruf dan nahi munkar tidak boleh diabaikan. Kehadiran aktivis dakwah di parlemen dan juga di eksekutif tidak seharusnya lepas dari perjuangan amar makruf dan nahi munkar. Tidaklah sebuah kaum meninggalkan amar makruf  dan nahi munkar melainkan pasti mereka menjadi kaum yan hina. Firman Allah, “Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan ‘Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. (QS. 5:78-79)
Kelima, mengatakan yang benar di depan penguasa yang zalim. Agar mereka tidak semena-mena menjalankan kekuasaan menurut hawa nafsunya. Agar penguasa memimpin dengan penuh keadilan dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Rasulullah bersabda, “Jihad yang paling utama adalah mengatakan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim.” (Al-Bukhari). Dalam hadits lain beliau bersabda, “Pemimpin para syuhada adalah Hamzah Bin Abdil-Muthalib dan orang yang berdiri di hadapan penguasa yang zalim seraya memerintahnya (kepada yang makruf) dan mencegahnya (dari yang munkar) lalu ia (penguasa zalim itu) membunuhnya.” (Majma’uz-Zawaid 9: 271)
Jadi, jika ada peluang kita melakukan perubahan maka jangan biarkan dia dikendalikan oleh orang-orang yang menghendaki keburukan dan penyimpangan. Allahu a’lam.

sumber : intimagazine.wordpress.com

10 Bekal di Perjalan

Dakwah Islamiyah adalah harakatu ishlah wa taghyir (gerakan perbaikan dan perubahan). Perbaikan dan perubahan dari jahiliyah kepada Islam; dari syirik kepada tauhid; dari penyembahan makhluk kepada penyembahan Khaliq; dari orientasi dunia kepada orientasi akhirat; dari kezaliman tirani  kepada keadilan Islam; dari hukum nenek moyang buatan manusia kepada syariat Allah; dan dari perilaku tercela kepada perilaku terpuji.

Dengan begitu dakwah islamiyah juga merupakan gerakan iqomatuddin (penegakkan agama). Sebuah proses menyeluruh yang mengupayakan terjadinya peralihan struktur ideologi, budaya dan kekuasaan dalam sebuah masyarakat.

“…supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah” (QS. Al-Anfal, 8: 39)
Tentu saja hal ini bukan perkara mudah. Karena demikian banyak waktu dan tenaga yang akan terkuras. Demikian panjang dan terjal jalan yang harus dilalui. Oleh karena itu para pengemban dakwah wajib menyiapkan bekal yang cukup di perjalanan.

Ilmu dan Pemahaman
Bekal utama para pengemban dakwah adalah ilmu dan pemahaman. Muhammad Abdullah Al-Khatib dan Muhammad Abdul Halim Hamid dalam Nazharat fi risalatut ta’lim menyatakan, “Pemahaman yang benar dapat membantu mewujudkan amal yang benar, penerapannya yang tepat, dan dapat memelihara pemiliknya dari ketergelinciran.”
Khalifah Umar bin Abdul Aziz berkata: “Barangsiapa yang beramal tanpa didasari ilmu, maka unsur  merusaknya lebih banyak daripada mashlahatnya.”
Orang ikhlas yang beramal, tetapi tidak memiliki pemahaman yang benar dan tidak mampu menempatkan sesuatu pada tempatnya, dapat tersesat jauh dari jalan kebenaran.

Keikhlasan
Selain ilmu dan pemahaman, bekal lain yang harus disiapkan para pengemban dakwah adalah keikhlasan. Sehingga amalnya tidak tercampuri oleh keinginan-keinginan jiwa yang bersifat sementara, seperti menginginkan keuntungan materi, kedudukan, harta, ketenaran, tempat di hati manusia, pujian dari mereka, menghindari cercaan mereka, mengikuti bisikan nafsu, atau ambisi-ambisi lainnya yang dapat dipadukan dalam satu kalimat, yaitu melakukan amal untuk selain Allah, apa pun bentuknya.
Para pengemban dakwah hendaknya mengorientasikan perkataan, perbuatan, dan jihadnya hanya kepada Allah dan mengharap keridhaan-Nya, tanpa memperhatikan keuntungan materi, prestise, pangkat maupun gelar. Dengan begitu ia menjadi ‘tentara aqidah’, bukan tentara kepentingan yang hanya mencari kemanfaatan dunia.


Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian Itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)(QS. Al-An’am, 6: 162-163)

Stamina Amal
Peradaban Islam mustahil terwujud dengan amal tak beraturan, sporadis, reaksioner, temporer dan tambal sulam. Apalagi sekedar menebar slogan mentereng dan propaganda kosong. Oleh karena itu, para pengemban dakwah wajib membekali diri mereka dengan stamina amal yang kuat. Karena mereka akan melakukan amal secara berkesinambungan, tanpa lelah dan tanpa bosan. Ingatlah, sungguh tiada tempat sedikitpun bagi orang-orang yang malas dan berpangku tangan dalam barisan dakwah.

Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan (QS. At-Taubah, 9: 105)

Ruhul Jihad
Tanpa jihad, dakwah tidak akan pernah hidup. Urutan jihad yang pertama yang dituntut dari para pengemban dakwah adalah pengingkaran hati terhadap kemaksiatan pada Allah, dan puncaknya adalah berperang di jalan Allah ta’ala. Diantara keduanya ada jihad dengan lisan, pena, tangan, dan kata-kata yang benar di hadapan penguasa yang zalim.

Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. (QS. Al-Hajj, 22: 78)
Ibnu Abbas ra berkata tentang pengertian jihad,
“Jihad adalah menguras potensi dalam membela agama Allah, dan tidak takut cercaan orang yang mencerca dalam melaksanakan agama Allah.”
Muqatil berkata,
Makna jihad adalah “Bekerjalah untuk Allah dengan sebenar-benar kerja, dan beribadahlah dengan sebenar-benar ibadah.”
Ibnul Mubarak berkata,
“Jihad adalah mujahadah terhadap jiwa dan hawa nafsu.”
DR. Sa’id Ramadhan Al-Buthi berkata,
“Jihad adalah mencurahkan potensi dalam rangka meninggikan kalimat Allah, dan membentuk masyarakat muslim. Sedangkan mencurahkan tenaga dengan melakukan perang adalah salah satu jenis dari jihad. Tujuan jihad adalah membentuk masyarakat yang islami, dan membentuk Negara Islam yang benar.”

Tadhiyah
At-Tadhiyah adalah mengorbankan jiwa, harta, waktu, kehidupan, dan segala-galanya demi mencapai tujuan.

Sesungguhnya Allah Telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. (QS. At-Taubah, 9: 111)
Marilah kita teladani Abu Bakar yang rela mengorbankan seluruh hartanya pada masa peperangan Tabuk. Begitu pula Shuhaib Ar-Rumi rela melepas apa yang dimiliki ke tangan kaum musyrikin untuk membela agama Allah hijrah dari Makkah ke Madinah.


Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya Karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.(QS. Al-baqarah, 2: 207)


Taat pada Qiyadah
Amal harakah islamiyah adalah amal jama’i. Ada jundi (prajurit) dan ada qiyadah (komandan). Keduanya terikat dalam perjuangan dilandasi kesamaan visi, misi, dan program. Sikap taat—karena Allah—kepada qiyadah adalah keharusan dalam sebuah amal jama’i.
Apa yang akan terjadi jika program dan tugas dakwah yang telah direncanakan diterima oleh telinga yang tidak mampu mendengar, semangat yang melempem, serta hati yang berkecenderungan untuk membantah dan sombong? Tentu saja proyek-proyek besar akan mandeg seketika, amal-amal mulia akan mengalami kelumpuhan dan terkubur tanpa ada seorang pun yang melayatnya.
Kita tentu tahu ibrah agung dalam peperangan Uhud, bagaimana Rasulullah saw memerintahkan para pemanah untuk tidak meninggalkan posisi mereka apa pun yang terjadi. Akan tetapi tatkala mereka melihat kemenangan seolah-olah telah berpihak pada kaum muslimin, mereka turun meninggalkan posisinya dan melanggar perintah Rasulullah saw. Akhirnya terjadi serangan balik dari musyrikin yang menyebabkan 70 orang muslimin syahid. Pelajaran ini menegaskan tentang wajibnya ketaatan.
Karena itu para pengemban dakwah harus senantiasa siap melaksanakan perintah qiyadah dan merealisir dengan segera, baik dalam keadaan sulit maupun mudah, saat bersemangat maupun malas.

Tsabat
Tsabat artinya teguh beramal sebagai mujahid dalam memperjuangkan tujuannya, betapa pun jauh jangkauan dan lama waktunya.
Seorang pengemban dakwah hendaknya tetap dalam keadaan seperti itu sampai bertemu Allah swt. Niscaya ia akan mendapatkan salah satu dari dua kebaikan, yaitu hidup mulia atau mati syahid.
 Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; Maka di antara mereka ada yang gugur. dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya), (QS. Al-Ahzab, 33: 23)

Tajarrud
Tajarrud artinya totalitas atau bersungguh-sungguh pada suatu urusan. Di antara tanda-tanda sikap tajarrud yang harus dimiliki para pengemban dakwah adalah:
Pertama, mampu mensikapi manusia atau segala sesuatu dengan timbangan dakwah. Apakah ia berhak mendapatkan loyalitas atau berhak mendapatkan permusuhan.

Sesungguhnya telah ada suri tauldan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka Berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. (QS. Al-Mumtahanah, 60: 4)

Kedua, tidak merasa berat mempersembahkan jiwa di jalan Allah ta’ala dan mengatur segala urusannya serta seluruh kehidupannya sejalan dengan hukum-hukum dan perintah-perintah Allah ta’ala.
Para pengemban dakwah harus mampu menegakkan al-haq di dalam jiwa, nurani, dan kehidupan mereka, dalam bentuk aqidah, akhlak, ibadah, dan perilaku sehari-hari. Hasan Hudhaibi berkata: “Wahai Ikhwan, tegakkanlah Islam di dalam hatimu, tentu ia akan tegak di bumimu.”

Menjaga Ukhuwah
Ukhuwah adalah kekuatan iman yang menumbuhkan perasaan simpati, emosi yang tulus, kecintaan, kasih sayang, penghargaan, penghormatan, dan saling percaya antar orang-orang yang terikat dengan akidah tauhid dan manhaj Islam. Ukhuwah dapat menumbuhkan sikap saling tolong menolong, saling mengutamakan orang lain, saling mengasihi, saling memaafkan, saling berlapang dada, saling menanggung, dan saling mengokohkan.
Tingkatan ukhuwah yang paling rendah adalah salamatush shadr (bersihnya hati dari buruk sangka) dan yang tertinggi adalah itsar (mengutamakan orang lain). Seandainya para pengemban dakwah mengalami penurunan dari tingkatan ukhuwah yang paling rendah—yaitu salamatush shadr—maka perpecahan akan muncul dan pertentangan akan semakin meluas. Kedua hal ini dapat mengantarkan jama’ah dakwah pada kekalahan dan kehancuran.

Taatlah kepada Allah dan rasul-Nya, janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar., (QS. Al-Anfal, 8: 46)

Tsiqah
Bekal terakhir yang harus disiapkan para pengemban dakwah adalah tsiqah, yakni rasa puasnya seorang prajurit atas komandannya dalam hal kemampuan dan keikhlasannya, dengan kepuasan mendalam yang menumbuhkan rasa cinta, penghargaan, penghormatan, dan ketaatan.
Para prajurit dakwah hendaknya selalu waspada dan berhati-hati terhadap musuh-musuh  yang selalu berupaya menimbulkan friksi internal demi memenangkan pertarungan melawan al-haq. Untuk itu para  pengemban dakwah harus menjaga dan memperkokoh tsiqah-nya pada pemimpin agar dakwah terus bergulir mencapai tujuannya.
Wallahu a’lam.
Maraji’: Konsep Pemikiran Gerakan Ikhwan, Muhammad Abdullah Al-Khatib & Muhammad Abdul halim Hamid.
intimagazine.wordpress.com

Sabtu, 26 Maret 2011

Hidup Ini Masa Penuh Karya

dakwatuna.com – Kembali mengingat apa yang Rasul katakan,” Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain ” . Dan juga “Barang siapa hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang beruntung, Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin dialah tergolong orang yang merugi dan Barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin dialah tergolong orang yang celaka”. Kembali berpikir untuk terus memantaskan diri di hadapan Alloh atas segala kenikmatan yang Dia berikan padaku..
Kejadian ini tepatnya di akhir tahun 2010 lalu. Saat itu terdengar kabar bahwa istri dari seorang ustad kami meninggal dunia. Memang kami baru mendengarnya 2 hari setelahnya, tetapi kisah pada hari-H pengurusan jenazahnya memberikan kisah yang begitu bermakna bagi kami yang ditinggalkan.
Rumah di daerah bekasi itu ramai oleh tetangga yang datang melayat dan membantu mengurusi jenazah. Ada beberapa orang ustad kami yang hadir ke rumah itu (salah satu dari keduanya yang menyampaikan kepadaku kisah ini). Setelah bersalaman dan menyampaikan doa, tak terlihat dari wajah keluarga tetesan air mata. Semua terlihat tegar dan tabah menjalani ujian ini. Kehilangan istri, kehilangan ibu, yang mungkin bagi sebagian besar orang akan menangis sejadi-jadinya saat tahu istri atau ibu mereka meninggal. Semua pengurusan jenazah hampir selesai dan siap dikuburkan.
Saat disholatkan, seorang ustad yang hadir pada kesempatan itu sempat nyeletuk, “Begitu tegar dan sabarnya ia, sampai-sampai tak ada air mata yang menetes saat ia akan mengimami sholat jenazah istrinya. Bisakah saya seperti dia pada saat terjadi kejadian yang sama..” Ada juga diantara jama’ah sholat jenazah tersebut yang teringat pada sebuah hadits Rasul yang artinya, “Apabila seorang muslim wafat dan jenazahnya dishalati oleh empat puluh orang yang tidak syirik kepada Allah maka Allah mengijinkan pertolongan oleh mereka baginya (si mayit).” (HR. Abu Dawud)
Selepas sholat jenazah dilangsungkan, semuanya bergegas menuju mobil yang tersedia untuk mengangkut para pelayat yang akan mengantarkan jenazah hingga ke peraduan terakhirnya. Sesampainya di TPU, jenazah langsung diturunkan oleh sang suami dibantu beberapa orang lainnya. Beliau dengan begitu tegarnya, tak terlihat wajah sedih penuh duka, mengangkat jenazah istrinya. Semua dilakukan oleh beliau dengan wajah yang tenang. Sampailah pada akhir dari prosesi penguburan itu, semua orang satu persatu meninggalkan pusara termasuk sang suami.
Sekembalinya di rumah duka, beberapa orang masih berkumpul dan bercakap-cakap. Ada yang bertanya tentang kabar saudara yang lain yang belum terlihat hingga siang itu. Ada juga yang bertanya tentang seorang naqib yang belum terdengar kabarnya sejak informasi istri ustad tersebut beredar. Walaupun ternyata setelah diklarifikasi kepada sang empunya rumah, naqib tersebut sudah hadir dari ba’da shubuh tadi karena beliau harus ke kalimantan untuk memberikan pelatihan kepada kader-kader disana. Sirnalah prasangka mereka berganti dengan lantunan istighfar dalam hati dan lirih dari lisan mereka.
Hari sudah semakin sore, para pelayat satu persatu mulai berpamitan kepada empunya rumah termasuk para ustad. Saat giliran salah seorang ustad akan berpamitan, tak pelak terdengar suara parau menahan tangis dari empunya rumah. Ternyata suami itu tak tahan menahan haru dan duka dalam hatinya saat melihat saudaranya akan berpamitan. Terdengar lirih dari lisannya sebuah pesan pada ustad tersebut, “Jaga silaturahim akhi”. Memang suara itu terdengar parau tapi makna kalimatnya jelas tertangkap oleh telinga, diteruskan ke otak, lalu sampai ke hati.
Di dalam perjalanan pulang, para ustad tadi bercerita dan berdiskusi tentang kejadian-kejadian hari ini. Akhirnya terungkap bahwa almarhumah adalah seorang pengidap kanker payudara sejak lama. Suami dan anak-anaknya tahu itu dengan jelas, dan mereka sudah dikondisikan untuk mengikhlaskan apabila waktu itu hadir lebih cepat. Suaminya dalam kondisi tersebut tetap bersemangat bahkan semangatnya berkali-kali lipat dari biasanya. Kini posisi terbaik dalam perusahaan telah didapatkannya, untuk membiayai pengobatan istrinya. Ia terus berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk keluarga, agama, dan masyarakat. Tak pernah ia mengeluh pada saudara-saudaranya yang lain. Ia hanya mengukir senyuman pada orang yang bertanya padanya tentang hal-hal yang menimpanya.
Lantas, ustad yang diberikan pesan sebelum pulang pun ikut menyampaikan pada forum saat itu. Berharap ada makna lebih yang bisa diambil dari pesan beliau. Dari perbicangan dan perenungannya, akhirnya didapatkanlah beberapa makna dari kalimat “Jaga silaturahim akhi…”
Pertama, menjaga silaturahim sama seperti menjaga barang kesukaan kita. Harus dengan penuh pengorbanan dan perjuangan. Dalam ukhuwah tidak mungkin tidak ada perselisihan, sakit hati, kecewa, dan kekurangan lainnya. Tetapi, itu semua Islam membatasinya. Saat rasa sakit hati, perselisihan, kecewa, dan kekurangan lainnya itu hadir dalam ukhuwah maka tidaklah lebih dari 3 hari. Setelah itu, wajib hukumnya untuk menjalin kembali silaturahim dan mengikhlaskan hal-hal yang berkaitan dengan hal itu.
Dari silaturahim kepada sesama, kita bisa mendapatkan kawan dan saudara baru. Silaturahim terdekat adalah silaturahim pada keluarga terdekat, tetangga, dan lainnya. Terkadang silaturahim dengan tetangga saat ini jarang terjadi karena sikap individualis, kesibukan personal, dan macam-macam alasan lainnya. Maka sungguh merugi mereka yang apabila waktu sholat datang tidak berjama’ah di masjid. Mengapa? karena ia telah kehilangan momentum silaturahim dengan tetangga. Bukankah silaturahim itu membuka pintu rezeki, menambah pahala, dan mengikatkan hati di atas jalinan sayang Alloh??
Kedua, kalimat itu memiliki arti selainnya yaitu berbuat kebaikanlah saat kau masih bisa berbuat. Masa kematian itu hanyalah masa transisi antara masa karya kita di dunia dengan masa penuh balasan di akhirat nanti. Maka kerjakanlah karya yang terhebat dan fantastis sejak sekarang juga karena waktu kita di dunia hanya sebentar saja. Tak ada sehela nafaspun yang sia-sia dengan tidak berbuat kebaikan di masa-masa ini.
Kita sering merasa jabatan atau amanah kita yang rendah diartikan sebagai pintu penghalang memberikan kebaikan pada oranglain dan berbuat karya terbaik semampu kita. Padahal itu adalah cara pandang yang keliru. Malahan saat itu, kita sedang diberi peluang memberi kebaikan dan menorehkan karya terbaik kita.
Seseorang yang berprofesi sebagai tukang sapu jalanan mungkin dipandang sebelah mata oleh orang. Tak seperti pandangan orang-orang pada seorang presiden. Apa yang berbeda dari mereka?? Tidak ada sama sekali. Mereka sama-sama manusia ciptaan Alloh Ta’ala. Mereka sama-sama punya tugas dunia yang sama yaitu beribadah pada-Nya. Merekapun sama, manusia yang berpeluang untuk berbuat kebaikan dan menorehkan karya terbaiknya sesuai dengan jabatan dan amanah mereka di dunia ini.
Seorang yang menjabat sebagai presiden tidak akan bahagia apabila jabatannya itu diperoleh dari yang haram. Tidak akan bahagia apabila ia tidak bisa memerintah dengan adil. Tapi ia akan bahagia apabila ia mendapatkan jabatan itu bukan dengan cara yang haram, dan ia bisa memerintah rakyatnya dengan adil. Begitu pun dengan seorang tukang sapu jalanan. Ia bisa menorehkan karya terbaiknya di dunia ini dan merasakan kebahagiaan. Tapi bila ia merasa rendah diri dan tidak melakukan yang terbaik dalam menjalankan tugasnya maka ia akan menjadi orang-orang yang merugi.
***
Saudaraku..
hidup ini masa kita berbakti pada-Nya
hidup ini masa menanam benih kebaikan
hidup ini masa menyemai kasih sayang
hidup ini masa karya kita
karena kematian hanyalah waktu tunggu bagi kita
antara masa penuh karya (dunia)
dengan masa penuh balasan (akhirat)
yakinlah apapun yang Dia janjikan
sekecil apapun karya yang kita torehkan
di masa penuh karya ini
maka Dia akan membalas sepadan
bahkan berkali-kali lipat
Saudaraku…
optimalkanlah hidupmu
buatlah ia menjadi berarti
bagi dirimu
bagi sekelilingmu
karena hidup ini
masa penuh karya
yang rugi bila terlewatkan
saat kesempatan masih ada

Tamayyuz di Mihwar Muassasi


Mahawir ad-da’wah
Ikhwah dan akhwat fillah, saat ini gerakan dakwah kita memiliki rakizah siyasiah, yakni stressing atau titik tekan pada bidang politik. Hal ini perlu saya garis bawahi, mengingat ada  beberapa hal yang  kadang-kadang menyebabkan kita mengalami keterjebakan situasional. Misalnya ada yang mengatakan atau menganggap kita masuk ke dalam mihwar siyasi (era politik).
Padahal dalam manhaj kita, hanya dikenal mahawir arba’ah atau empat era yang di dalamnya tidak ada mihwar siyasi (era politik) sebagaimana halnya tidak ada mihwar tarbawi (era pembinaan). Keempat mihwar dakwah tersebut ialah mihwar tanzhimi (structural), mihwar sya’bi (masyarakat), mihwar muassasi (kelembagaan) dan mihwar daulah (negara). Di setiap mihwar dari empat mihwar dakwah tersebut terkandung amal siyasi (aktivitas politik) dengan tingkat persentase yang berbeda-beda, karena amal siyasi adalah bagian tidak terpisahkan dari amal da’wi (aktivitas dakwah) kita.

Ikhwah dan akhwat fillah, seringkali dalam menghadapi situasi, kondisi-kondisi, aksi-aksi dan tantangan-tantangan tertentu kita lupa untuk merujuk atau kembali ke manhaj (pedoman). Padahal penguasaan kita akan manhaj, insya Allah cukup baik, apakah itu di ruang lingkup manhaj asasi, yakni Alquran dan Sunah ataupun di ruang lingkup produk ijtihad jama’ah kita yang tentunya juga bersumber dari Alquran dan Sunah. Langkah-langkah perjuangan dalam bentuk manhaj amali (pedoman aktivitas) tersebut cukup untuk dapat merespon dan mengantisipasi segala perkembangan. Hanya saja kita seringkali lupa merujuk ke manhaj tersebut. Boleh jadi karena keterdesakan kita di lapangan atau kesibukan yang demikian padat.

Agar lebih jelas, saya ingin sedikit mengulang penjelasan-penjelasan tentang stressing di masing-masing mihwar. Pada mihwar tanzhimi, rakizatul amal (stressing kerja) kita berupa bina syakhshiyah islamiah dan syakhshiyah da’iyah atau mewujudkan sosok pribadi islami dan pribadi da’iah. Juga bagaimana kita  berusaha mengokohkan mishdaqiyah syakhsyiah islamiyah dan mishdaqiyah syakhshiyah da’iyah atau kredibilitas pribadi islami dan kredibilitas pribadi da’iyah.

Di era atau mihwar tanzhimi tersebut yang selalu kita ukur dan evaluasi adalah tingkat pertumbuhan kader dalam arti pertumbuhan dan perkembangan kader-kader kita secara internal. Bahkan ketika kita mengukur, mengevaluasi diri dari segi eksternal, yang kita lihat pun sejauh mana pertumbuhan calon kader yang dapat direkrut menjadi kader. Jadi di masa itu orientasinya adalah perekrutan, pembinaan, pertumbuhan dan perkembangan kader-kader dakwah.

Kemudian dakwah kita berkembang dan memasuki mihwar atau era sya’bi. Di era ini kita mulai ber-sya’biah atau mensosialisasikan siri, kader-kader dan program-program dakwah kita di masyarakat. Sasaran yang ingin dicapai di mihwar ini adalah mishdaqiyah syakhshiyah ijtima’iyah atau kredibilitas sebagai pribadi yang diterima di masyarakat. Kita berupaya keras agar kader-kader kita memiliki kredibilitas tersebut. Di mihwar sya’bi ini kita bukan hanya menerapkan tolak ukur kuantitas berupa pertumbuhan dan perkembangan kader, melainkan juga sejauh mana kader-kader yang kita miliki memberi pengaruh di masyarakat.

Ikhwah dan akhwat fillah, di mihwar tanzhimi kita sudah mulai melaksanakan program-program yang merupakan mukadimah atau pengkondisian ke arah mihwar sya’bi. Begitu pula di mihwar sya’bi, kita sudah melakukan langkah-langkah pendahuluan yang sekaligus merupakan kondisioning untuk menuju mihwar muassasi.

Alhamdulillah, Allah Ta’ala memberikan peluang yang mempercepat masuknya kita ke mihwar muassasi. Kita memang sudah membuat langkah-langkah mukadimah menuju mihwar muassasi berupa pendirian yayasan, lembaga-lembaga pendidikan, lembaga penelitian dan lain sebagainya. Namun perubahan-perubahan cepat yang terjadi yang antara lain dipicu dan dipacu oleh globalisasi ekonomi, politik dan lain-lain serta krisis ekonomi—dan tentu saja sebab utamanya adalah tadbirullah (rekayasa Allah), membuat peluang untuk memunculkan diri dalam bentuk kelembagaan formal terbuka lebar. Maka mulailah kita memasuki mihwar muassasi dengan menampilkan diri sebagai Hizbul ‘Adalah (Partai Keadilan). Kita menyebutnya  mihwar muassasi dan bukan mihwar siyasi, walaupun memang dalam mihwar muassasi sebagaimana halnya di mihwar tanzhimi dan sya’bi terkandung aspek-aspek siyasi. Dan karena di mihwar muassasi ini sudah menyentuh aspek kelembagaan politik, maka persentase amal siyasinya pun meningkat.

Upaya memantapkan langkah-langkah secara struktural dan operasional di mihwar muassasi ini juga akan menyentuh  sektor amal siyasi. Sekali lagi saya tegaskan bahwa amal siyasi merupakan sektor. Sebab bila kita mengatakan mihwar kini sebagai mihwar siyasi berarti kita terjebak ke dalam amal juz’i dan sekaligus harakah juz’iah, seperti halnya kita tidak bisa mengatakan sebagai mihwar tarbawi agar tidak terjebak juga pada ke-juz’iyah-an atau keparsialan. Jadi setiap mihwar memiliki beragam amal sesuai dengan ke-syumuliah-an dan ke-takamuliah-an amal Islam.

Ikhwah dan akhwat fillah, karena itu di setiap mihwar dibutuhkan adanya ke-tawazun-an antar amal. Ke-tawazun-an adalah proporsionalitas dalam pemberian peran-peran, pendayagunaan dan pengerahan potensi-potensi SDM. Kata proporsionalitas menunjukkan adanya ketepatan atau akurasi penyaluran potensi sesuai dengan tuntutan medan dan situasi-kondisi serta aksi-aksi yang kita lakukan.

Oleh karena itu, ikhwah dan akhwat fillah, betapa pun kita dituntut untuk merespon situasi dan kondisi saat ini dengan proporsionalitas yang menuntut porsi lebih di bidang politik, tetap saja kita tidak boleh mengabaikan amal tarbawi (pembinaan), amal tsaqafi (penambahan wawasan), amal khairi (sosial), amal ijtima’i (kemasyarakatan) dan lain-lain. Masalah stressing atau penekanan di sektor tertentu pada moment tertentu adalah hal yang biasa. Misalnya di bulan Ramadhan kita meliburkan halaqah-halaqah tarbawi internal, karena kita ingin merespon amal khairi dan taabbudi (ibadah) di bulan mulia tersebut. Kita berkonsentrasi meningkatkan tadayyun sya’bi (keberagamaan masyarakat) karena terdapat katsafah furshah (peluang yang luas) di bulan Ramadhan.

Jadi bila kini menjelang pemilu kita merespon tuntutan amal siyasi yang membesar, itu merupakan masalah proporsionalitas tanpa harus mengabaikan bidang-bidang lain. Sehingga memadatnya aktivitas politik kita menjelang pemilu tidak berarti kita terjebak dalam mihwar politik. Mihwar kita adalah mihwar muassasi, artinya secara kelembagaan kita mulai menampilkan diri seluruh batang tubuh ke permukaan dengan nama Hizbul ‘Adalah.

Ikhwah dan akhwat fillah, mihwar muassasi ini akan terus berkembang ditandai dengan bertambahnya muassasah atau lembaga infrastruktur sosial politik kemasyarakatan baik yang kita bangun sendiri atau yang  kita warnai (muassasah yang dibangun oleh ikhwah seperjuangan dalam Islam, yaitu ormas atau parpol lain), dan nantinya juga kita bisa melebarkan sayap dengan memasuki secara langsung lembaga-lembaga suprastruktur dan infrastruktur kenegaraan. Hal ini merupakan bagian dari mihwar muassasi dan merupakan langkah-langkah awal yang akan menjembatani masuknya kita, Insya Allah, mustaqbalan (di masa mendatang) ke dalam mihwar daulah.

Hal penting yang harus kita perhatikan di dalam mihwar muassasi ialah bahwa kita bukan sekadar memunculkan diri dalam bentuk kelembagaan partai, melainkan juga mengupayakan bagaimana aqidah, fikrah dan manhaj kita mewarnai infrastruktur sosial politik di masyarakat atau infrastruktur kenegaraan dan kemudian akhirnya supra struktur kenegaraan. Lembaga infrastruktur dan suprastruktur negara akan kita masuki jika tingkat proporsi penyebaran SDM dan pengaruh kita di ruang lingkup kelembagaan infrastruktur kemasyarakatan atau sosial politik sudah memadai. Barulah kemudian kita melangkah ke dalam mihwar daulah.

Dalam hal ini ingin saya ingatkan bahwa setiap mihwar memiliki perimbangan proporsi amal yang berbeda-beda dan dapat berubah-ubah. Hendaknya hal ini tetap dalam ruang lingkup ke-tawazun-an dan keterpaduan amal islami.

Tamayyuz
Langkah-langkah amal kita harus mutamayyiz. Kita bergaul bersama, berpacu, namun nahnu mutamayyyizun (kita berbeda). Kata tamayyuz mengandung pengertian keberbedaan yang mengandung keistimewaan. Jadi bukan asal beda, melainkan mutamayyiz ’an ghairina, berbeda yang mengandung keistimewaan dari yang lainnya. Kita mengetahui slogan yang dikumandangkan oleh Syahid Sayyid Quthb, yaitu yakhtalithun walakin yatamayyazun, kita berbaur, bergaul, bersilaturahmi, ber-tawashau bil haq, ber-tawashau bis shabri, tawashau bil marhamah dengan seluruh lapisan umat, namun nahnu mutamayyizun, kita berbeda. Tamayyuz—kespesifikan ini penting agar menjadi arahan yang memudahkan masyarakat untuk mendukung kita.

Pertama-tama tamayyuz kita adalah dalam ruang lingkup SDM. Kita harus mutamayyiz fii rijal. Kita harus sanggup menampilkan tamayyuz fii rijal, keistimewaan SDM atau personil.

Ikhwah dan akhwat fillah, dalam memasuki mihwar muassasi yang kedudukannya merupakan langkah-langkah mukadimah menuju mihwar daulah, rijalud da’wah atau SDM dakwah kita seyogianya sekaligus juga memiliki bobot dan bakat yang akan dikembangkan menjadi rijalud daulah atau sosok negarawan yang memiliki visi kenegaraan yang baik.

Kita sudah memiliki kader-kader yang berbasis akidah, fikrah dan minhaj yang baik. Kini tinggal berupaya bagaimana kita mengekspresikan diri dan mengaktualisasikan diri secara atraktif. Bukan berarti kita riya, melainkan semata-mata dalam kerangka ‘isyhadu bi anna muslimin”, saksikan kami ini orang-orang Islam. Kita mencoba memperjelas, mengedepankan tampilan produk islamisasi rijal kita.

Paling tidak ada lima kespesifikan, keunikan atau keistimewaan yang—Alhamdulillah—dimiliki oleh jamaah kita, yaitu:

1.      Mutamayyiz fii rijal (keistimewaan SDM)
2.      Mutamayyiz fi adaa (keistimewaan penunaian tugas)
3.      Mutamayyiz fii intaj (keistimewaan sentuhan produk)
4.      Mutamayyiz fii khidmah (keistimewaan pelayanan)
5.      Mutamayyiz fii muamalah (keistimewaan bermasyarakat)

Keistimewaan yang pertama ialah mutamayyyiz fii rijal atau keistimewaan personil dakwah. Keistimewaan personil dakwah atau SDM ini dilandasi oleh tamayyuz fii aqidah, fikrah, minhaj dan akhlaq. Modal utama berupa keistimewaan dalam akidah, fikrah, minhaj dan akhlak sangat berdayaguna dalam membangun mishdaqiyah syakhshiayah da’iyah (kredibilitas pribadi muslim dan da’iyah).

Namun keistimewaan SDM ini harus ditunjang oleh tamayyuz fii adaa atau keistimewaan dalam penunaian tugas. Jadi kita harus mutamayyiz fii adaa. Dalam menunaikan tugas, kita memiliki modal berupa motivasi yang tinggi yang dibangun oleh aqidah kita. Kemudian idealisme yang besar yang dibangun oleh fikrah kita dan langkah-langkah kerja yang tertib teratur yang dibangun oleh manhajiah kita.

Kesemuanya itu menjadi modal dalam menunaikan ruhul badzli wa tadhhiyah karena dilandasi niat yang khalishan li wajhillah ta’ala. Ruhul badzli wa tadhhiyah adalah modal motivasi, militansi dan vitalitas stamina yang dibangun oleh akidah, fikrah, akhlak dan semangat ibadah kita. Kesemuanya itu menjadi modal utama dalam tamayyuz fii adaa yang kemudian ditopang pula oleh kemampuan dalam takhtit, perencanaan/programming dan idariah/manajemen.

Kelengkapan modal tersebut membuat kita mutamayyiz fi adaa, istimewa dalam penunaian tugas. Kita tidak menjadi orang-orang yang menunaikan tugas secara infiradiyah, sekenanya, seketemunya dan seadanya di lapangan, melainkan  benar-benar mutamayyiz fii adaa karena di back up oleh faktor-faktor mental, moral dan ideal serta faktor-faktor konsepsional, berupa perencanaan dan manajemen yang baik. Jika kita berhasil menampilkan  adaa’ul wazhaif (penunaian tugas secara baik), insya Allah keistimewaan kita akan muncul di tengah masyarakat.

Apalagi bila diikuti dengan keistimewaan produk-produk yang kita hasilkan yang menimbulkan kesan dan pengaruh yang kuat di masyarakat karena mau tidak mau masyarakat memang menilai dan mengukur masalah produktivitas.

Karena itu, keistimewaan yang ketiga yang harus kita miliki adalah tamayyuz fii intaj. Program-program yang kita gulirkan harus terasa hasilnya di masyarakat. Sudah tentu yang dimaksudkan terasa, tidak selalu harus dalam bentuk produk materi. Bahkan sebagian besar yang kita miliki bukan berupa produk materi, melainkan pendekatan ilmi, shihhi, ijtima’i, ma’nawi dan sebagainya

Ikhwah dan akhwat fillah, sudah sewajarnyalah masyarakat mengharap dan menunggu-nunggu produk-produk nyata yang dihasilkan oleh parpol-parpol dan kelompok-kelompok organisasi yang menjamur belakangan ini. Oleh karena itu kita harus mampu menyajikan produk yang mutamayyiz kepada masyarakat jika ingin mendapatkan sambutan publik yang baik.

Tamayyuz dalam produk bukan diukur dari segi kuantitasnya, melainkan dari segi kualitas sentuhannya yang terasa di hati masyarakat.

Ikhwah dan akhwat fillah, tamayyuz yang berikutnya yang juga harus kita miliki ialah tamayyuz fii khidmatan lis muslimin (keistimewaan dalam pelayanan kepada muslimin), khidmatan lin naas (pelayanan kepada manusia), sehingga kita akan tampil mutamayyiz fii khidmah (istimewa dalam pelayanan). Ada pepatah Arab berbunyi, “An-naas yuwalluna man yakhdimuhum,” (manusia akan memberikan wala atau loyalitas kepada orang-orang yang melayaninya). Karenanya ada juga pepatah lain, “Sayyidul qaum khaadimuhum” (Pemimpin suatu kaum [bangsa] adalah pelayan bagi kaum tersebut).

Bila kita tampil sebagai lembaga yang paling piawai memberikan pelayanan kepada masyarakat, maka ia pun akan mendapatkan sambutan lebih dibanding dengan yang lain. Pelayanan kepada masyarakat tidak harus selalu diartikan pelayanan fisik, materi yang bersifat langsung, simbolik, atraktif dan promotif, misalnya pemimpin datang memberikan bantuan materi kepada bawahannya. Hal itu hanya merupakan sebagian kecil dari ruang lingkup pelayanan kepada masyarakat. Memang hal itupun perlu juga sekali-kali kita lakukan, namun yang lebih penting adalah bagaimana kerja keras kita, mengupayakan terjaminnya kemaslahatan masyarakat dalam dua hal yang digariskan Allah dalam Q.S. Quraisy: (1) Terjaminnya masyarakat dari kebutuhan-kebutuhan hidupnya yang asasi أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ (terbebasnya dari kelaparan) dan (2) Kebutuhan akan rasa aman atau terbebas dari ketakutan, ketidakpastian, intimidasi, kediktatoran dan kezhaliman (وَءَامَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ).
Kedua hal tersebut juga berkaitan dengan لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ atau masalah qalb (hati) dan وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ atau berkaitan dengan terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan jasadiyah. Ruang lingkup pelayanan kita harus meliputi kedua aspek tersebut.

Dalam masalah pelayanan ini, hal yang perlu saya garis bawahi bahwa itu meliputi garis vertikal ke atas, yakni upaya kita mempengaruhi decision making dalam hal politik, hukum dan perundang-undangan dengan cara aktif memberikan usulan, kritik dan koreksi. Kemudian juga meliputi garis vertikal ke bawah, yakni upaya kita menggulirkan produk-produk dalam ruang lingkup ijtima’iyah, khairiyah, ilmiyah, tsaqafiyah, shihhiyah dan fanniyah di tengah masyarakat.

Produk-produk dalam ruang lingkup vertikal ke bawah akan menjadi basis dari upaya meluncurkan produk siyasah wal qanun ke atas. Dan produk siyasah wal qanun ke atas akan memayungi dan melindungi segala aktivitas pelayanan kita ke bawah. Artinya segala aktivitas kita yang menyebar di masyarakat perlu mendapat perlindungan politik dan hukum. Sebaliknya segala aktivitas yang berkaitan dengan masalah politik  dan hukum perlu mendapatkan basis berupa produk dan kerja nyata kita di bidang ijtima’iyah, khairiyah, ilmiyah, fanniyah, iqtishadiyah dan sebagainya.

Akhirnya, ikhwah dan akhwat fillah, tamayyuz kelima yang harus kita miliki adalah tamayyuz fii muamalah. Cara agar kita tampil beda dan istimewa dalam bermuamalah (bergaul) adalah bila kita bermuamalah bil ihsan. Allah berfirman,

هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلاَّ الْإِحْسَانُ
“Tidak ada balasan kebaikan, kecuali kebaikan (pula).

Dalam hadits juga disebutkan bahwa Allah menyuruh kita berbuat ihsan dalam segala urusan. Yang dimaksud dengan ihsan adalah kebaikan-kebaikan, apakah berupa kebaikan materi, sulukiyah, maupun sikap dan perilaku. Dalam menyalurkan kebaikan-kebaikan tersebut hendaknya kita membingkainya dengan akhlaqul karimah. Sebab betapa pun besar kebaikan yang diberikan, jika cara memberikannya tidak disertai dengan adab dan kesantunan, maka ia akan lebih dirasakan sebagai penghinaan dan bukan kebaikan.

Inti muamalah adalah bagaimana kita menyebarkan kebaikan di tengah masyarakat dengan dibingkai akhlaqul karimah. Maka masyarakat pun akan melihat bahwa kita mutamayyiz fii muamalah, istimewa dalam berinteraksi di masyarakat. Sebab upaya menanamkan pengaruh di masyarakat, pada hakikatnya adalah bagaimana kita merebut hati orang. Selain berupaya membuka hati mereka melalui program-program yang kita selenggarakan dengan baik, juga harus dengan kekuatan ta’abudi dan taqarrub kita kepada Allah, karena miftahul qulub, kunci hati ada di tangan Allah. Dengan kekuatan ikhtiar dan doa kita berharap kepada semoga Allah membukakan hati-hati mereka.

Wallahu a’lam
  Sumber : http://intimagazine.wordpress.com/2010/10/26/tamayyuz-di-mihwar-muassasi/#more-188

Menjaga Karamah Basyariyah

Oleh: KH. Hilmi Aminuddin, Lc.


وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلاً
“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan. Kami beri mereka rizqi dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan” (QS. Al-Isra, 17: 70)
Ikhwah fillah, di muqaddimah jalasah ini tadi telah saya bacakan ayat yang sangat masyhur dan sering dinukil dari surat Al-Isra’. Dalam ayat ini terlihat betapa Allah SWT secara fitrah, kata orang Malaysia secara ‘semula jadi’, menciptakan manusia dalam kemuliaan : “وَلَقَدْ كَرَّمْنَا”. Akan tetapi kemuliaan ini adalah al-karamah bittakrim, kemuliaan karena dimuliakan dan bukannya al-karamah dzatiyah, kemuliaan an sich atau kemuliaan yang melekat dengan sendirinya.
Sebagai makhluk mulia manusia dikaruniai kemampuan lebih oleh Allah SWT. Inipun bukan karena usahanya sendiri, melainkan karena Allah SWT telah mempersiapkan seluruh ciptaan-Nya untuk manusia:
أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلَا هُدًى وَلَا كِتَابٍ مُنِيرٍ
“Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.” (QS. Luqman, 31: 20).
Semua yang ada di langit dan di bumi telah ditundukkan dan disiapkan-Nya untuk mendukung manusia menngimplementasikan kelebihan-kelebihan yang dimilikinya dan menerjemahkan bakat-bakat yang ada dalam dirinya, karena keseluruhan ciptaan Allah itu musakhar, yakni telah dipersiapkan untuk didayagunakan oleh manusia. Oleh sebab itulah frasa dalam ayat tersebut. “Walaqad karramnaa banii aadam” diikuti dengan frasa: “Wahamalnaahum fil barri wal bahri” sebagai simbol yang mewakili seluruh kemampuan rekayasa manusia dalam memanfaatkan al-kaun (universe). Manusia bisa membuat dan merekayasa kendaraan dan bahkan masalah kendaraan bisa menjadi ukuran prestise dan kehormatan seseorang.
Makhluk-makhluk selain manusia, yang ada di bumi ini berkendaraan hanya artifisial sifatnya. Gajah misalnya, ada yang bisa naik motor, tapi hanya artifisial yakni hanya di ruang lingkup sirkus saja. Demikian pula dengan monyet yang sudah dilatih untuk bisa naik sepeda atau mobil. Mereka hanya bisa beratraksi di dalam tenda sirkus, karena bila dilepas di jalan raya besar kemungkinannya akan semakin menimbulkan keruwetan dan kemacetan. Sementara manusia mampu merekayasa pendayagunaan potensi yang dipersiapkan oleh Allah untuk mendukung ta’yid dari Allah sehingga ia berkendaraan di darat, laut, udara dan angkasa luar.
Kemudian “warazaqnaahum minath thayyibaat”, artinya Allah memberi rizqi kepada manusia dari yang baik-baik saja. Bisa kita bandingkan misalnya dengan hewan ayam yang makan dari comberan dan cacing yang mendapatkan rizqi dari lumpur, sementara manusia hanya mengkonsumsi yang baik-baik.
Apalagi manusia dengan kelebihan akal dan fitrahnya mampu membuat hal-hal yang thayyibat menjadi tampil semakin lebih thayyib. Misalnya manusia merekayasa, mengolah masakan berjam-jam bahkan berhari-hari  agar tampil lezat dan prima seperti tomat yang diubah menjadi seperti bunga mawar untuk hiasan demikian pula cabe, timun dll, padahal untuk menghabiskan semua santapan tersebut mungkin hanya dibutuhkan waktu 1/4 atau 1/2 jam saja. Demikian juga gula-gula dan coklat yang dibuat dalam berbagai bentuk cetakan.
Selanjutnya dalam firman Allah SWT tersebut disebutkan,
وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلاً
“Kami utamakan / lebihkan manusia di antara makhluk-makhluk ciptaan-Nya”. Keutamaan ini juga karena tafdhil, dimuliakan oleh Allah, semata-mata al-fadhlu minallah, kemuliaan dan kelebihan dari sisi Allah bukan kemuliaan an sich atau kemuliaan yang dengan sendirinya. Lalu kemuliaan yang dimiliki manusia ini pun ‘alaa katsiirin mimman khalaqnaa tafdhila, di atas makhluk-makhluk ciptaan Allah yang lainnya. Ada mufassir yang mengatakan keutamaan manusia tersebut ‘alaa jama’il khalaiq, di atas semua makhluknya kecuali malaikat. Tetapi mufassir lainnya, mengatakan kelebihan dan keutamaan manusia juga di atas malaikat. Menurut sebagian mufassir tersebut malaikat masih mafdhul di bawah manusia, karena ia memang tidak memiliki syahwat sehingga bisa konsisten dalam kepatuhannya kepada Allah. Sementara manusia yang memiliki akal, bakat dan mampu mengendalikan syahwatnya ia bisa mencapai derajat melebihi malaikat karena walau pun memiliki syahwat ia tetap berjuang dengan iman dan akalnya untuk  konsisten di jalan-Nya. Namun bila manusia tidak mengoptimalkan takrim dan tafdhil dari Allah bahkan malah memperturutkan hawa nafsunya yang rendah, ia bisa meluncur ke derajat yang sangat rendah yakni lebih rendah dari binatang,
أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ  (الأعراف)
Mereka itu tak ubahnya seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi.

Bila manusia-manusia yang bertaqwa tidak melepaskan diri dari takrim dan tafdhil, ia bisa dianggap melebihi malaikat. Buktinya ada malaikat yang ditugaskan Allah menjaga dan memberinya rizqi serta mencatat segala amal perbuatannya, seolah-olah mereka pelayan manusia. Bahkan secara tidak langsung Allah mempersiapkan malaikat menjaga manusia tidur, karena bayangkan saja bila manusia tidur tidak dijaga malaikat maka segala binatang seperti semut bisa memasuki lubang hidung, mulut dan lainnya.
Berkat penjagaan / ri’ayah Allah melalui malaikat-malaikat  maka orang tidur bisa aman. Begitu pula bila ada bayi atau anak kecil yang jatuh dari ranjang tetapi tidak cidera, orang-orang tua kita biasa berucap, “Wah anak kecil nggak punya dosa jadi masih selalu dilindungi dan dijaga oleh malaikat”. Atau ketika ia menatap terus ke atas dan berkata “aaah” dikomentari orang-orang tua, “Wah dia lagi ngelihat dan ngobrol dengan malaikat”. Wallahu a’lam hadza minal ghaibiyat.
Ditilik dari sudut tafsir yang manapun, tetap saja dapat disimpulkan manusia adalah makhluk termulia di sisi Allah SWT. Takrim dan tafdhil dari Allah tersebut terkait dengan kemanusiaannya dan takrim serta tafdhil tersebut tentu saja akan meningkat bila kemanusiaan tersebut ditambah dengan aspek keislamannya. Apalagi bila dilengkapi dengan aspek keda’wahan dan kejama’ahannya. Seyogyanyalah ada nilai plus atau nilai lebih dari sekedar nilai kemanusiaan atau bahkan dari keislaman. Kita harus menampilkan diri sebagai syakhsiyah mukarramah (pribadi yang mulia) atau syakhsiyah mufadhalah (pribadi yang utama) demikian pula dengan jama’ah mukarramah dan jama’ah yang mufadhalah. Hal itu insya Allah bukan perwujudan sifat riya’, sombong atau ghurur melainkan lebih sebagai konsekuensi dari takrim dan tafdhil yang diberikan Allah. Kita harus benar-benar menjaga, memelihara dan menunjukkan karunia yang diberikan Allah tersebut.
Ikhwah fillah, sekali lagi saya tekankan bahwa kita sebagai da’i berkewajiban meng’izharkan, mengekspresikan, merealisir karamah basyariyah (kemuliaan kemanusiaan) dan fadhail basyariyah (keutamaan kemanusiaan) agar benar-benar nampak kehormatan, kelebihan dan keutamaan manusia sebagai makhluk yang mukarramah dan fadhailah. Bukankah rasulullah SAW juga bersabda, “Innama bu’itstu liutammima makarimal akhlaq” (Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq manusia)?
Jadi kita tidak mungkin menampilkan takrim dari Allah tanpa kita memiliki akhlaqul karimah. Dan kita juga tidak mungkin merefleksikan dan merealisir tafdhil Allah dalam kehidupan kita bila kita tidak produktif dalam fadhail amal. Hal tersebut harus benar-benar kita camkan dan upayakan,  karena bila kita lalai—na’udzubilah, kita akan meluncur jatuh bukan saja dari kejama’ahan, keda’ian dan keislaman, melainkan bisa pula meluncur jatuh dari kemanusiaannya menjadi seperti hewan atau bahkan lebih buruk lagi dari hewan.
أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ  (الأعراف)
Ayat tersebut sering dilewati begitu saja dalam membacanya, sehingga kadang-kadang kebanggaan kita akan status sebagai makhluk mulia hanyalah kebanggaan semu belaka.
Sebagai da’i sudah tentu tugas kita adalah mambuktikan takrim dan tafdhil dari Allah serta tidak berhenti pada kebanggaan semu saja, hal itu dilakukan dengan cara melahirkan makarimul akhlaq dan fadhail amal dari diri kita.
Prioritas kita untuk senantiasa merefleksikan takrim dan tafdhil dari Allah dengan cara memegang teguh makarimul akhlaq dan fadhail amal adalah dalam rangka itsbatul wujud atau membuktikan eksistensi kita sebagai manusia, sebagai muslim, sebagai da’i dan sebagai jama’ah dakwah. Karena bila eksistensi kita tidak terkait dengan hal itu, kita akan dihinakan oleh Allah SWT.
Dalam do’a qunut setiap witir kita berdo’a, “Allahummahdinii fiman hadait, wa ‘afinii fiman ‘afait, watawallanii fiman tawallait wa barik lii fii ma a’thait waqinii syarra ma qadhait walaa ya’izzu man ‘adait walaa yadzillu man wallait”. Dua kalimat ini sarat dengan makna, jika kita mu’adatillah, memusuhi Allah, wali-wali Allah dan program-program Allah, maka kita tidak akan memiliki izzah, gengsi atau harga diri, jangankan sebagai da’i, sebagai manusia saja tidak (walaa ya’izzu man ‘adait).
Kemudian walaa yadzillu man wallait, tidak akan dihinakan siapa saja yang memiliki wala’ (loyalitas) kepada Allah. Sehingga betapapun ekonomi kita lagi morat-marit dan kedudukan secara sosial, politik serta ekonomi dianggap rendah oleh orang lain, kita tidak mungkin hina dan dihinakan selama wala’ kita utuh.
إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ (المائدة)
Allah menegaskan walaa yadzillu, tidak mungkin hina karena izzah kita terkait dengan a’azzul a’azz, dzat yang paling mulia, aziz di atas segala yang mulia. Jadi izzah, gengsi kita terkait dengan izzah, gengsi Allah SWT.
Oleh karena itu dalam konsep Islam, wala’ terkait erat dan langsung dengan izzah. Merosotnya wala’ akan menyebabkan merosotnya pula izzah. Dahulu dalam madah tamhidiyah, saya qarinahkan di antara dua ayat yakni antara innama waliyyukumallahu wa rasuul walladzina amanu dan kemudian refleksi atau implementasinya nampak dalam ayat wa ‘athiullah, wa ‘athiurrasul wa ulil amri minkum. Wala’ kita kepada walladzina amanu dan taat kita kepada ulil amri minkum hanya melekat sepanjang orang-orang yang beriman dan pemimpin-pemimpin tersebut berada di jalur ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Kemudian wala’ (loyalitas) yang kita miliki juga terkait dengan aziz dan dzalilnya  kita. Jika wala’ kita kepada Allah, rasul dan ulil amri minkum meningkat maka izzah kitapun meningkat. Namun bila wala’ kita menurun maka—na’dzubillah, kitapun akan meluncur ke lembah kedzalilan, kehinaan. Hal itu saya gambarkan dalam madah tamhidiyah dengan satu kalimat: abdul azizi azizun, abdul dzalili dzalilun, abdul karimi karimun dst.
Kalimat singkat tersebut di atas mencerminkan refleksi asma’ul husna dan ash-shifatul ulyanya atas diri kita. Rasulullah SAW memang menganjurkan agar kita memiliki sifat-sifat sebagaimana sifat-sifat yang dimiliki Allah. Bukan berarti menyamai-Nya, melainkan bagaimana caranya keagungan sifat-sifat Allah tersebut terefleksi atau terimbas ke dalam diri kita sesuai dengan kadar kemampuan kita.
Allah SWT menurunkan konsepnya berupa Al-Qur’an untuk menjaga kemuliaan kita, oleh sebab itu banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang diungkapkan dengan kata dzikr, misalnya dalam QS. 43 ayat 44:
وَإِنَّهُ لَذِكْرٌ لَكَ وَلِقَوْمِكَ وَسَوْفَ تُسْأَلونَ (الزخرف)
Dan sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar adalah suatu kemuliaan / kehormatan besar bagimu dan bagi kaummu dan kelak kamu akan dimintai pertanggungjawaban.

Artinya kehormatan dan kemuliaan diri kita sangat terkait dengan komitmen kita terhadap Islam, da’wah dan Qur’an itu sendiri. Dalam Al-Qur’an kata dzikr memiliki dua makna yakni bisa berarti peringatan bagi orang yang lalai, namun bagi mu’min kata dzikr berarti penghormatan baginya. Karena itu disebutkan dzikrun lidzakirin, kehormatan adalah untuk orang-orang yang selalu berkomunikasi dengan Allah SWT. Bahkan dalam surat Shaad (38) ayat 1:
ص وَالْقُرْآنِ ذِي الذِّكْرِ
Saad, demi Al-Qur’an yang mempunyai keagungan. Para mufassirin menyebutkan bahwa wal qur’aani dzil dzikir adalah lisharfin wa karamatin wa hurmatin artinya Qur’an memiliki sharf-sharf, dengan derajat-derajat / tingkat-tingkat kehormatan. Bila seseorang lulus ujian doktor dengan predikat cum laude hal itu disebut sharf dan bila lulusnya lebih bagus lagi disebut summa cum laude itu sepadan dengan karamah. Akhirnya bila lulusnya lebih gemilang lagi disebut magna cum laude itu sepadan dengan hurmah.
Jadi jelaslah bagi kita bahwa sharf, karamah dan hurmah kita terkait erat dengan Al-Qur’an untuk menjaga takrim dan tafdhil dari Allah SWT. Bila kita tidak bisa menjaga takrim dan tafdhil dari Allah dan mendapatkan sharf, karamah dan hurmah karena komitmen kita dengan Al-Qur’an, apa bedanya kita dengan “ammatinnaas”, manusia kebanyakan atau manusia pada umumnya.
Ikhwah fillah, saya katakan kita ini tandzim nukhbawi (organisasi kader) artinya secara tandzim atau organisasi, jama’ah kita adalah jama’ah kader yang terbukti dengan adanya detail-detail perangkat tarbawi dengan segala tahapannya. Seseorang harus melalui berbagai tahapan untuk bisa menjadi anggota dewasa atau mas’ul.
Tanggung jawab kita adalah menjaga kehormatan, kemuliaan dan kelebihan kita yang sudah dikaruniai Allah SWT. Alat untuk menjaga kemuliaan sudah pula diberikan Allah yakni berupa Al-Qur’an dan Islam itu sendiri. Refleksi secara moral adalah berupa keutuhan wala’ (loyalitas) kita kepada Allah, rasul dan ulil amri, sedangkan refleksi secara operasional adalah dalam bentuk taat kepada Allah, rasul dan ulil amri. Jika refleksi moral dan operasional tidak ada, maka na’udzubillah kita akan merosot dari izzah menjadi dzillah (hina). Itu merupakan satu kepastian. Memang refleksi moral dan operasional adalah sesuatu yang sangat mendasar dan penting serta perlu senantiasa diperteguh kembali karena faktor-faktor yang bisa melunturkan aqidah sangat banyak.
Hal yang sekarang ini saya khawatirkan adalah antum para mas’ulin (lapisan pemimpin) dalam jamaah terkena istiftan, fitnah karena sering tampil di mana-mana dan memperoleh kemasyhuran di mimbar-mimbar khutbah, seminar, undangan-undangan yang berkelas nasional atau bahkan internasional. Kekhawatiran saya adalah jika kesemuanya itu kemudian akhirnya melunturkan refleksi moral sumber kehormatan kita yakni wala’ (loyalitas) dan refleksi operasionalnya berupa taat, sehingga akhirnya menyebabkan meluncurnya antum di bawah kehormatan sebagai manusia.
Fitnah tersebut biasa disebut fitnah ‘alal kibar atau fitnah yang menimpa orang-orang besar dan memiliki posisi. Padahal sekali lagi saya tekankan, Allah SWT telah memberikan kehormatan yang begitu besar kepada manusia seperti tergambar dalam adegan ketika Rasulullah seolah-olah berdialog dengan ka’bah. Inti dialog Rasulullah dengan ka’bah ialah pengakuan beliau tentang kehormatan dan kemuliaan yang dimiliki ka’bah sebagai baitullah, tetapi kemudian beliau bersumpah: “Wallahi lahurmatul mu’min a’zhamu ‘indallahi hurmatan minki”. Rasulullah menegaskan bahwa kehormatan seorang mu’min lebih agung dan lebih besar di sisi Allah dibandingkan dengan kehormatan ka’bah. Padahal bayangkan setiap tahunnya dua juta orang berkeliling thawaf di musim haji dan setiap hari kurang lebih 1,4 milyar muslim sujud menghadap kiblat atau paling tidak mengakui ka’bah sebagai kiblatnya.
Oleh sebab itu kehormatan yang diberikan Allah SWT jangan kita sia-siakan bahkan hendaknya selalu kita jaga dan tingkatkan agar kita lebih dekat dengan-Nya (aqrab ilallah). Kedekatan kita dengan Allah Yang Mulia akan membuat kita menjadi mulia pula, abdul karim karimun (hamba Yang Mulia akan mulia pula).
Dalam kitab tafsir Al-Qur’an, para ulama tafsir menyebutkan bahwa puncak kemuliaan seorang manusia ditunjukkan justru dalam posisi kehambaannya, sebagai abdun.
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Di ayat tersebut Rasulullah disebutkan dengan bi’abdihi dan bukan birasulihi atau bimuhammadin, karena manzilatil ulya’ indallah justru adalah manzilah ‘ubudiyah.
Manazilatul ‘ubudiyah adalah manzilatul ‘ulya dan akramuhum ‘azhomuhum lillah atau yang paling mulia adalah yang paling tinggi nilai ‘ubudiyahnya kepada Allah. Hal tersebut merupakan persoalan aqidah yang sangat mendasar sehingga menjadi sumber ya’ tazzu bi-imanihi, bi-islamihi, bida’ watihi, bijihadihi (kebanggaan akan keimanan, keislaman, da’wah dan perjuanganya).
Hal ini penting saya tekankan mengingat saat ini masih banyak orang yang berebut mencari eksistensi diri dan golongannya melalui beraneka ragam manuver. Mereka saling berebut kedudukan yang sebetulnya sudah lapuk dan sebentar lagi akan hancur.
إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقاً  (الاسراء: من الآية81)
Padahal untuk mencari itsbatul wujud, tahqiqu dzat atau eksistensi diri, manusia harus kembali pada hal yang sangat elementer atau mendasar, yakni prinsip-prinsip aqidah.
Ikhwah fillah, Allah SWT banyak memperingatkan kita tentang sumber kemuliaan di dalam Al-Qur’an. Misalnya di dalam QS. 49:13,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوباً وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ (الحجرات)
Juga di dalam hadits yang diriwayatkan Imam Malik dalam kitab Al-Muwatha di bab jihad disebutkan: ‘Karamul mu’minin taqwahum wa dienuhu nasabuhu’. (Kemuliaan seorang mu’min terletak pada ketaqwaannya dan dien / agamanya adalah nasabnya).
Orang pada umumnya suka membanggakan asal usul keturunannya, misalnya berdarah biru atau keturunan bangsawan. Di Banten umpamanya dipanggil dengan Tubagus dan di Jawa dengan Den Mas (dari raden mas) atau Gus. Padahal Rasulullah bersabda bahwa kebanggaan kita akan nasab atau keturunan haruslah terkait dengan sejauh mana intima’ (komitmen) diri kita, orang tua dan nenek moyang kita terhadap Islam. Kemudian dilanjutkan hadits tersebut disebutkan juga ‘wa muru’atuhu khulquhu’ (harga dirinya terletak pada akhlaknya). Tinggi rendahnya harga diri seseorang ditentukan oleh tinggi rendahnya akhlaknya.
Ikhwah Fillah, jika kita gegabah atau melalaikan nilai-nilai elementer aqidah yang implementasi moralnya berupa keutuhan wala’ pada Allah, Rasul dan orang-orang beriman serta implementasi operasionalnya berupa keutuhan ketaatan kepada Allah, Rasul dan pemimpin mu’min, maka na’udzubillah kita dapat dimusnahkanNya dan digantikannya dengan kaum yang lain yang sesuai dengan kehendakNya (QS. 5:54),
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (المائدة)
Dalam QS. Al-Faathir ayat 15-17 Allah berfirman,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ. إِنْ يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيدٍ. وَمَا ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ بِعَزِيزٍ  (فاطر)

Hai manusia kamulah yang membutuhkan Allah, dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. Jika Dia menghendaki niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu). Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah.
Wahai umat  manusia kalian semua fuqara ilallah dan Allah-lah Yang Maha Kaya lagi Terpuji. Kata fuqara ilallah menunjukkan ketergantungan total manusia pada Allah. Untuk sekadar bisa bernafas saja kita sudah bergantung pada Allah. Kalau bukan Dia siapa yang bisa menjamin zat asam (O2) secara gratis kita hisap. Jangankan dicabut, sekadar dikurangi atau ditambah sedikit saja kadar kepekatannya sudah sangat berbahaya. Bila kadar zat asam di udara di tambah, paru-paru kita akan kebakaran.
Ketergantungan lainnya misalnya ketika kita tidur selain dijaga oleh malaikat dari serangga-serangga, ternyata di tubuh kita juga terjadi proses alamiah berupa keluarnya lendir-lendir yang menjijikkan namun berguna untuk mencegah serangga masuk ke lubang-lubang tubuh kita. Saya pernah membaca di dalam kitab Ath-Thibb Mihrabul Iman (Kedokteran adalah pintu gerbang keimanan) bahwa segala sesuatu yang sepintas menjijikkan justru merupakan bagian dari takrim dan tafdhil Allah terhadap kita. Jadi di saat tidur pun kita benar-benar fuqara ilallah. Dialah yang telah melindungi kita dengan memberikan penjagaan berupa aparat ruhi ghaibi (malaikat) dan instrumen-instrumen alami berupa keluarnya lendir-lendir.
Oleh sebab itu dulu pernah saya kisahkan bagaimana seorang perampok bermaksud merampok seorang ulama di Syam. Saat itu sang ulama sedang shalat tahajud dan membaca ayat,
وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ. فَوَرَبِّ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ إِنَّهُ لَحَقٌّ مِثْلَ مَا أَنَّكُمْ تَنْطِقُونَ (الذريات:22-23)
Linggis perampok itu terjatuh dan ia terduduk lemas seraya berucap: “Ya Allah thalabtuhu fid dunya wa huwa fis sama” (Ya Allah saya mencari rizqi di dunia ternyata adanya di langit). Sang ulama mendengar suara linggis jatuh, keluar dan mendapati pencuri itu sedang menangis. Pencurinya diajaknya masuk, bahkan kemudian dibekali dan ternyata pada musim haji berikutnya ulama tersebut bertemu dengan mantan pencuri itu sedang thawaf. Ia benar-benar telah taubat.
Artinya yang terpenting adalah as-Sama’, kalaupun kita berusaha itu sekadar wasail (sarana) dan merupakan hakikat syari’at, namun hasilnya belum tentu, tergantung yang di langit. Kita wajib mencari, namun hasilnya kita serahkan kepada Allah.
Ali bin Abi Thalib pernah menasehati Hasan dan Husein bahwa rizki itu ada dua macam yakni rizqun tathlubuhu (rizki yang kamu cari) dan rizqun yathlubuka (rizki yang mencari kamu). Namun Sayyidina Ali tidak memisahkan kedua-duanya: rizqun tathlubuhu wa rizqun yathlubuka. Karena rizqi ingin cepat sampai ya tathlubuhu (dicari) karena kalau menunggu yang yathlubuhu, bisa-bisa datangnya agak lama.
Saya pernah membaca dalam kitab tentang sufi, di antaranya ada kisah orang yang ingin menguji Allah SWT, apa iya ada rizqun yathlubuka, rizki yang mencari dan menghampirimu. Akhirnya ia tidak mau kerja, tidak mau berusaha dan tidak berinteraksi dengan orang lain. Ia menyendiri di dalam gua di tengah hutan, ternyata lama-lama jatuh sakit dan mengerang-erang. Ada orang kampung sedang mencari kayu bakar mendengar suara mengerang-erang di dalam gua. Karena ia tidak berani masuk sendirian, ia memanggil orang-orang kampung lebih dulu. Maka masuklah orang-orang itu ke tengah gua, beramai-ramai. Melihat si sufi ini sakit dan kelaparan, mereka membuka nasi bekal kemudian menyuapi dan mengobatinya. Sambil disuap, si sufi tadi bergumam: “Shadaqallah warrasul”. Saya enggak nyari rizki, orang-orang datang ramai-ramai bawa timbel. Namun untungnya si sufi ini berpikir positif, wah tidak nyari saja dapat rizki, apalagi kalau saya mau usaha mencari.
Kesadaran ‘Antum fuqara ilallah’ ini harus tertanam di dalam diri kita di semua bidang kehidupan, agar kita tidak mengkambing hitamkan dakwah. Misalnya menyesal menjadi da’i atau berada di dalam harakah dakwah ini karena hidup miskin atau pas-pasan.
Padahal bila kita berhenti berdakwah juga belum tentu jadi kaya. Wa huwal ghaniyul hamid. Dan Dialah Yang Maha Kaya lagi Terpuji, karena Dialah yang benar-benar memiliki dan menguasai segala sesuatu. []


Sumber : http://intimagazine.wordpress.com/2011/03/14/menjaga-karamah-basyariyah/

Para Pengemban Amanah

Para Pengemban Amanah