Jama'ah Penuh Berkah

Tidak ada dakwah tanpa kepemimpinan. Kadar tsiqah antara qiyadah dan jundiyah menjadi penentu bagi sejauh mana kekuatan sistem jamaah, kemantapan langkah-langkahnya, keberhasilan dalam mewujudkan tujuan-tujuannya, dan kemampuannya dalam mengatasi berbagai tantangan dan kesulitan.

Pilar Da'wah

Mentoring adalah salah satu bagian dari pilar da'wah kita, dan anak muda adalah tonggak perjuangan)

Inilah Jalan Kami

Katakanlah: Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha suci Allah, dan aku tiada Termasuk orang-orang yang musyrik. (12:108)

Biduk Kebersamaan

Biduk kebersamaan kita terus berjalan. Dia telah menembus belukar, menaiki tebing, membelah laut. Sayatan luka, rasa sakit, air mata adalah bagian dari tabiat jalan yang sedang kita lalui. Dan kita tak pernah berhenti menyusurinya, mengikuti arus waktu yang juga tak pernah berhenti.

Bai'at adalah pintu perjuangan

Semua kesungguhan akan menjumpai hasilnya. Ini bukan kata mutiara, namun itulah kenyataannya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang diusahakan dengan sepenuh kesungguhan.

Tampilkan postingan dengan label Taujih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Taujih. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 November 2011

Kepahlawanan Harus Diintegrasikan Dalam Pendidikan Karakter


Jakarta (9/11) Nilai-nilai kepahlawanan, seperti nilai rela berkorban, cinta tanah air, kerja keras, keteladanan, kejujuran, demokratis, mandiri, dan bertanggung jawab harus diintegrasikan dalam pendidikan karakter. Setiap mata pelajaran di sekolah bisa menjadi sarana penanaman nilai-nilai kepahlawanan tersebut, terutama mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PPKn), Sejarah, Ilmu-ilmu sosial, dan Bahasa Indonesia. Melalui proses pembelajaran pada setiap mata pelajaran itulah, nilai-nilai tersebut bisa ditanamkan. Demikian disampaikan Anggota Komisi X DPR Raihan Iskandar di Jakarta, Rabu (9/11)

“Penanaman nilai-nilai inilah yang seharusnya menjadi model pendidikan di Indonesia. Pendidikan karakter melalui nilai-nilai tersebut seharusnya menjadi tujuan dari proses pembelajaran di sekolah-sekolah. Selama ini, pendidikan karakter seolah-olah hanya menjadi jargon semu pemerintah saja.” Ungkap Legislator PKS ini.

Kenyataannya, lanjut Raihan, pemerintah justru lebih memprioritaskan pada pencapaian aspek kognitif saja. Akibatnya, nilai-nilai kepahlawanan tersebut mengalami erosi dalam kehidupan masyarakat. Tidak ada lagi nilai-nilai keteladanan yang lahir dari pemimpin bangsa. Padahal, bangsa ini memiliki sejarah kepahlawanan yang gemilang yang patut diteladani oleh generasi sekarang. “Seharusnya, pendidikan karakter menjadi intisari dari sistem pendidikan nasional, sebagaimana tercantum dalam Pasal 3 Undang-Undang Sisdiknas Tahun 2003 yang menyatakan bahwa Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.” Jelasnya.

Oleh karena itu, Raihan mendesak Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengubah orientasi kebijakannya dari yang semula berorientasi pada pencapaian nilai berupa angka-angka menjadi pencapaian nilai-nilai berkarakter. Apalagi, sektor kebudayaan telah menjadi bagian yang terintegrasi dari sistem pendidikan nasional kita. “Momentum hari Pahlawan 10 November ini, seharusnya tidak hanya dijadikan seremoni dan jargon pemerintah belaka. Pemerintah harus betul-betul mengimplementasikan nilai-nilai karakter kepahlawanan tersebut dalam kebijakan sistem pendidikan nasional kita.” Tutup Anggota DPR dari Daerah Pemilihan Aceh I ini.

Sabtu, 04 Juni 2011

BERCENGKRAMA DENGAN ALLAH SWT

Bismillahirrahmanirrahim

Rekan-rekan yang saya hormati, Assalamu’alaikum wr. wb.

Ini adalah hari berikutnya dari hari-hari kita bertemu dan mengisi kehidupan bersama dengan tamu agung kita, bulan Ramadhan. Kemarin kita sudah membahas bagaimana bulan Ramadhan ini membuat kita menjadi rindu kepada Al Qur’an, rindu untuk kemudian membacanya, rindu untuk mempelajarinya, rindu untuk kemudian menyebarluaskannya. Tentu antara membaca dan menyebarluaskan ada sesuatu, fase itu yang disebut sebagai fase memahaminya untuk kemudian melaksanakannya. Karena memang, Rekan-rekan, anda sebagai kalangan profesional, anda pasti sangat menyadari dan mengetahui bahwa tidaklah mungkin, siapapun, apakah namanya para pakar, atau para praktisi, atau para aktivis, tidaklah mungkin mereka bisa meyakinkan publik tentang kebenaran nilai yang ia bawa, ia perjuangkan, tentang teori yang sedang mereka kaji, kalau mereka sendiri tidak mewujudkan nilai itu hadir, konkrit dalam dirinya. Untuk itulah karenanya salah satu yang menjadi sifat utama Rasulullah saw, beliau pernah dinyatakan oleh isteri tercinta beliau Aisyah r.a sebagai “Kana kuluquhu Al Qur’an”. Akhlaknya Rasulullah, etikanya Rasulullah adalah Al Qur’an itu sendiri. Sehingga sebagian ahli tafsir menyatakan bahwa Rasulullah adalah Al Qur’an yang berjalan.

Rekan-rekan, bagaimana menjadikan Al Qur’an sebagai sesuatu yang real, konkrit, hadir ditengah kita dan membuat kita menjadi memerlukan kepada Al Qur’an dan kemudian menjadikannya sebagai tangga-tangga berikutnya menuju kepada realisasi dari tujuan berpuasa, yaitu mewujudkan manusia yang unggul dan manusia yang bertaqwa itu. Salah satu diantara hal yang harus kita pertimbangkan adalah terkait dengan adab-adab berinteraksi dengan Al Qur’an, etika berinteraksi dengan Al Qur’an. Dalam kitab-kitab kuning disebutkan “Adab hamalat fi Al Qur’an” atau etika berkomunikasi, berinteraksi dengan Al qur’an oleh mereka-mereka yang concern betul dengan nilai-nilai Al Qur’an.

Rekan-rekan, kalau kita membaca kitab-kitab kuning yang jadi tradisi di kalangan pesantren dan/atau kitab kuning itu sudah dicetak juga dalam cetakan yang baru sehingga disebut juga sebagai kitab yang putih yang bisa kita rujuk sebagai etika berkomunikasi berinteraksi membaca Al Qur’an. Etika yang pertama menurut para ulama, ahli tafsir, termasuk yang disampaikan juga oleh Imam Al Qurtubi, Imam Ibnu Taimiyyah, maupun ulama-ulama kontemporer yang lain seperti Sayyid Qutub, maupun juga Hasan Al Banna, mereka mengatakan bahwa diantara etika yang penting adalah pertama, keyakinan dan kesadaran bahwa Al Qur’an itu sesungguhnya adalah memang dulu diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, tetapi sekarang ia anda baca. Karenanya, yakinilah, pahamilah bahwa Al Qur’an itu memang sedang mengajak anda berbicara. Al Qur’an sedang mengajak anda berdialog. Al Qur’an diturunkan kepada anda. Yakinilah bahwa seolah-olah di dunia ini hanya ada anda sendiri dan karenanya seolah-olah Al Qur’an hanya diturunkan kepada anda saja, seolah-olah Al qur’an hanya mengajak anda saja yang diajak untuk berbicara.

Rekan-rekan, kalau kesadaran ini hadir, kalau kesadaran ini bisa kita munculkan, luar biasa maknanya. Bisa anda bayangkan dari sekian ratus juta, atau sekian milyar umat Islam di dunia, anda merasa bahwa Al Qur’an ini hanya berbicara kepada anda saja. Padahal Al Qur’an ini adalah sesuatu yang muncul, dimunculkan bersumberkan Allah, zat yang Maha Kasih, Maha Sayang, Maha Tahu, Maha Bijak, Maha Kaya, Maha Berkuasa, Maha sumber dari segala kebaikan. Anda bisa bayangkan, jangankan dengan sosok yang begitu bermaha dalam segala kebaikannya, kalau saja anda dalam perusahaan anda, atau di kampus anda, atau dimana saja, kalau anda diajak berbicara sendirian saja oleh mungkin atasan anda, mungkin suami atau isteri anda, mungkin tokoh yang anda idolakan, pasti anda sangat berbunga-bunga. Pasti anda akan mencatatnya sebagai peristiwa yang luar biasa menariknya, luar biasa pentingnya. Pasti akan anda jadikan peristiwa itu sesuatu yang membekas dalam diri anda. Anda akan siapkan diri bertemu dengan sosok agung ini dan kemudian anda akan berkonsentrasi mendengarkan apa yang dikatakan oleh tokoh yang anda idolakan itu, atau anda hormati itu, dan pasti anda akan dengar dengan baik-baik, pahami dengan baik-baik, anda akan catat dengan baik-baik untuk kemudian anda akan laksanakan dengan semaksimal kemampuan yang anda miliki. 

Anda pasti akan merasa sangat bersalah, sangat menyakiti kepada orang yang anda tokohkan bila anda tidak melaksanakan apa yang disampaikan oleh sang tokoh yang anda idolakan itu. Anda justru akan semakin merasa bangga, akan semakin merasa dekat dan cinta dengan yang anda tokohkan itu ketika anda bisa melaksanakan apa yang dinyatakan, disampaikan, dinasehatkan atau diberikan masukan oleh tokoh yang anda idolakan itu. 

Manusiawi saja, karena begitulah memang sifat kemanusiaan kita. Dan bandingkan, kiaskan saja, analogkan saja  sekarang yang mengajak anda berbicara bukan sekedar tokoh yang idola, yang mungkin hari ini idola besok mungkin sudah menjadi tidak lagi anda idolakan karena mungkin dia berobah, yang bukan hanya tokoh yang mencintai anda sesaat saja, bukan hanya tokoh yang hanya berkuasa hanya sementara saja atau pengetahuannya hanya terbatas saja. Ini yang mengajak anda berbicara secara pribadi, secara spesifik adalah tokoh Allah SWT, zat yang maha segala kebaikan. Luar biasa. Kalau ini bisa kita hadirkan dalam semangat kehidupan kita sesungguhnya kita sedang menyiapkan diri untuk meretas jalan menjadi “Khairukum man ta’allamal Qur’ana wa allamahum”, yang paling baik dari anda semuanya adalah mereka yang selalu membaca Al Qur’an, mempelajari Al Qur’an dan kemudian mengajarkannya kepada orang lain. 

Hari-hari ini adalah hari-hari dimana kita mempunyai kesempatan yang sangat luas untuk berdialog sendirian, atau merasa hanya kepada kita saja Allah sedang berbicara. Selamat berkasi-kasihan dengan Allah SWT, selamat berdialog berduaan saja dengan Allah SWT, dengan anda membaca Al Qur’an. Kita bertemu besok pada kesempatan yang sama.

Wassalamu’alaikum wr.wb.    

Sumber: http://hidayatnurwahid.blogdetik.com/category/renungan/

Selasa, 12 April 2011

7 ARAHAN UST. HILMI AMINUDDIN


Situasi yang kita hadapi sekarang adalah mata rantai dari ujian-ujian dakwah sebelumnya. Adalah sunatullah bahwa akan ada terus rekayasa untuk mengkerdilkan dakwah. Namun yang penting adalah bagaimana kemampuan kita untuk membuktikan dengan kerja nyata.

Kita sebagai dai dan daiyah diperintahkan oleh Allah SWT jika menghadapi sesuatu yang sulit, yang menghimpit, cepat kembali kepada Allah (fafirruu ilallah..). Kemudian selesaikan dengan mentadabburi konsep Allah. “Afala yatadabbarunal Qur’an am ‘ala quluubin aqfaluha.”

Dari tadabur ayat-ayat Allah ini, maka dalam menghadapi berbagai masalah, ancaman dan makar, maka kita harus memiliki bekalan-bekalan yakni:

(1) Atsbatu mauqifan (menjadi orang yang paling teguh pendirian/paling kokoh sikapnya)

• At-Tsabat (keteguhan) adalah tsamratus shabr (buah dari kesabaran).
• Famaa wahanuu lima ashobahum fii sabiilillahi waaa dhoufu wamastakanuu…
• “…mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah. Allah menyukai orang-orang yang sabar…” (3:146)
• Keteguhan itu membuat kita tenang, rasional, obyektif dan mendatangkan kepercayaan Allah untuk memberikan kemenangan kepada kita.
• Keteguhan sikap kadang-kadang menimbulkan kekerasan oleh karenanya perlu diimbangi dengan yang kedua.

(2) Arhabu shadran (paling berlapang dada)

• Bukan paling banyak mengelus dada.
• Silakan bicara tetapi silakan buktikan.
• Jika tidak ada lapang dada akan timbul kekakuan.

(3) A’maqu fikran (pemikiran yang mendalam)

• Mendalami apa yang terjadi.
• Jangan terlarut pada fenomena, tetapi lihatlah ada apa di balik fenomena tsb.
• Ketika kita merespon pun akan objektif.
• Respon-respon kita objektif, terukur, mutawazin (seimbang).
• Pemikiran yang mendalam kadang-kadang membuat kita terjebak pada hal yang sektoral, maka harus segera diimbangi pula dengan yang bekal keempat:

(4) Ausa’u nazharan (pandangan yang luas)

• Temuan sektoral perlu dicari.

(5) Ansyathu amalan (paling giat dalam bekerja)

• Sambil merespon sesuai dengan kebutuhan tetap kita harus giat bekerja.
• Orang-orang tertentu saja yang menangani, selebihnya harus terus bergerak dalam kerangka amal jamai. Energi kita harus prioritas untuk membangun negeri.
• Bekerja untuk Indonesia di segala sektor, struktur sampai tingkat desa, dan kader-kader yang mendapat amanah di pemerintahan. Fokuskan semua bekerja.

(6) Ashlabu tanzhiman (paling kokoh strukturnya)

• Kita jamaah manusia, ada kekurangan, ada kesalahan. Kita harus rajin membersihkannya. Seorang muslim ibarat orang yang tinggal di pinggir sungai dan mandi lima kali sehari. Jika sudah begitu, pertanyaannya: “Masih adakah daki-daki kita?”
• Allah berfirman “wa qul jaal haq wa zahaqal bathil”. Secara fitrah jika al Haq muncul, maka kebatilan akan lenyap, oleh karena itu teruslah hadirkan al Haq dan mobilisir potensi kebaikan. Jika kita lengah mendzohirkan al-haq maka kebatilan yang tadinya marjinal akan tampil dan al-haq terbengkalai.
• Hidup berjamaah adalah untuk memobilisir potensi-potensi kebaikan.

(7) Aktsaru naf’an (paling banyak manfaatnya)

• Khoirunnas anfa’uhum linnas.
• Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.
• Buktikan bahwa jamaah ini banyak manfaatnya sehingga berhak mendatangkan pertolongan Allah dan pertolongan kaum Mukminin.

Jika tujuh hal itu dilakukan untuk menghadapi tantangan dan rekayasa, insya Allah dakwah ini akan semakin kokoh dan semakin diterima untuk menghadirkan kebajikan-kebajikan yang diharapkan oleh seluruh bangsa.

*Disampaikan dalam Acara DPW PKS Jabar di Lembang, 19 Maret 2011

FUTUR


“AKHI, dulu ana merasa semangat saat aktif dalam dakwah. Tapi belakangan rasanya semakin hambar. Ukhuwah makin kering. Bahkan ana melihat temyata ikhwah banyak pula yang aneh-aneh." Begitu keluh kesah seorang mad'u kepada murabbinya di suatu malam.

Sang murabbi hanya terdiam, mencoba terus menggali semua kecamuk dalam diri mad'unya. "Lalu, apa yang ingin antum lakukan setelah merasakan semua itu?" sahut sang murabbi setelah sesaat termenung.

“Ana ingin berhenti saja, keluar dari tarbiyah ini. Ana kecewa dengan perilaku beberapa ikhwah yang justru tidak islami. Juga dengan organisasi dakwah yang ana geluti; kaku dan sering mematikan potensi anggota-anggotanya. Bila begini terus, ana mendingan sendiri saja..." jawab mad'u itu.

Sang murabbi termenung kembali. Tidak tampak raut terkejut dari roman wajahnya. Sorot matanya tetap terlihat tenang, seakan jawaban itu memang sudah diketahuinya sejak awal.

"Akhi, bila suatu kali antum naik sebuah kapal mengarungi lautan luas. Kapal itu ternyata sudah amat bobrok. Layarnya banyak berlubang, kayunya banyak yang keropos bahkan kabinnya bau kotoran manusia. Lalu, apa yang akan antum lakukan untuk tetap sampai pada tujuan?", tanya sang murabbi dengan kiasan bermakna dalam.

Sang mad'u terdiam berpikir. Tak kuasa hatinya mendapat umpan balik sedemikian tajam melalui kiasan yang amat tepat.

"Apakah antum memilih untuk terjun ke laut dan berenang sampai tujuan?", sang murabbi mencoba memberi opsi.

"Bila antum terjun ke laut, sesaat antum akan merasa senang. Bebas dari bau kotoran manusia, merasakan kesegaran air laut, atau bebas bermain dengan ikan lumba-lumba. Tapi itu hanya sesaat. Berapa kekuatan antum untuk berenang hingga tujuan? Bagaimana bila ikan hiu datang? Darimana antum mendapat makan dan minum? Bila malam datang, bagaimana antum mengatasi hawa dingin?" serentetan pertanyaan dihamparkan di hadapan sang mad'u.

Tak ayal, sang mad'u menangis tersedu. Tak kuasa rasa hatinya menahan kegundahan sedemikian. Kekecewaannya kadung memuncak, namun sang murabbi yang dihormatinya justru tidak memberi jalan keluar yang sesuai dengan keinginannya.

“Akhi, apakah antum masih merasa bahwa jalan dakwah adalah jalan yang paling utama menuju ridho Allah?" Pertanyaan menohok ini menghujam jiwa sang mad'u. Ia hanya mengangguk.

"Bagaimana bila temyata mobil yang antum kendarai dalam menempuh jalan itu temyata mogok? Antum akan berjalan kaki meninggalkan mobil itu tergeletak di jalan, atau mencoba memperbaikinya?" tanya sang murabbi lagi.

Sang mad'u tetap terdiam dalam sesenggukan tangis perlahannya.

Tiba-tiba ia mengangkat tangannya, "Cukup akhi, cukup. Ana sadar. Maafkan ana. Ana akan tetap istiqamah. Ana berdakwah bukan untuk mendapat medali kehormatan. Atau agar setiap kata-kata ana diperhatikan..."

"Biarlah yang lain dengan urusan pribadi masing-masing. Biarlah ana tetap berjalan dalam dakwah. Dan hanya Allah saja yang akan membahagiakan ana kelak dengan janji-janji-Nya. Biarlah segala kepedihan yang ana rasakan jadi pelebur dosa-dosa ana", sang mad'u berazzam di hadapan murabbi yang semakin dihormatinya.

Sang murabbi tersenyum. "Akhi, jama'ah ini adalah jama'ah manusia. Mereka adalah kumpulan insan yang punya banyak kelemahan. Tapi dibalik kelemahan itu, masih amat banyak kebaikan yang mereka miliki. Mereka adalah pribadi-pribadi yang menyambut seruan Allah untuk berdakwah. Dengan begitu, mereka sedang berproses menjadi manusia terbaik pilihan Allah."

"Bila ada satu dua kelemahan dan kesalahan mereka, janganlah hal itu mendominasi perasaan antum. Sebagaimana Allah ta'ala menghapus dosa manusia dengan amal baik mereka, hapuslah kesalahan mereka di mata antum dengan kebaikan-kebaikan mereka terhadap dakwah selama ini. Karena di mata Allah, belum tentu antum lebih baik dari mereka."

"Futur, mundur, kecewa atau bahkan berpaling menjadi lawan bukanlah jalan yang masuk akal. Apabila setiap ketidak-sepakatan selalu disikapi dengan jalan itu; maka kapankah dakwah ini dapat berjalan dengan baik?" sambungnya panjang lebar.

"Kita bukan sekedar pengamat yang hanya bisa berkomentar. Atau hanya pandai menuding-nuding sebuah kesalahan. Kalau hanya itu, orang kafirpun bisa melakukannya. Tapi kita adalah da'i. Kita adalah khalifah. Kitalah yang diserahi amanat oleh Allah untuk membenahi masalah-masalah di muka bumi. Bukan hanya mengeksposnya, yang bisa jadi justru semakin memperuncing masalah."

"Jangan sampai, kita seperti menyiram bensin ke sebuah bara api. Bara yang tadinya kecil tak bernilai, bisa menjelma menjadi nyala api yang membakar apa saja. Termasuk kita sendiri!"

Sang mad'u termenung merenungi setiap kalimat murabbinya. Azzamnya memang kembali menguat. Namun ada satu hal tetap bergelayut dihatinya.

"Tapi bagaimana ana bisa memperbaiki organisasi dakwah dengan kapasitas ana yang lemah ini?" sebuah pertanyaan konstruktif akhirnya muncul juga.

"Siapa bilang kapasitas antum lemah? Apakah Allah mewahyukan begitu kepada antum? Semua manusia punya kapasitas yang berbeda. Namun tidak ada yang bisa menilai, bahwa yang satu lebih baik dari yang lain!", sahut sang murabbi.

"Bekerjalah dengan ikhlas. Berilah taushiah dalam kebenaran, kesabaran dan kasih sayang kepada semua ikhwah yang terlibat dalam organisasi itu. Karena peringatan selalu berguna bagi orang beriman. Bila ada sebuah isyu atau gosip, tutuplah telinga antum dan bertaubatlah. Singkirkan segala ghil antum terhadap saudara antum sendiri. Dengan itulah, Bilal yang mantan budak hina menemui kemuliaannya."

Suasana dialog itu mulai mencair. Semakin lama, pembicaraan melebar dengan akrabnya. Tak terasa, kokok ayam jantan memecah suasana. Sang mad'u bergegas mengambil wudhu untuk qiyamullail malam itu. Sang murabbi sibuk membangunkan beberapa mad'unya yang lain dari asyik tidurnya.

Malam itu, sang mad'u menyadari kekhilafannya. Ia bertekad untuk tetap berputar bersama jama'ah dalam mengarungi jalan dakwah. Pencerahan diperolehnya. Demikian juga yang kami harapkan dari Anda, pembaca...

Wallahu a'lam.

Selasa, 05 April 2011

ALLAH MENERIMA TAUBAT DAN MEMBERI PETUNJUK

Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah swt. Kita ucapkan
shalawat dan salam untuk junjungan kita Nabi Muhammad, juga untuk
segenap keluarga dan sahabatnya, serta siapa saja yang menyerukan
dakwahnya hingga hari kiamat.
A.mma ba'du. Assalamu 'alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.
Ikhwan sekalian, kajian kita telah sampai pada firman Allah swt.,
"Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, 'Sujudlah
kamu kepada Adam!' maka bersujudlah mereka kecuali iblis, ia enggan
dan takabur, dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir,"
(Al-Baqarah: 34) hingga akhir ayat, sampai pada firman Allah, "Mereka
kekal di dalamnya." (Al-Baqarah: 39) Saya sudah mengatakan bahwa
ada beberapa jenis makhluk: ada malaikat, jin, dan manusia. Malaikat
adalah salah satu makhluk Allah swt. yang mempunyai bentuk-bentuk
mulia seperti manusia dan sebagainya, yang tidak pernah keluar dari
ketaatan kepada Allah dan tidak pernah bermaksiat. Sebagian ulama
mengatakan, "Mereka makhluk dari cahaya." Pendapat ini sulit dicari
dalilnya. Yang benar, semacam apakah makhluk ini, hanya Allah yang
mengetahuinya.
Allah swt. telah menyerahkan tugas-tugas kepada mereka. Di antara
mereka ada yang menjadi utusan yang menghubungkan antara Allah
dan para rasul-Nya, ada penjaga neraka Jahanam, ada yang mengurus
masalah-masalah yang berkaitan dengan kematian, dan ada yang menjaga
manusia serta menulis amalnya. Banyak lagi tugas-tugas lainnya.
Jin juga makhluk yang hakikatnya hanya diketahui oleh Allah.
Mereka mendapat beban untuk melaksanakan hukum-hukum dan
mengikuti para rasul, sebagaimana yang disebutkan dalam surat Al-
Jin: "Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Qur'an yang menakjubkan.
(Yaitu) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami
beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan
seorang pun dengan Tuhan kami." (Al-Jin: 1-2) sampai firman Allah,
"Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang taat dan ada
(pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. Barangsiapa yang
taat maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus. Adapun
orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka
menjadi kayu api neraka Jahanam." (Al-jin: 14-15)
Ikhwan sekalian, dengan demikian kita mengetahui bahwa mereka
terkena perintah yang berkaitan dengan cabang-cabang syariah.
Adapun manusia adalah makhluk yang diciptakan Allah swt. dari
tanah liat kering dan di dalam dirinya Allah telah menyimpan berbagai
rahasia-Nya. Manusia pertama yang diciptakan Allah adalah Adam as.
Dari Adam inilah Hawa diciptakan. Dari keduanyalah seluruh anak
turun manusia berasal. "Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada
Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dari diri yang satu, dan
darinya Allah menciptakan istrinya, dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan
laki-laki dan perempuan yang banyak." (An-Nisa': 1)
Ini bukan hakikat mutlak yang harus dipahami, bahwa Hawa
diciptakan dari tulang rusuk Adam. Adapun riwayat yang menyatakan
bahwa wanita tercipta dari tulang rusuk yang bengkok bukanlah berarti
bahwa wanita benar-benar diciptakan dari tulang rusuk itu, melainkan
diciptakan seperti keadaan tulang rusuk yang bengkok, tidak lurus.
Jika Anda meluruskannya, ia akan patah dan jika Anda membiarkannya,
maka ia akan tetap pada kebengkokannya.
Adapun perkataan orang yang menyebutkan bahwa laki-laki mempunyai
duapuluh tiga tulang rusuk sedangkan wanita memiliki duapuluh
empat tulang rusuk, bukanlah perkataan yang benar.
Ikhwan sekalian, hubungan manusia dengan para malaikat diungkapkan
oleh ayat-ayat yang menjelaskan keistimewaan makhluk jenis
ini. Karakter istimewa yang dimiliki oleh para malaikat adalah bahwa
mereka, "Hamba-hamba yang dimuliakan." "...Yang tidak mendurhakai
Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya dan mengerjakan apa yang
diperintahkan."(At-Tabrim: 6)
Keistimewaan yang dimiliki oleh manusia adalah bahwa ia diberi
keinginan dan kemampuan untuk mengetahui dan menyingkap hal-hal
yang semula tidak diketahui, serta mengenal masalah-masalah yang
masih samar melalui penelitian. Adapun ilmu yang dimiliki oleh para
malaikat adalah pemberian dari sisi Allah yang Mahabijaksana lagi Maha
Mengetahui. Ia tidak mempunyai tugas untuk mencari ilmu sebagaimana
manusia. Sedangkan manusia hanya diajari prinsip-prinsip yang
bisa mengantarkannya kepada ilmu, pengetahuan, dan penelitian.
Keistimewaan jin adalah sifat membangkang, maksiat, iri, dan
dengki. Jin yang pertama kali adalah iblis yang diperintah Allah swt.
untuk bersujud kepada Adam, tetapi ia enggan, sombong, dan termasuk
dalam golongan orang-orang kafir.
Hubungan manusia dan jin adalah hubungan permusuhan. Telah
ditegaskan terjadinya permusuhan antara Iblis dan Adam serta cucucucunya.
"Iblis menjawab, 'Karena Engkau telah menghukum saya tersesat,
maka saya benar-benar akan (manghalang-halangi) mereka dari
jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka,
dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati
kebanyakan mereka bersyukur (taat).'" (Al-A'raf: 16-17) "...Dan saya
akan menyuruh mereka memotong (telinga-telinga binatang ternak),
lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan saya suruh mereka
(mengubah ciptaan Allah) lalu benar-benar mereka mengubahnya." (An-
Nisa': 119)
Allah telah mengingatkan Adam dan Hawa agar waspada dan jangan
sampai terperosok dalam perangkap-perangkap setan. "Maka kami
berkata, 'Hai Adam, sesungguhnya ini (Iblis) adalah musuh bagimu
dan bagi istrimu, maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan
kamu berdua dari surga yang menyebabkan kamu menjadi celaka."
(Tbaha: 117) Tetapi Iblis memanfaatkan kebaikan hati Adam yang menjadikannya
patuh kepada perintah Tuhannya. "Maka setan membujuk
keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya
telah merasakan buah kayu itu, tampaklah bagi keduanya auratauratnya,
dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga.
Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka, 'Bukankah Aku telah
melarang kalian berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepada
kalian, 'Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian
berdua?'"(Al-A 'rafi 22) Akhirnya Allah mengeluarkannya dari surga
dan mengujinya dengan ini. Kemudian Allah mengilhamkan kalimatkalimat
untuk sekedar diucapkan. "Keduanya berkata, ^a Tuhan kami,
kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak
mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami
termasuk orang-orang yang merugi." (Al-A'raf: 23) Maka Allah swt.
menerima taubatnya. "Kemudian Adam menerima beberapa kalimat
dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah
Maha Pene-rima taubat lagi Maha Penyayang." (Al-Baqarah: 37)
Ikhwan sekalian, ada sebuah kisah isdmewa bahwa setan pada hari
kiamat nanti berkhotbah di hadapan para penduduk neraka di atas
mimbar dari api. Ia berkata, "Sesungguhnya Allah telah menjanjikan
kepada kalian janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepada
kalian tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali ddak ada kekuasaan bagiku
terhadap kalian, melainkan sekedar aku menyeru kalian lalu kalian
mematuhi seruanku, oleh sebab itu, janganlah kalian mencerca aku,
akan tetapi cercalah diri kalian sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat
menolong kalian dan kalian sekali-kali tidak dapat pula menolongku.
Sesungguhnya Aku tidak membenarkan perbuatan kalian mempersekutukan
aku (dengan Allah) sejak dahulu." (Ibrahim: 22) Ia meninggalkan
pengikut-pengikut yang dulu membantunya. "(Bujukan orang-orang
munafik itu adalah) seperti (bujukan) setan ketika dia berkata kepada
manu-sia, 'Kafirlah kalian!' maka tatkala manusia itu telah kafir ia berkata,
'Sesungguhnya aku berlepas diri dari kalian karena sesungguhnya
aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam.'" (Al-Hasyr: 16)
Ikhwan sekalian, adapun mengenai jamiah yang darinya Adam dikeluarkan,
maka para ulama berbeda pendapat mengenai hakikatnya.
Apakah ia jannatul khuldi (surga abadi) ataukah jannatud dunya (kebun
dunia)? Sebagian mereka mengatakan, "Sesungguhnya ia adalah salah
satu kebun yang ada di dunia." Arti jannah di sini adalah kebun sebagaimana
dalam firman Allah swt., "Sesungguhnya Kami telah menguji
mereka (musyrikin Makkah) sebagaimana kami telah menguji pemilikpemilik
kebun (jannah)." (Al-Oalam: 17) Juga sebagaimana dalam firman
Allah swt., "Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu
memasuki kebun (jannah)mu 'Masya Allah' (sungguh atas kehendak
Allah)'." (Al-Kahfi: 39) Sebagian lain berpendapat bahwa jannah
tersebut adalah surga abadi, yaitu yang akan diberikan sebagai balasan
bagi orang-orang beriman. Alasan mereka adalah bahwa Al-Qur'an
sering menggunakan kata ini untuk menyebut surga akhirat. "Maka
sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kalian berdua dari surga
yang menyebabkan kalian menjadi celaka. Sesungguhnya kalian tidak
akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang. Dan sesungguhnya
kalian tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa
panas matahari di dalamnya." (Thaha: 117-119) Sifat-sifat seperti ini
merupakan karakter dari surga akhirat. Maksud yang tidak memerlukan
interpretasi itu lebih baik untuk dipakai daripada yang memerlukan
interpretasi.
Orang-orang yang memegang pendapat pertama mengatakan, "Di
surga tidak ada beban kewajiban, sedangkan surga ini (dalam kisah
Adam, edt) tidak demikian. Salah satu sifatnya yang lain adalah barangsiapa
telah memasukinya, ia tidak akan keluar darinya, sedangkan Adam
dikeluarkan darinya. Selain itu, surga tidak bisa dimasuki oleh Iblis,
sedangkan surga ini dimasuki oleh Iblis." Bagaimanapun, ini semua
adalah pendapat yang bisa jadi itulah yang dimaksudkan oleh Al-Qur'an.
Ikhwan sekalian, adapun mengenai kemaksiatan Adam, maka
dikatakan, bahwa kemaksiatan ini terjadi sebelum adanya taklif (pembebanan
kewajiban) atau sesudahnya. Selain itu, ia tidak dikatakan
bermaksiat, karena ia melakukannya dengan tidak sengaja tetapi karena
lupa. Hukuman yang ditimpakan kepadanya termasuk dalam kategori
kebaikan orang-orang yang baik dan keburukan orang-orang yang didekatkan
kepada Allah. Karena itu Allah berfirman, "Tuhannya memilihnya
maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk." (Thaha: 122)
Adapun kisah yang diriwayatkan, yang menyatakan bahwa setan
masuk ke dalam perut ular agar bisa mendekati Adam, ini merupakan
riwayat yang tidak mempunyai nilai sama sekali. Karena riwayat ini
tidak terdapat dalam Al-Qur'an maupun As-Sunah. Hubungan antara
setan dan manusia adalah hubungan nonfisik, sebagaimana hubungan
antara cahaya dengan apa yang disinarinya. Setan bisa melakukan
godaan-godaannya melalui hubungan semacam ini. "Sesungguhnya setan
itu berjalan pada diri anak Adam sebagaimana perjalanan darah, "
sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah saw.
Jika Anda membaca ayat-ayat dan merenungkan kandungannya,
niscaya Anda dapati bahwa masing-masing dari ketiga makhluk ini
mempunyai keistimewaan. Firman Allah swt., "Dan Dia mengajarkan
kepada Adam nama-nama (benda)" (Al-Baqarah: 31) menunjukkan
keistimewaan manusia dengan ilmunya.
Firman Allah, "Mereka berkata, 'Mahasuci Engkau tidak ada yang
kami ketahui selain dari apa yang Engkau ajarkan kepada kami." (Al-
Baqarah: 32) menunjukkan "keistimewaan" malaikat dengan ilmu yang
diberi langsung oleh Allah.
Sedangkan firman Allah, "Kecuali Iblis, dia enggan dan takabbur,
dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir." (Al-Baqarah:
34) menunjukkan "keistimewaan" jin yang senang membangkang,
dengki, dan iri.
Dalam firman Allah swt., "Dan janganlah kamu dekati pohon ini"
(Al-Baqarah: 35) dimulailah proses penghalalan dan pengharaman
sehingga Allah mengetahui —sedangkan Dia Maha Mengetahui—
siapakah yang melanggar perintah-Nya dan siapakah yang menaatinya.
"Supaya Dia menguji siapakah di antara kalian yang lebih baik amalnya."
(Al-Mulk: 2, Hud: 7)
Ikhwan sekalian, ada pendapat yang berkembang di kalangan para
penganut tasawuf mengenai taubat. Mereka mengatakan bahwa sumber
taubat adalah dari Allah, sedangkan taubat pada manusia hanya merupakan
indikasi lahir saja. Seorang hamba bertaubat dikarenakan Allah
mengarahkan taubat itu kepadanya. "Maka kelak Allah akan mendatangkan
suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun
mtncmt2i-Ny&." (Al-Maidah: 54) "Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan
(penerimaan taubat) mereka, hingga apa-bila bumi telah menjadi
sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah
sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa
tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja.
Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam
taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah yang Maha Penerima taubat lagi
Maha Penyayang."(At-Taubah: 11 S)
Ikhwan sekalian, hendaklah Anda masing-masing menguji dirinya
sendiri. Hendaklah ia berusaha mengetahui kedudukannya di sisi Allah
swt. Jika Anda merasakan banyak penyesalan terhadap berbagai perbuatan
jahat yang Anda lakukan, maka ketahuilah bahwa itu terjadi
karena kedekatan kedudukan Anda dengan Allah swt.. Jika melihat
ketidakpedulian di dalam diri Anda, maka ketahuilah bahwa itu disebabkan
oleh jauhnya Anda dari-Nya.
Wahai Akhi, hendaklah memohon taubat kepada Allah dengan tidak
henti-henti dan memohon kepada Allah agar mengaruniakan kelestarian
taufiq. Amin.
Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Sayidina
Muhammad, juga kepada segenap keluarga dan sahabatnya.

ALLAH LEBIH MENGETAHUI DI MANA DIA MENEMPATKAN TUGAS KERASULAN

Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah swt. Kita ucapkan
shalawat dan salam untuk junjungan kita Nabi Muhammad, juga untuk
segenap keluarga dan sahabatnya, serta siapa saja yang menyerukan
dakwahnya hingga hari kiamat.
Amma ba'du. Wahai Ikhwan yang mulia, saya sampaikan salam
penghormatan Islam, salam penghormatan dari sisi Allah yang baik
dan diberkati: assalamu 'alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.
Kita memohon kepada Allah swt. agar menjadikan kita semua
bertemu karena-Nya, tolong menolong dalam melaksanakan kebajikan
dan ketaqwaan, berlomba-lomba dalam mencintai-Nya dan mencintai
Rasul-Nya saw., serta beribadah kepada-Nya dengan aqidah yang
mantap, yang tidak goyah dan berubah.
Ikhwan sekalian, umat Islam ini, yang pernah mengalami kejayaan
cemerlang, sesungguhnya kejayaan yang diraihnya itu tidak lain berkat
kekuatan iman, kekokohan persatuan, kekompakan jiwa, dan kecintaannya
yang mendalam, yang telah merasuk ke relung hatinya di jalan
Allah, bukan lantaran sebab atau tujuan tertentu. Inilah cinta yang
telah memadukan hati dan menyatukan perasaan, sehingga menjadikan
kabilah-kabilah Islam yang bermacam-macam itu menjadi satu hati,
satu kaki, dan satu peraturan.
Itulah rahasia kemenangan mereka yang pertama, wahai Akhi. Itu
pulalah yang akan menjadi rahasia kemenangan mereka yang terakhir,
dengan izin Allah. Percayalah kepada saya, bahwa setiap kali saya berdiri
di hadapan Anda pada setiap pekan, saya menghirup perasaan yang
memenuhi jiwa dan meluap ke seluruh aspek kejiwaan. Kita memohon
kepada Allah swt. agar menjadikan kejayaan Islam terwujud melalui
tangan kalian, setelah sebelumnya kejayaan tersebut diwujudkannya
melalui tangan para salaf pendahulu Anda, bukan lantaran jumlah yang
banyak atau ilmu yang luas, tetapi berkat kekuatan iman yang telah
diciptakan Allah swt. pada hati siapa saja di antara hamba-hamba-Nya
yang Dia kehendaki.
Ikhwan sekalian, saya ingin menyampaikan satu kajian singkat
tentang sirah Rasulullah saw, sejak beliau dilahirkan hingga diutus
sebagai nabi. Saya akan menyampaikan periode pertama kehidupan
Rasulullah saw, ketika beliau masih berstatus sebagai manusia biasa,
belum melaksanakan tugas dakwah agung yang dengannya Allah memuliakan
beliau, tanggung jawabnya dibebankan kepada beliau, dan
dengannya beliau dilebihkan oleh Allah di atas semua manusia.
Saya tidak akan bercerita kepada Anda tentang seluruh peristiwa
yang terjadi dalam kehidupan Nabi saw. selama periode tersebut, karena
kita memang tidak akan mengupas sejarah secara mendetail dari satu
peristiwa ke peristiwa lain. Itu akan memerlukan waktu yang panjang.
Tetapi kita akan langsung menuju aspek-aspek menonjol yang bisa kita
ambil pelajarannya untuk kehidupan dan kebangkitan kita. Kajian ini
akan mendorong kita untuk mencari keterangan tentang poin-poin
utama dalam kehidupan Rasul saw. ketika itu, yaitu yang ada pada masa
kelahiran beliau atau sebelumnya.
Jika Anda memperhatikan periode ini, Anda mendapati bahwa
seluruh dunia pada masa itu membutuhkan risalah dan lelaki yang
dinantikan ini, khususnya ketika kegersangan ruhani, pemikiran, dan
agama meliputi seluruh dunia.
Keadaan manusia ketika itu, baik para penganut agama Yahudi,
Kristen, maupun penyembah berhala seperti orang-orang Persi dan Arab,
menganut agama-agama yang semrawut. Orang-orang Persia menyembah
api, sedangkan di kalangan mereka telah tumbuh paham-paham
yang keliru. Seluruh bangsa Arab menyembah batu-batu yang telah
mereka sematkan padanya sifat-sifat ketuhanan. Bangsa Romawi
membawa bendera agama Masehi (Kristen). Sedangkan bangsa Yahudi
terbagi menjadi beberapa kelompok kecil yang tersebar di kabilahkabilah
Arab dengan membawa agama dan keyakinan mereka.
Agama-agama tersebut keadaannya tidak stabil. Agama Kristen
yang dianut oleh orang-orang Romawi dikacaukan oleh perselisihanperselisihan
dan sekte-sekte yang menyempal dari agama Kristen kala
itu, yang satu menyalahkan, bahkan memerangi yang lain, sehingga
memecah persatuan mereka dan kebencian di antara mereka sangat
keras. Negara kadang-kadang membela satu sekte, dan pada waktu
yang lain membela sekte yang lain. Jadi, keyakinan tersebut tidak tertanam
kuat di dalam jiwa manusia.
Demikian halnya agama Yahudi. Ia tidak mempunyai satu pemikiran
yang universal, tetapi terbagi menjadi beberapa kabilah kecil dan lemah.
Perselisihan antara sekte-sekte tersebut dengan sekte-sekte Kristen juga
sangat nyata. Adapun bangsa Arab, di antara mereka ada yang tidak
percaya kepada berhala-berhala ini kecuali ketika meminta pertolongan
kepadanya untuk meraih ambisi-ambisi mereka. Tetapi ketika bertentangan
dengan keinginan dan kebiasaan mereka, maka mereka tidak
mau tunduk dan percaya kepadanya. Orang-orang semacam itu banyak
di kalangan mereka. Ada di antara mereka yang mencemoohkan berhala
dan sama sekali tidak mempercayainya. Di antara mereka ada yang
menyembah dan beriman kepadanya dengan keimanan yang menyebabkan
mereka sesat dan buta, dengan meyakini bahwa ia bisa mendekatkan
mereka kepada Allah. Jadi keyakinan kepada berhala ini
merupakan keyakinan warisan tradisi yang pada hakikatnya tidak
berakar dalam jiwa mereka.
Demikianlah, Ikhwan sekalian, kehidupan spiritual di masa itu
dalam keadaan kacau, guncang, dan tidak stabil, baik di kalangan bangsa
Persia, penganut agama Kristen, agama Yahudi, maupun di kalangan
bangsa Arab. Keadaan ini berlangsung cukup lama, sampai-sampai di
tengah-tengah manusia tersebar kasak-kusuk tentang kedatangan Rasulullah
saw. dan bahwa beliau akan diutus untuk seluruh umat manusia.
Orang-orang Yahudi dan Kristen berharap kiranya nabi tersebut datang
dari kalangan mereka. Sedangkan orang-orang Arab pun menyangka
bahwa beliau akan datang dari kalangan mereka, sampai-sampai Umayah
bin Abi Shalt berharap bahwa dirinya adalah nabi yang dinantikan
itu.
Pemikiran ini, Ikhwan sekalian, menjadikan banyak orang ber-harap
akan datangnya agama dan risalah baru. Anehnya, ketika Nabi saw.
datang kepada para pendeta Yahudi, mereka kafir kepada beliau lantaran
dengki dan iri. Anehnya pula, Umayah bin Abi Shalt menyombongkan
diri sehingga enggan beriman kepada beliau. Ia berkata, "Aku tidak
akan beriman kepada nabi selain dari Tsaqif." Setelah itu ia hidup berpindah-
pindah dari satu kabilah ke kabilah lain di lingkungan sukusuku
Arab. Kemudian ia kembali dan ingin masuk Islam. Saat itu ia
berlalu di hadapan para korban perang Badr. Ia diberitahu bahwa di
antara korban adalah Walid bin Mughirah dan Uqbah bin Rabi'ah. Ia
berkata, "Tidak ada gunanya hidup setelah mereka tiada." Kemudian
ia kembali sebelum masuk Islam, dan mati di luar agama Allah. "Maka
setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka
lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang
ingkar itu." (Al-Baqarah: 89)
Ikhwan sekalian, kembali kita melihat bahwa dunia sedang membutuhkan
kedatangan risalah Muhammad. Ketika Rasul saw. datang
dan menghadapi kehidupan baru ini, Allah swt. telah menyiapkan pernildran-
pemikiran dan suasana-suasana ruhani untuk beliau, sehingga
dunia menyambut kedatangan Nabi mulia ini dengan sambutan yang
baik. Peristiwa paling penting yang dijumpai oleh Nabi saw. pada awalawal
kehidupannya adalah, bahwa beliau kehilangan keluarganya satu
per satu. Ketika akan lahir ke dunia, ayahanda beliau telah mendahului
berpulang ke akhirat. Ketika menginjak usia enam tahun, ibunda beliau
menyusul kepergian ayahanda. Selang dua tahun kemudian, kakek beliau
pun menyusul keduanya. Akhirnya beliau diasuh oleh pamannya, Abu
Thalib.
Ikhwan sekalian, di sini terkandung hakikat kemuliaan bagi Nabi
saw. Allah telah menghendaki agar Nabi-Nya saw. tumbuh dalam asuhan
dan pengawasan-Nya, bukan di dalam asuhan dan pengawasan manusia.
Orang-orang yang melihat kehidupan fisik beliau, berpendapat bahwa
pendidikan beliau dalam keadaan demikian merupakan pertumbuhan
yang bebas, yang langsung berhadapan dengan kehidupan nyata. Allah
swt. hendak memberikan beban kepada beliau semenjak awal kehidupan
beliau hingga menjadi laki-laki sempurna, sehingga beliau tidak
mudah putus asa menghadapi penderitaan-penderitaan yang dialami
dalam kehidupan.
Nabi saw. menyaksikan peristiwa-peristiwa yang mempunyai
pengaruh nyata dalam kehidupan beliau. Di antaranya adalah kepergian
beliau ke Syam, tempat beliau melihat cakrawala yang lebih luas
daripada cakrawala Makkah. Beliau mendengar pengajaran dari para
pendeta. Tidak diragukan bahwa perjalanan ini mempunyai pengaruh
nyata dalam diri beliau. Pengetahuan beliau mengenai daerah-daerah
dan tipe-tipe manusia semakin bertambah. Ini merupakan wawasan
pelengkap bagi beliau dan tidak ada sesuatu yang menyempurnakan
wawasan seseorang seperti safar dan rihlah.
Peristiwa lain, Ikhwan sekalian, adalah bahwa beliau menghadiri
perang Fijar yang terjadi antara suku Quraisy dan suku Hawazin. Beliau
merasakan panasnya api peperangan ini bersama paman-paman beliau.
Beliau mengikuti perang ini dari awal hingga akhir dan beliau ikut serta
memanah bersama mereka. Diriwayatkan bahwa beliau saw. bersabda,
a s s t
f 3 * s 0 . s 3 s s , O s
0 s 0 & s s 3 s ^ s
° » t
"Aku pernah menghadiri perang Fijar bersama paman-pamanku.
Di situ aku ikut membidikkan anak panah."
Ini merupakan latihan dasar bagi beliau dalam rangka menghadapi
perjuangan bersama masyarakat di masa datang dalam kehidupannya.
Selain itu, beliau juga hadir dalam Hilful Fudhul, sebuah perjanjian
yang disepakati oleh orang-orang Quraisy yang menyatakan bahwa
mereka akan membela orang yang aazhalimi sekalipun tidak ada orang
yang mengajak mereka untuk itu, baik kezhaliman itu terjadi di Makkah
maupun di luar Makkah.
Diriwayatkan bahwa seseorang singgah di Makkah bersama anak
gadisnya yang cantik. Tiba-tiba anak gadisnya itu diambil oleh salah
seorang tokoh elit Quraisy. Maka orang itu berdiri sambil berteriak,
"Wahai yang menandatangani Hilful Fudhul, tolonglah!" Belum selesai
orang itu berteriak, orang-orang yang menandatangani Hilful Fudhul
berlompatan dengan membawa pedang mereka. Mereka mengatakan,
"Labaik, labaik!" Kemudian mereka berdiri di pintu rumah tokoh elit
Quraisy tersebut. Mereka berkata, "Keluarkan gadis itu, kalau tidak,
kami akan membunuh kalian." Maka ia pun mengeluarkannya.
Diriwayatkan pula bahwa 'Ash bin Wail As-Sahmi menunda-nunda
pembayaran utangnya kepada seseorang. Setelah orang itu merasa
kepayahan dan berputus asa terhadap urusan ini, ia berdiri di atas bukit
Abu Qubais. Ia meminta pertolongan dengan menyebut perjanjian Hilful
Fudhul. Kemudian para penandatangan perjanjian tersebut berkumpul
di rumah Ash bin Wail. Mereka tidak meninggalkannya sampai ia
melunasi utangnya kepada orang itu.
Diriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda mengenai Hilful Fudhul,
f ' ' O , > " s O * 0 }
^ 0 / f O * 9 Q t & \ '
t i O y
■ rV>t_w^l ^ AJ C~^0 J JJ 3j.LftL*J I LiU- Oifi
"Saya menyaksikan sebuah perjanjian di masa jahiliah, andaikata
saya diundang untuk mengadakannya di masa Islam, niscaya saya akan
memenuhi undangan itu. "
Wahai Akhi, peristiwa ini mempunyai kesan pada diri Rasulullah
saw, sampai-sampai beliau memujinya di masa Islam.
Kemudian, datanglah peristiwa pembangunan Ka'bah, yang orangorang
Quraisy mempercayai beliau saw. untuk memutuskan perselisihan
di antara mereka. Pada hakikatnya, ini merupakan akad penyerahan
kepemimpinan kepada Rasulullah saw, sekalipun dalam bentuk yang
tidak langsung. Pertumbuhan beliau saw. semenjak dilahirkan hingga
diutus sebagai Nabi, mempunyai beberapa keistimewaan yang menonjol.
Di sana beliau menjumpai banyak kesulitan, maka kehidupan beliau
bukanlah kehidupan yang santai dan mudah, melainkan sebuah kehidupan
yang keras. Di sana beliau memikul beratnya menghadapi kehidupan
secara langsung, tanpa kelembutan, kesenangan, apalagi kesantaian.
Beliau saw. menghadapi ini semua dengan sabar dan tabah. Itulah
"pendidikan tinggi" yang dikehendaki oleh Allah swt. atas beliau. Itulah
kehi-dupan istimewa, yang tak hanya berkutat pada permasalahanpermasalahan
sepele. Beliau tidak pernah bersujud kepada berhala,
tidak pernah minum khamr, tidak pernah bermain-main sebagaimana
anak-anak yang lain. Beliau tidak melakukan hal-hal sia-sia sebagaimana
umumnya mereka. Beliau saw. adalah pribadi yang bersih, terhindar
dari perkara-perkara sepele, dan hanya melakukan akhlak-akhlak mulia
dan perilaku-perilaku baik saja, sehingga masyarakat menyebut beliau
dengan julukan Al-Amin (yang dapat dipercaya).
Demikianlah Allah merriilih para rasul-Nya dan memilih siapa saja
di antara hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki. "Allah lebih mengetahui
di mana Dia menempatkan tugas kerasulan." (A.l~A.n'am: 124)
Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Sayidina
Muhammad, juga kepada segenap keluarga dan sahabatnya.

Minggu, 27 Maret 2011

Melalaikan Amanah VS Masuliyah

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad)
dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang
kamu mengetahui (Q.S. Al-Anfaal 27).

Sesungguhnya setiap kepemimpinan akan dimintai pertnggung jawabannya, Al isro:

Ayat di atas mengaitkan orang-orang beriman dengan amanah atau larangan berkhianat. Bahwa di
antara indikator keimanan seseorang adalah sejauh mana dia mampu melaksanakan amanah.
Demikian pula sebaliknya bahwa ciri khas orang munafik adalah khianat dan melalaikan amanah-amanahnya.
Amanah, dari satu sisi dapat diartikan dengan tugas, dan dari sisi lain diartikan
kredibilitas dalam menunaikan tugas. Sehingga amanah sering dihubungkan dengan kekuatan.
Firman Allah,
Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang
yang kuat lagi dapat dipercaya" (Q.S. Al-Qhashash 26).
Oleh karena itu wahai ikhwah, kuatkanlah keimanan dan ruhiyah kalian Kuatkanlah ilmu dan
tsaqafah kalian, serta kuatkanlah fisik dan segala sarana yang dapat digunakan untuk memikul
amanah. Dan Allah memerintahkan kepada kita untuk mempersiapkan segala bentuk kekuatan.
(Q.S. 8:60)

Ikhwan dan akhwat fillah!
Hidup ini tidak lain adalah sebuah safari atau perjalanan panjang dalam melaksanakan amanah dari
Allah. Dalam hidupnya manusia dibatasi oleh empat dimensi, bumi tempat beramal, waktu atau
umur sebagai sebuah kesempatan beramal, nilai Islam yang menjadi landasan amal dan potensi diri
sebagai modal beramal. Maka orang yang bijak adalah orang yang senantiasa mengukur
keterbatasan-keterbatasan dirinya untuk sebuah produktivitas yang tinggi dan hasil yang
membahagiakan. Orang-orang yang beriman adalah orang-orang yang senantiasa sadar bahwa
detik-detik hidupnya adalah karya dan amal shalih. Kehidupannya di dunia sangat terbatas sehingga
tidak akan disia-siakannya untuk hal-hal yang sepele, remeh, apalagi perbuatan yang dibenci
(makruh) dan haram.

Berkata Imam Syahid Hasan Al-Banna, Wahai Muslimun! Ibadah kalian kepada Rabb kalian,
jihad di jalan pengokohan agama kalian dan kemuliaan Syariat kalian adalah tugas kalian dalam
hidup. Jika kalian melaksanakannya dengan benar, maka kalianlah orang yang sukses. Jika kalian
melaksanakannya hanya sebagian atau melalaikan semuanya, maka aku sampaikan firman Allah
Taala,
Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main
(saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? (QS Al-Mu minun 115).
Dan amanah itu akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Pertanyaan akan ditujukan atas
amanah yang dibebankan kepada kita. Barang siapa yang menunaikan amanah sekecil apapun,
niscaya akan dilihat Allah. Dan barang siapa yang melalaikan amanah sekecil apapun niscaya akan
dilihat. Manusia tidak akan dapat lari dari tanggung jawab itu. Karena tempat yang ditinggali adalah
bumi Allah, umur yang dimiliki adalah ketentuan Allah, potensi yang ada adalah anugerah Allah
dan nilai Islam adalah tolak ukur dari pelaksanaan amanah tersebut. Kemudian mereka akan datang
menghadap Allah.
Oleh karena itu sekecil apapun amanah yang dilaksanakan akan memiliki dampak positif berupa
kebaikan. Dan sekecil apapun amanah yang disia-siakan, niscaya memiliki dampak negatif berupa
keburukan. Dampak itu bukan hanya mengenai dirinya tetapi juga mengenai umat manusia secara
umum.
Kesalahan kecil dalam menunaikan amanah seringkali menimbulkan bahaya yang fatal.
Bukankah terjadinya kecelakaan mobil ditabrak kereta, disebabkan hanya karena sopirnya lengah
atau sang penjaga pintu rel kereta tidak menutupnya? Bahaya yang lebih fatal lagi adalah jika
amanah dakwah tidak dilaksanakan sehingga hancunya tatanan jama’ah, kemaksiatan merebak, kematian hati, kerusakan moral dan tatanan sosial serta kepemimpinan di pegang oleh orang yang bodoh dan zhalim.
Ikhwan dan akhwat fillah!
Perjalanan dakwah telah menorehkan pengalaman betapa kesalahan dalam melaksanakan
amanah mengakibatkan kerugian dan musibah. Pada saat perang Uhud, Rasulullah saw.
memerintahkan satu pasukan pemanah untuk tetap berjaga di bukit Uhud dan tidak meninggalkan
pos itu. Tetapi, ketika tentara Islam sudah di ambang kemenangan, dan sebagian yang lain bersorak
sambil memunguti rampasan perang, maka pasukan pemanah pun tergoda dan ikut-ikutan
mengambil rampasan perang itu. Akhirnya pasukan kafir berhasil memukul mundur pasukan umat
Islam, dan rampasan perang raib dari tangan mereka. Lebih tragis dari itu adalah darah segar
berceceran dari muka Rasulullah saw, akibat amanah yang dilalaikan.
Harta, wanita dan kekuasaan memang merupakan sarana yang paling ampuh digunakan setan
untuk menggoda orang beriman agar melalaikan amanah, bahkan meninggalkannya sama sekali.
Betapa sebagian dai yang ketika tidak memiliki sarana harta yang cukup dan tidak ada kekuasaan
yang disandangnya, begitu istiqamah menjalankan amanah dakwah. Tetapi setelah dakwah
menghasilkan harta dan kekuasaan, amanah dakwah itu ditinggalkan atau bahkan berhenti dari jalan
dakwah dan futur dalam barisan jamaah dakwah!
Oleh karena ikhwah fillah satu hal yang bisa menyelamatkan diri kita dari tanggung jawab amanah ini adalah harus tertanam dalam diri kita”SYU’UR BIL MASULIYAH” perasaan yang diserta pemahaman yang benar tentang tanggung jawab, terlalaikannya amanah yang kita emban disebabkan kurangnya rasa tanggung jawab sehingga wadzifah menjadi suatu beban yang sangat berat dipikul karena merasa tidak memiliki tenaga yang cukup untuk memanggulnya,kenapa demikian? Setidaknya ada tiga hal penyebab kurangnya masuliyah:

Ikhwan dan akhwat fillah
Hidup adalah pilihan-pilihan. Dan pilihan melaksanakan amanah adalah konsekuensi sebagai
manusia, konsekuensi sebagai muslim dan konsekuensi sebagai dai. Oleh karenanya sandaran yang
paling baik adalah Allah, teman yang paling baik adalah orang-orang yang shalih dan kelompok
yang paling baik adalah jamaah Islam. Maka kuatkan hubungan dengan Allah dan tingkatkan
ukhuwah Islamiyah, niscaya kita akan sukses melaksanakan amanah itu, sebesar apapun. Marilah
kita melaksanakan amanah yang diberikan Allah kepada kita dengan penuh keikhlasan dan
kesungguhan. Marilah kita melaksanakan amanah yang dibebankan jamaah kepada kita dengan
penuh kesabaran dan lapang dada. Marilah kita melaksanakan amanah umat dengan penuh
keseriusan dan tanggung jawab. Dan semuanya akan ditanya, siapkah kita? Jika tidak, maka akan
terjadi kehancuran dan kerusakan.

Wallohu ‘alam
Kaderisasi Kota Banjar

Para Pengemban Amanah

Para Pengemban Amanah