Jama'ah Penuh Berkah

Tidak ada dakwah tanpa kepemimpinan. Kadar tsiqah antara qiyadah dan jundiyah menjadi penentu bagi sejauh mana kekuatan sistem jamaah, kemantapan langkah-langkahnya, keberhasilan dalam mewujudkan tujuan-tujuannya, dan kemampuannya dalam mengatasi berbagai tantangan dan kesulitan.

Pilar Da'wah

Mentoring adalah salah satu bagian dari pilar da'wah kita, dan anak muda adalah tonggak perjuangan)

Inilah Jalan Kami

Katakanlah: Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha suci Allah, dan aku tiada Termasuk orang-orang yang musyrik. (12:108)

Biduk Kebersamaan

Biduk kebersamaan kita terus berjalan. Dia telah menembus belukar, menaiki tebing, membelah laut. Sayatan luka, rasa sakit, air mata adalah bagian dari tabiat jalan yang sedang kita lalui. Dan kita tak pernah berhenti menyusurinya, mengikuti arus waktu yang juga tak pernah berhenti.

Bai'at adalah pintu perjuangan

Semua kesungguhan akan menjumpai hasilnya. Ini bukan kata mutiara, namun itulah kenyataannya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang diusahakan dengan sepenuh kesungguhan.

Tampilkan postingan dengan label Tafakur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tafakur. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 November 2011

Hati Menemukan Kedamaian dengan Mengingat Allah

Menurut penelitian oleh David B Larson dan timnya dari the American National Health Research Center [Pusat Penelitian Kesehatan Nasional Amerika], pembandingan antara orang Amerika yang taat dan yang tidak taat beragama telah menunjukkan hasil yang sangat mengejutkan. Sebagai contoh, dibandingkan mereka yang sedikit atau tidak memiliki keyakinan agama, orang yang taat beragama menderita penyakit jantung 60% lebih sedikit, tingkat bunuh diri 100% lebih rendah, menderita tekanan darah tinggi dengan tingkat yang jauh lebih rendah, dan angka perbandingan ini adalah 7:1 di antara para perokok. 1
Ibadah dan keimanan kepada Allah memiliki lebih banyak pengaruh baik pada kesehatan manusia daripada keimanan kepada apa pun yang lain.
Dalam sebuah pengkajian yang diterbitkan dalam International Journal of Psychiatry in Medicine, sebuah sumber ilmiah penting di dunia kedokteran, dilaporkan bahwa orang yang mengaku dirinya tidak berkeyakinan agama menjadi lebih sering sakit dan mempunyai masa hidup lebih pendek. Menurut hasil penelitian tersebut, mereka yang tidak beragama berpeluang dua kali lebih besar menderita penyakit usus-lambung daripada mereka yang beragama, dan tingkat kematian mereka akibat penyakit pernapasan 66% lebih tinggi daripada mereka yang beragama.
Para pakar psikologi yang sekuler cenderung merujuk angka-angka serupa sebagai "dampak kejiwaan". Ini berarti bahwa keyakinan agama meningkatkan semangat orang, dan hal ini berpengaruh baik pada kesehatan. Penjelasan ini mungkin sungguh beralasan, namun sebuah kesimpulan yang lebih mengejutkan muncul ketika orang-orang tersebut diperiksa. Keimanan kepada Allah jauh lebih kuat daripada pengaruh kejiwaan apa pun. Penelitian yang mencakup banyak segi tentang hubungan antara keyakinan agama dan kesehatan jasmani yang dilakukan oleh Dr. Herbert Benson dari Fakultas Kedokteran Harvard telah menghasilkan kesimpulan yang mencengangkan di bidang ini. Walaupun bukan seorang yang beragama, Dr. Benson telah menyimpulkan bahwa ibadah dan keimanan kepada Allah memiliki lebih banyak pengaruh baik pada kesehatan manusia daripada keimanan kepada apa pun yang lain. Benson menyatakan, dia telah menyimpulkan bahwa tidak ada keimanan yang dapat memberikan banyak kedamaian jiwa sebagaimana keimanan kepada Allah. 2
Apa yang mendasari adanya hubungan antara keimanan dan jiwa raga manusia ini? Kesimpulan yang dicapai oleh sang peneliti sekuler Benson adalah, dalam kata-katanya sendiri, bahwa jasmani dan ruhani manusia telah dikendalikan untuk percaya kepada Allah. 3
Kenyataan ini, yang oleh dunia kedokteran pelan-pelan telah mulai diterima, adalah sebuah rahasia yang dinyatakan dalam Al Qur'an dengan kalimat ini "...Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar Ra’d, 13:28). Alasan mengapa orang-orang yang beriman kepada Allah, yang berdoa dan berharap kepada-Nya, lebih sehat secara ruhani dan jasmani adalah karena mereka berperilaku sesuai dengan tujuan penciptaan mereka. Filsafat dan sistem yang tidak selaras dengan penciptaan manusia selalu mengarah pada penderitaan dan ketidakbahagiaan.
Kedokteran modern sekarang sedang mengarah menuju pemahaman tentang kebenaran ini. Seperti kata Patrick Glynn: "Penelitian ilmiah di bidang psikologi selama lebih dari 24 tahun silam telah menunjukkan bahwa, ... keyakinan agama adalah satu di antara sejumlah kaitan paling serasi dari keseluruhan kesehatan jiwa dan kebahagiaan." 4

http://www.harunyahya.com/indo/artikel/093.htm

1. Patrick Glynn, God: The Evidence, The Reconciliation of Faith and Reason in a Postsecular World (California: Prima Publishing: 1997), 80-81.
2. Herbert Benson, and Mark Stark, Timeless Healing (New York: Simon & Schuster: 1996), 203.
3. Ibid., 193.
4. Glynn, God: The Evidence, The Reconciliation of Faith and Reason in a Postsecular World, 60-61.

Selasa, 19 Juli 2011

Gairah Cinta dan Kelesuan Ukhuwwah

Mungkin terjadi seseorang yang dahulunya saling mencintai akhirnya saling
memusuhi dan sebaliknya yang sebelumnya saling bermusuhan akhirnya saling
berkasih sayang.
Sangat dalam pesan yang disampaikan Kanjeng Nabi SAW :
“Cintailah saudaramu secara proporsional, mungkin suatu masa ia akan menjadi orang
yang kau benci. Bencilah orang yang kau benci secara proporsional, mungkin suatu
masa ia akan menjadi kekasih yang kau cintai.” (HSR Tirmidzi, Baihaqi, Thabrani,
Daruquthni, Ibn Adi, Bukhari).
Ini dalam kaitan interpersonal. Dalam hubungan
kejamaahan, jangan ada reserve kecuali reserve syar’i yang menggariskan aqidah “La
tha’ata limakhluqin fi ma’shiati’l Khaliq”. Tidak boleh ada ketaatan kepada makhluq
dalam berma’siat kepada Alkhaliq. (HSR Bukhari, Muslim, Ahmad dan Hakim).
Doktrin ukhuwah dengan bingkai yang jelas telah menjadikan dirinya pengikat dalam
senang dan susah, dalam rela dan marah. Bingkai itu adalah : “Level terendah
ukhuwah (lower), jangan sampai merosot ke bawah garis rahabatus’ shadr (lapang
hati) dan batas tertinggi tidak (upper) tidak melampaui batas itsar (memprioritaskan
saudara diatas kepentingan diri).
Bagi kesejatian ukhuwah berlaku pesan mulia yang tak asing di telinga dan hati setiap
ikhwah : “Innahu in lam takun bihim falan yakuna bighoirihim, wa in lam yakunu bihi
fasayakununa bighoirihi” (Jika ia tidak bersama mereka, ia tak akan bersama selain
mereka. Dan mereka bila tidak bersamanya, akan bersama selain dia). Karenanya itu
semua akan terpenuhi bila ‘hati saling bertaut dalam ikatan aqidah’, ikatan yang
paling kokoh dan mahal. Dan ukhuwah adalah saudara iman sedang perpecahan
adalah saudara kekafiran (Risalah Ta’lim, rukun Ukhuwah).
Gairah Cinta dan Kelesuan Ukhuwah
Karena bersaudara di jalan ALLAH telah menjadi kepentingan dakwah-Nya, maka
“kerugian apapun” yang diderita saudara-saudara dalam iman dan da’wah, yang
ditimbulkan oleh kelesuan, permusuhan ataupun pengkhianatan oleh mereka yang tak
tahan beramal jama’i, akan mendapatkan ganti yang lebih baik. “Dan jika kamu
berpaling, maka ALLAH akan gantikan dengan kaum yang lain dan mereka tidak
akan jadi seperti kamu” (Qs. 47: 38).
Masing-masing kita punya pengalaman pribadi dalam da’wah ini. Ada yang sejak 20
tahun terakhir dalam kesibukan yang tinggi, tidak pernah terganggu oleh kunjungan
yang berbenturan dengan jadwal da’wah atau oleh urusan yang merugikan da’wah.
Mengapa ? Karena sejak awal yang bersangkutan telah tegar dalam mengutamakan
kepentingan da’-wah dan menepiskan kepentingan lainnya. Ini jauh dari fikiran nekad
yang membuat seorang melarikan diri dari tanggungjawab keluarga.
Ada seorang ikhwah sekarang sudah masuk jajaran masyaikh. Dia bercerita, ketika
menikah langsung berpisah dari kedua orang tua masing-masing, untuk belajar hidup
mandiri atau alasan lain, seperti mencari suasana yang kondusif bagi pemeliharaan
iman menurut persepsi mereka waktu itu. Mereka mengontrak rumah petak sederhana.
“Begitu harus berangkat (berdakwah-red) mendung menggantung di wajah
pengantinku tercinta”, tuturnya. Dia tidak keluar melepas sang suami tetapi menangis
sedih dan bingung, seakan doktrin da’wah telah mengelupas.
Kala itu jarang da’i dan
murabbi yang pulang malam apalagi petang hari, karena mereka biasa pulang pagi
hari. Perangpun mulai berkecamuk dihati, seperti Juraij sang abid yang kebingungan
karena kekhususan ibadah (sunnah) nya terusik panggilan ibu. “Ummi au shalati :
Ibuku atau shalatku?” Sekarang yang membingungkan justru “Zauji au da’wati” :
Isteriku atau da’wahku ?”.
Dia mulai gundah, kalau berangkat istri cemberut, padahal sudah tahu nikah
dengannya risikonya tidak dapat pulang malam tapi biasanya pulang pagi, menurut
bahasa Indonesia kontemporer untuk jam diatas 24.00. Dia katakan pada istrinya :
“Kita ini dipertemukan oleh Allah dan kita menemukan cinta dalam da’wah. Apa
pantas sesudah da’wah mempertemukan kita lalu kita meninggalkan da’wah. Saya
cinta kamu dan kamu cinta saya tapi kita pun cinta Allah”. Dia pergi menerobos
segala hambatan dan pulang masih menemukan sang permaisuri dengan wajah masih
mendung, namun membaik setelah beberapa hari. Beberapa tahun kemudian setelah
beranak tiga atau empat, saat kelesuan menerpanya, justru istri dan anak-anaknyalah
yang mengingatkan, mengapa tidak berangkat dan tetap tinggal dirumah? Sekarang
ini keluarga da’wah tersebut sudah menikmati berkah da’wah.
Lain lagi kisah sepasang suami istri yang juga dari masyarakat da’wah. Kisahnya
mirip, penyikapannya yang berbeda. Pengantinnya tidak siap ditinggalkan untuk
da’wah. Perang bathin terjadi dan malam itu ia absen dalam pertemuan kader (liqa’).
Dilakukan muhasabah terhadapnya sampai menangis-menangis, ia sudah kalah oleh
penyakit “syaghalatna amwaluna waahluna : kami telah dilalaikan oleh harta dan
keluarga” (Qs. 48:11).
Ia berjanji pada dirinya : “Meskipun terjadi hujan, petir dan
gempa saya harus hadir dalam tugas-tugas da’wah”. Pada giliran berangkat keesokan
harinya ada ketukan kecil dipintu, ternyata mertua datang. “Wah ia yang sudah
memberikan putrinya kepadaku, bagaimana mungkin kutinggalkan?”. Maka ia pun
absen lagi dan dimuhasabah lagi sampai dan menangis-nangis lagi. Saat tugas da’wah
besok apapun yang terjadi, mau hujan, badai, mertua datang dll pokoknya saya harus
datang. Dan begitu pula ketika harus berangkat ternyata ujian dan cobaan datang
kembali dan iapun tak hadir lagi dalam tugas-tugas dak-wah.
Sampai hari ini pun saya
melihat jenis akh tersebut belum memiliki komitmen dan disiplin yang baik. Tidak
pernah merasakan memiliki kelezatan duduk cukup lama dalam forum da’wah, baik
halaqah atau pun musyawarah yang keseluruhannya penuh berkah. Sebenarnya
adakah pertemuan-pertemuan yang lebih lezat selain pertemuan-pertemuan yang
dihadiri oleh ikhwah berwajah jernih berhati ikhlas ? Saya tak tahu apakah mereka
menemukan sesuatu yang lain, “in lam takun bihim falan takuna bighoirihim”.
Di Titik Lemah Ujian Datang
Akhirnya dari beberapa kisah ini saya temukan jawabannya dalam satu simpul.
Simpul ini ada dalam kajian tematik ayat QS Al-A’raf Ayat 163 : “Tanyakan pada
mereka tentang negeri di tepi pantai, ketika mereka melampaui batas aturan Allah di
(tentang) hari Sabtu, ketika ikan-ikan buruan mereka datang melimpah-limpah pada
Sabtu dan di hari mereka tidak bersabtu ikan-ikan itu tiada datang. Demikianlah kami
uji mereka karena kefasikan mereka”. Secara langsung tema ayat tentang sikap dan
kewajiban amar ma’ruf nahyi munkar. Tetapi ada nuansa lain yang menambah
kekayaan wawasan kita. Ini terkait dengan ujian.
Waktu ujian itu tidak pernah lebih panjang daripada waktu hari belajar, tetapi banyak
orang tak sabar menghadapi ujian, seakan sepanjang hanya ujian dan sedikit hari
untuk belajar. Ujian kesabaran, keikhlasan, keteguhan dalam berda’wah lebih sedikit
waktunya dibanding berbagai kenikmatan hidup yang kita rasakan. Kalau ada sekolah
yang waktu ujiannya lebih banyak dari hari belajarnya, maka sekolah tersebut
dianggap sekolah gila. Selebih dari ujian-ujian kesulitan, kenikmatan itu sendiri
adalah ujian. Bahkan, alhamdulillah rata-rata kader da’wah sekarang secara ekonomi
semakin lebih baik. Ini tidak menafikan (sedikit) mereka yang roda ekonominya
sedang dibawah.
Seorang masyaikh da’wah ketika selesai menamatkan pendidikannya di Madinah,
mengajak rekannya untuk mulai aktif berda’wah. Diajak menolak, dengan alasan
ingin kaya dulu, karena orang kaya suaranya didengar orang dan kalau berda’wah,
da’wahnya diterima. Beberapa tahun kemudian mereka bertemu. “Ternyata kayanya
kaya begitu saja”, ujar Syaikh tersebut.
Ternyata kita temukan kuncinya, “Demikianlah kami uji mereka karena sebab
kefasikan mereka”. Nampaknya Allah hanya menguji kita mulai pada titik yang
paling lemah. Mereka malas karena pada hari Sabtu yang seharusnya dipakai ibadah
justru ikan datang, pada hari Jum’at jam 11.50 datang pelanggan ke toko. Pada saatsaat
jam da’wah datang orang menyibukkan mereka dengan berbagai cara. Tapi kalau
mereka bisa melewatinya dengan azam yang kuat, akan seperti kapal pemecah es. Bila
diam salju itu tak akan me-nyingkir, tetapi ketika kapal itu maju, sang salju
membiarkannya berlalu. Kita harus menerobos segala hal yang pahit seperti anak
kecil yang belajar puasa, mau minum tahan dulu sampai maghrib. Kelezatan,
kesenangan dan kepuasan yang tiada tara, karena sudah berhasil melewati ujian dan
cobaan sepanjang hari.
Iman dan Pengendalian Kesadaran Ma’iyatullah
Aqidah kita mengajarkan, tak satupun terjadi di langit dan di bumi tanpa kehendak
ALLAH. ALLAH berkuasa menahan keinginan datangnya tamu-tamu yang akan
menghalangi kewajiban da’wah. Apa mereka fikir orang-orang itu bergerak sendiri
dan ALLAH lemah untuk mencegah mereka dan mengalihkan mereka ke waktu lain
yang tidak menghalangi aktifitas utama dalam da’wah? Tanyakan kepada pakarnya,
aqidah macam apa yang dianut seseorang yang tidak meyakini ALLAH menguasai
segalanya?
Mengapa mereka yang melalaikan tugas da’wahnya tidak berfikir
perasaan sang isteri yang keberatan ditinggalkan beberapa saat, juga sebenarnya batu
ujian yang dikirim ALLAH, apakah ia akan mengutamakan tugas da’wahnya atau
keluarganya yang sudah punya alokasi waktu ? Yang ia beri mereka makanan dari
kekayaan ALLAH ?
Karena itu mari melihat dimana titik lemah kita. Yang lemah dalam berukhuwah,
yang gerah dan segera ingin pergi meninggalkan kewajiban liqa’, syuro atau jaulah.
Bila mereka bersabar melawan rasa gerah itu, pertarungan mungkin hanya satu dua
kali, sesudah itu tinggal hari-hari kenikmatan yang luar biasa yang tak tergantikan.
Bahkan orang-orang salih dimasa dahulu mengatakan “Seandainya para raja dan
anak-anak raja mengetahui kelezatan yang kita rasakan dalam dzikir dan majlis ilmu,
niscaya mereka akan merampasnya dan memerangi kita dengan pedang”. Sayang hal
ini tidak bisa dirampas, melainkan diikuti, dihayati dan diperjuangkan. Berda’wah
adalah nikmat, berukhuwah adalah nikmat, saling menopang dan memecahkan
problematika da’wah bersama ikhwah adalah nikmat, andai saja bisa dikhayalkan oleh
mereka menelantarkan modal usia yang ALLAH berikan dalam kemilau dunia yang
menipu dan impian yang tak kunjung putus.
Ayat ini mengajarkan kita, ujian datang di titik lemah. Siapa yang lemah di bidang
lawan jenis, seks dan segala yang sensual tidak diuji di bidang keuangan, kecuali ia
juga lemah disitu. Yang lemah dibidang keuangan, jangan berani-berani memegang
amanah keuangan kalau kamu lemah di uang hati-hati dengan uang. Yang lemah
dalam gengsi, hobi popularitas, riya’ mungkin– dimasa ujian – akan menemukan
orang yang terkesan tidak menghormatinya.
Yang lidahnya tajam dan berbisa
mungkin diuji dengan jebakan-jebakan berkomentar sebelum tabayun.Yang lemah
dalam kejujuran mungkin selalu terjebak perkara yang membuat dia hanya ‘selamat’
dengan berdusta lagi. Dan itu arti pembesaran bencana.
Kalau saja Abdullah bin Ubay bin Salul, nominator pemimpin Madinah (d/h Yatsrib)
ikhlas menerima Islam sepenuh hati dan realistis bahwa dia tidak sekaliber Rasulullah
SAW, niscaya tidak semalang itu nasibnya. Bukankah tokoh-tokoh Madinah makin
tinggi dan terhormat, dunia dan akhirat dengan meletakkan diri mereka dibawah
kepemimpinan Rasulullah SAW ? Ternyata banyak orang yang bukan hanya bakhil
dengan harta yang ALLAH berikan, tetapi juga bakhil dengan ilmu, waktu, gagasan
dan kesehatan yang seluruhnya akan menjadi beban tanggungjawab dan penyesalan.
Seni Membuat Alasan
Perlu kehati-hatian – sesudah syukur – karena kita hidup di masyarakat Da’wah
dengan tingkat husnuzzhan yang sangat tinggi. Mereka yang cerdas tidak akan
membodohi diri mereka sendiri dengan percaya kepada sangkaan baik orang kepada
dirinya, sementara sang diri sangat faham bahwa ia tak berhak atas kemuliaan itu.
Gemetar tubuh Abu Bakar RA bila disanjung. “Ya ALLAH, jadikan daku lebih baik
dari yang mereka sangka, jangan hukum daku lantaran ucapan mereka dan ampuni
daku karena ketidaktahuan mereka”, demikian ujarnya lirih. Dimana posisi kita dari
kebajikan Abu Bakr Shiddiq RA ? “Alangkah bodoh kamu, percaya kepada sangka
baik orang kepadamu, padahal engkau tahu betapa diri jauh dari kebaikan itu”,
demikian kecaman Syaikh Harits Almuhasibi dan Ibnu Athai’Llah.
Diantara nikmat ALLAH ialah sitr (penutup) yang ALLAH berikan para hamba-Nya,
sehingga aibnya tak dilihat orang. Namun pelamun selalu mengkhayal tanpa mau
merubah diri. Demikian mereka yang memanfaatkan lapang hati komunitas da’wah
tumbuh dan menjadi tua sebagai seniman maaf, “Afwan ya Akhi”.
Tetapi ALLAH-lah Yang Memberi Mereka Karunia Besar
Kelengkapan Amal Jama’i tempat kita ‘menyumbangkan’ karya kecil kita,
memberikan arti bagi eksistensi ini. Kebersamaan ini telah melahirkan kebesaran
bersama. Jangan kecilkan makna kesertaan amal jama’i kita, tanpa harus mengklaim
telah berjasa kepada Islam dan da’wah. “Mereka membangkit-bangkitkan (jasa)
keislaman mereka kepadamu. Katakan : ‘Janganlah bangkit-bangkitkan keislamanmu
(sebagai sumbangan bagi kekuatan Islam, (sebaliknya hayatilah) bahwa ALLAH telah
memberi kamu karunia besar dengan membimbing kamu ke arah Iman, jika kamu
memang jujur” (Qs. 49;17).
ALLAH telah menggiring kita kepada keimanan dan da’wah. Ini adalah karunia
besar. Sebaliknya, mereka yang merasa telah berjasa, lalu – karena ketidakpuasan
yang lahir dari konsekwensi bergaul dengan manusia yang tidak maksum dan
sempurna – menung-gu musibah dan kegagalan, untuk kemudian mengatakan : “Nah,
rasain !” Sepantasnya bayangkan, bagaimana rasanya bila saya tidak bersama kafilah
kebahagiaan ini?.
Saling mendo’akan sesama ikhwah telah menjadi ciri kemuliaan pribadi mereka,
terlebih doa dari jauh. Selain ikhlas dan cinta tak nampak motivasi lain bagi saudara
yang berdoa itu. ALLAH akan mengabulkannya dan malaikat akan mengamininya,
seraya berkata : “Untukmu pun hak seperti itu”, seperti pesan Rasulullah SAW.
Cukuplah kemuliaan ukhuwah dan jamaah bahwa para nabi dan syuhada iri kepada
mereka yang saling mencintai, bukan didasari hubungan kekerabatan, semata-mata
iman dan cinta fi’Llah.
Ya ALLAH, kami memohon cinta-Mu, cinta orang-orang yang mencintai-Mu dan
cinta kepada segala yang akan mendekatkan kami kepada cinta-Mu.

Bulan Ramadhan : Stasiun Besar Musafir Iman

 
Tak pernah air melawan qudrat yang ALLAH ciptakan untuknya, mencari dataran
rendah, menjadi semakin kuat ketika dibendung dan menjadi nyawa kehidupan. Lidah
api selalu menjulang dan udara selalu mencari daerah minimum dari kawasan
maksimum, angin pun berhembus.
Edaran yang pasti pada keluarga galaksi, membuat manusia dapat membuat mesin pengukur waktu, kronometer, menulis sejarah, catatan musim dan penanggalan. Semua bergerak dalam harmoni yang menakjubkan. Ruh pun – dengan karakternya sebagai ciptaan ALLAH – menerobos kesulitan
mengaktualisasikan dirinya yang klasik saat tarikan gravitasi ‘bumi jasad’
memberatkan penjelajahannya menembus hambatan dan badai cakrawala.
Kini – di bulan ini – ia jadi begitu ringan, menjelajah ‘langit ruhani’. Carilah bulan – diluar
Ramadlan – saat orang dapat mengkhatamkan tilawah satu, dua, tiga sampai empat
kali dalam sebulan. Carilah momentum saat orang berdiri lama di malam hari
menyelesaikan sebelas atau dua puluh tiga rakaat. Carilah musim kebajikan saat orang
begitu santainya melepaskan ‘ular harta’ yang membelitnya. Inilah momen yang
membuka seluas-luasnya kesempatan ruh mengeksiskan dirinya dan mendekap eraterat
fitrah dan karakternya.
Marhaban ya Syahra Ramadlan Marhaban Syahra’ Shiyami Marhaban ya Syahra
Ramadlan Marhaban Syahra’l Qiyami
Keqariban di Tengah Keghariban
Ahli zaman kini mungkin leluasa menertawakan muslim badui yang bersahaja, saat ia
bertanya: “Ya Rasul ALLAH, dekatkah Tuhan kita, sehingga saya cukup berbisik saja
atau jauhkah Ia sehingga saya harus berseru kepada-Nya?” Sebagian kita telah begitu
‘canggih’ memperkatakan Tuhan. Yang lain merasa bebas ketika ‘beban-beban orang
bertuhan’ telah mereka persetankan. Bagaimana rupa hati yang Ia tiada bertahta
disana? Betapa miskinnya anak-anak zaman, saat mereka saling benci dan bantai.
Betapa sengsaranya mereka saat menikmati kebebasan semu; makan, minum, seks,
riba, suap, syahwat, dan seterusnya. padahal mereka masih berpijak di bumi-Nya.
Betapa menyedihkan, kader yang grogi menghadapi kehidupan dan persoalan,
padahal Ia yang memberinya titah untuk menuturkan pesan suci-Nya. Betapa
bodohnya masinis yang telah mendapatkan peta perjalanan, kisah kawasan rawan,
mesin kereta yang luar biasa tangguh dan rambu-rambu yang sempurna, lalu masih
membawa keluar lokonya dari rel, untuk kemudian menangis-nangis lagi di stasiun
berikut, meratapi kekeliruannya. Begitulah berulang seterusnya.
Semua ayat dari 183-187 surat Al-Baqarah bicara secara tekstual tentang puasa.
Hanya satu ayat yang tidak menyentuhnya secara tekstual, namun sulit untuk
mengeluarkannya dari inti hikmah puasa. “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya
kepadamu tentang Aku, maka (katakanlah): ‘Sesungguhnya Aku ini dekat…” (Qs. 2
:185).
Apa yang terjadi pada manusia dengan dada hampa kekariban ini? Mereka jadi pandai
tampil dengan wajah tanpa dosa didepan publik, padahal beberapa meni sebelum
atau sesudah tampilan ini mereka menjadi drakula dan vampir yang haus darah, bukan
lagi menjadi nyamuk yang zuhud. Mereka menjadi lalat yang terjun langsung ke
bangkai-bangkai, menjadi babi rakus yang tak bermalu, atau kera, tukang tiru yang
rakus.
Bagaimana mereka menyelesaikan masalah antar mereka? Bakar rumah, tebang pohon
bermil-mil, hancurkan hutan demi kepentingan pribadi dan keluarga, tawuran
antar warga atau anggota lembaga tinggi negara, bisniskan hukum, jual bangsa kepada
bangsa asing dan rentenir dunia. Berjuta pil pembunuh mengisi kekosongan hati ini.
Berapa lagi bayi lahir tanpa status bapak yang syar’i? Berapa lagi rakyat yang
menjadi keledai tunggangan para politisi bandit?
Berapa banyak lagi ayat-ayat dan pesan dibacakan sementara hati tetap membatu?
Berapa banyak kurban berjatuhan sementara sesama saudara saling tidak peduli?
Nuzul Qur-an di Hira, Nuzul di Hati
Ketika pertama kali Alqur-an diturunkan, ia telah menjadi petunjuk untuk seluruh manusia.
Ia menjadi petunjuk yang sesungguhnya bagi mereka yang menjalankan perintah-
Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Ia benar-benar berguna bagi kaum beriman
dan menjadi kerugian bagi kaum yang zalim. Kelak saatnya orang menyalahkan
rambu-rambu, padahal tanpa rambu-rambu kehidupan menjadi kacau.
Ada juga orang berfikir, malam qadar itu selesai sudah, karena ALLAH menyatakannya dengan
Anzalna-hu (kami telah menurunkannya), tanpa melihat tajam-tajam pada kata
tanazzalu’l Ma-laikatu wa’l Ruhu (pada malam itu turun menurunlah Malaikat dan
Ruh), dengan kata kerja permanen. Bila malam adalah malam, saat matahari
terbenam, siapa warga negeri yang tak menemukan malam; kafirnya dan mukminnya,
fasiqnya dan shalihnya, mu-nafiqnya dan shiddiqnya, Yahudinya dan Nasraninya?
Jadi apakah malam itu malam fisika yang meliput semua orang di kawasan?
Jadi ketika Ramadlan di gua Hira itu malamnya disebut malam qadar, saat turun
sebuah pedoman hidup yang terbaca dan terjaga, maka betapa bahagianya setiap
mukmin yang sadar dengan Nuzulnya Alqur-an di hati pada malam qadarnya masingmasing,
saat jiwa menemukan jati dirinya yang selalu merindu dan mencari sang
Pencipta.
Yang tetap terbelenggu selama hayat dikandung badan, seperti badan pun
tak dapat melampiaskan kesenangannya, karena selalu ada keterbatasan bagi setiap
kesenangan. Batas makanan dan minuman yang lezat adalah kterbatasan perut dan
segala yang lahir dari proses tersebut. Batas kesenangan libido ialah menghilangnya
kegembiraan di puncak kesenangan. Batas nikmatnya dunia ialah ketika ajal tiba-tiba
menemukan rambu-rambu: Stop!
Alqur-an dulu, baru yang lain
Bacalah Alqur-an, ruh yang menghidupkan, sinari pemahaman dengan sunnah dan
perkaya wawasan dengan sirah, niscaya Islam itu terasa ni’mat, harmoni, mudah,
lapang dan serasi. Alqur-an membentuk frame berfikir. Alqur-an mainstream
perjuangan. Nilai-nilainya menjadi tolok ukur keadilan, kewajaran dan kesesuaian
dengan karakter, fitrah dan watak manusia. Penguasaan outline-nya menghindarkan
pandangan parsial juz-i. Penda’wahannya dengan kelengkapan sunnah yang
sederhana, menyentuh dan aksiomatis, akan memudahkan orang memahami Islam,
menjauhkan perselisihan dan menghemat energi ummat.
Betapa da’wah Alqur-an dengan madrasah tahsin, tahfiz dan tafhimnya telah
membangkitkan kembali semangat keislaman, bahkan di jantung tempat kelahirannya
sendiri. Ahlinya selalu menjadi pelopor jihad di garis depan, jauh sejak awal sejarah
ummat ini bermula. Bila Rasulullah meminta orang menurunkan jenazah dimintanya
yang paling banyak penguasaan Qur-annya. Bila me-nyusun komposisi pasukan,
diletakkannya pasukan yang lebih banyak hafalannya. Bahkan di masa awal sekali,
‘unjuk rasa’ pertama digelar dengan pertanyaan ‘Siapa yang berani membacakan surat
Arrahman di Ka’bah?’.
Dan Ibnu Mas’ud tampil dengan berani dan tak menyesal atau
jera walaupun pingsan dipukuli musyrikin kota Makkah.
Puasa: Da’wah, tarbiah, jihad dan disiplin
Orang yang tertempa makan (sahur) di saat enaknya orang tertidur lelap atau berdiri
lama malam hari dalam shalat qiyam Ramadlan setelah siangnya berlapar-haus, atau
menahan semua pembatal lahir-batin, sudah sepantasnya mampu mengatasi masalahmasalah
da’wah dan kehidupannya, tanpa keluhan, keputusasaan atau kepanikan. Musuh-
musuh ummat mestinya belajar untuk mengerti bahwa bayi yang dilahirkan di tengah
badai takkan gentar menghadapi deru angin. Yang biasa menggenggam api
jangan diancam dengan percikan air. Mereka ummat yang biasa menantang dinginnya
air di akhir malam, lapar dan haus di terik siang.
Mereka terbiasa memburu dan menunggu target perjuangan, jauh sampai ke akhirat
negeri keabadian, dengan kekuatan yakin yang melebihi kepastian fajar menyingsing.
Namun bagaimana mungkin bisa mengajar orang lain, orang yang tak mampu
memahami ajarannya sendiri? “Faqidu’s Syai’ la Yu’thihi” (Yang tak punya apa-apa
tak akan mampu memberi apa-apa).
Wahyu pertama turun di bulan Ramadlan, pertempuran dan mubadarah (inisiatif) awal
di Badar juga di bulan Ramadlan dan Futuh (kemenangan) juga di bulan Ramadlan.
Ini menjadi inspirasi betapa madrasah Ramadlan telah memproduk begitu banyak
alumni unggulan yang izzah-nya membentang dari masyriq ke maghrib zaman.
Bila mulutmu bergetar dengan ayat-ayat suci dan hadits-hadits, mulut mereka juga
menggetarkan kalimat yang sama. Adapun hati dan bukti, itu soal besar yg menunggu
jawaban serius. []

Sejenak Menangis

 
Oleh : Cahyadi Takariawan
Sungguh ajaib makhluk ciptaan Tuhan bernama manusia. Ada banyak sekali fenomena kehidupan yang sering kita jumpai dalam hidup keseharian, yang ternyata merupakan mekanisme penjagaan kehidupan itu sendiri. Salah satu contoh sederhana adalah menangis. Mungkin saja dengan bahasa perasaan kita bisa mengatakan, “binatang itu menangis”, atau “pohon itu menangis”, atau “alam sedang menangis”, dan seterusnya.
Akan tetapi menangis yang dilakukan oleh manusia sangat spesifik. Dia bukan hanya aktivitas fisik “mengeluarkan air mata”, namun lebih dalam dari itu. Untuk bisa menangis, kita memerlukan “sebab” atau suasana tertentu, yang secara alami direspon oleh tubuh dengan menangis. Kadang peristiwa menangis terjadi secara spontan, namun bisa juga menangis karena “dikondisikan untuk menangis”. Bisa dikondisikan oleh orang lain, atau dikondisikan oleh diri sendiri agar bisa menangis. Namun, apapun prosesnya, menangis tetap saja memerlukan situasi dan kondisi yang khas.
Saya ingin membagi dengan sangat sederhana peristiwa menangis yang dialami oleh manusia dalam kehidupannya.
1. Tangis Keimanan
Dalam sejarah Islam kita mengenal kisah orang-orang salih yang mudah menangis saat membaca ayat-ayat Al Qur’an, atau saat mendengar ayat-ayat Al Qur’an dilantunkan. Para sahabat Nabi mudah sekali mencucurkan air mata saat mendengar ayat-ayat yang berisi ancaman siksa neraka, karena mereka sangat takut siksa. Di zaman sekarang, kita bisa menyaksikan para Imam Masjid yang menangis saat membaca ayat-ayat Al Qur’an dalam shalat berjamaah, dan diikuti oleh tangis para jama’ah.
Perhatikan para imam besar di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi seperti Syaikh Abdurrahman As Sudais, Syaikh Al Hushari, Syaikh Khalid Al Ghamidi, Syaikh Masyari Al Rasyid Al ‘Afasi, Syaikh Sa’ud Asy Syuraim, Syaikh Yasir Ad Dausiri, dan imam-imam besar lainnya, sangat mudah tersentuh hati mereka hingga menangis saat menjadi imam shalat berjama’ah. Menangis bersama dalam suasana shalat yang khusyu’ ini, tidaklah dibuat-buat atau direkayasa, namun suasana dan kejadiannya sangat alami.
Ternyata menangis merupakan salah satu pertanda bahwa hati kita masih hidup dan sehat. Hati kita masih lembut dan mudah tersentuh oleh kebenaran. Menangis karena mengingat akhirat adalah bagian dari karakter orang beriman, karena sangat ingin mendapatkan ridha dan surga Allah, dan sangat ingin terjauhkan dari murka dan siksa-Nya. Menangis karena mengingat dosa yang telah dilakukan. Menangis karena merasa masih sedikitnya amal yang dikerjakan. Menangis dalam konteks seperti ini memiliki hubungan yang sangat erat dengan keimanan.
2. Tangis Kemanusiaan
Ada pula peristiwa menangis karena sebab-sebab kemanusiaan. Misalnya menangis karena mendengar berita yang sangat menyedihkan, menangis karena kehilangan orang yang sangat dicintai, menangis karena mengalami musibah yang sangat berat, dan lain sebagainya. Menangis dalam konteks seperti ini terjadinya secara spontan dan sangat alami, tidak bisa direkayasa.
Saya sangat sering menangis saat musibah tsunami melanda Aceh 26 Desember 2004. Hari-hari setelah itu media massa memberitakan dahsyatnya tsunami di Aceh. Saya merasakan kesedihan yang luar biasa, dan merasa tidak memiliki kemampuan untuk memberikan bantuan yang diperlukan. Saat datang sebagai relawan, sayapun menangis melihat sisa-sisa hebatnya bencana tsunami. Dan saya kembali menangis saat memasuki Museum Tsunami Aceh tahun 2010 kemarin.
Dalam setiap peristiwa musibah, kita sangat banyak menemukan orang menangis. Saat gempa melanda Yogyakarta dan sekitarnya pada tahun 2006, pemandangan orang menangis sangat mudah didapatkan. Saat bencana meletusnya Merapi tahun 2010, kita juga banyak melihat para korban yang menangis. Ini adalah peristiwa yang sangat manusiawi, dimana menangis sebagai ekspresi ketidakberdayaan diri menghadapi musibah yang datang bertubi-tubi.
3. Tangis Kejiwaan
Ada pula peristiwa menangis yang terjadi sebagai bentuk ungkapan rasa kejiwaan, ungkapan kegelisahan, ungkapan suasana emosi yang tengah dialami. Kita bisa menangis karena tengah menghadapi beban masalah yang menghimpit jiwa, serasa menyesakkan dada, dan belum menemukan jalan keluarnya. Kita bisa menangis karena mendapatkan tekanan perasaan yang sangat berat, dan ingin mencurahkan emosi.
“Menangis adalah pelepasan emosi yang paling tepat saat kita tak bisa mengungkapkannya lewat kata-kata,” kata Dr Simon Moore, psikolog dari London Metropolitan University. Hal ini menandakan bahwa saat manusia mendapatkan tekanan kejiwaan yang berat, menangis adalah salah satu cara meredakan tekanan dan ketegangan jiwa. Setelah menangis, hati menjadi lapang, perasaan lebih lega, walaupun masalah tidak bisa selesai dengan menangis.
Menurut Profesor William Frey dari Amerika Serikat, air mata yang dikeluarkan saat kita sedang emosional mengandung hormon endorphin yang membuat perasaan lebih lega. Inilah yang saya maksud sebagai Tangis Kejiwaan, sebuah “ritual” menangis yang diperlukan oleh manusia dalam rangka melepaskan ketegangan kejiwaan. Menangis dalam rangka untuk mengurangi beban masalah, meredakan tekanan kejiwaan, dan pelepasan beban yang tengah menghimpit. Secara psikologi, tangisan seperti ini sangat bermanfaat untuk kesehatan jiwa.
Sebuah penelitian yang dilakukan para ahli di Amerika Serikat menyebutkan, 9 dari 10 orang mengaku merasa lebih lega setelah menangis. Bahkan, para ahli juga percaya kalau menangis bisa menyembuhkan sakit dan meningkatkan kadar hormon adrenalin.
4. Tangis Perasaan
Konon, kaum perempuan lebih mudah dan lebih banyak menangis dibandingkan kaum laki-laki. Hal ini karena rata-rata kaum perempuan lebih banyak menggunakan perasaan dalam berinteraksi dengan masalah dibandingkan dengan laki-laki. Menurut sebuah penelitian di dunia Barat, perempuan menangis sekitar 47 (empatpuluh tujuh) kali dalam setahun, sedangkan laki-laki hanya 7 (tujuh) kali saja. Tingginya hormon prolaktin dalam tubuh wanita diduga jadi penyebabnya.
Bagi rata-rata kaum perempuan, menangis adalah bahasa perasaan. Kaum perempuan tidak memerlukan sebab-sebab yang masuk akal untuk menangis. Inilah yang saya maksud sebagai Tangis Perasaan, sebuah tangis yang muncul sebagai ekspresi dari bahasa perasaan. Dalam kehidupan rumah tangga, saat isteri menangis, yang harus dilakukan suami adalah mendekat dan memeluknya dengan penuh kasih sayang serta kelembutan. Karena isteri menangis sebagai sebuah bentuk komunikasi, ada pesan nonverbal yang ingin disampaikan lewat tangis itu.
Laki-laki juga bisa menangis dalam konteks ini, hanya saja biasanya lebih jarang dibanding dengan perempuan. Ketika ada suatu kondisi perasaan tertentu yang ingin dikomunikasikan kepada pasangannya, namun tidak menemukan kata-kata yang tepat untuk mewakilinya, maka menangis adalah wahana penyampaian pesan yang cukup efektif. Pesan yang tersampaikan bisa jadi “engkau benar-benar tidak mengerti perasaanku”, atau “aku ingin lebih engkau perhatikan”, atau “engkau terlalu jauh dan menjaga jarak dariku”, atau “sesibuk itukah dirimu sehingga tidak sempat memanjakan aku?”
5. Tangis Kebahagiaan
Menangis tidak mesti disebabkan karena kesedihan. Menangis bisa terjadi karena ungkapan kebahagiaan dan kepuasan. Seorang siswa yang belajar keras dan berusaha bersungguh-sungguh untuk bisa lulus Ujian Nasional, bisa menangis saat mengetahui dirinya mendapatkan nilai tertinggi di sekolahnya. Ia merasa bahagia dan bangga, karena usaha yang dilakukan selama ini ada hasilnya dan tidak sia-sia.
Seorang atlet yang tengah mengikuti perlombaan dunia, bisa menangis saat dirinya menjadi juara pertama, dan namanya mengharumkan nama bangsa. Seorang calon kepala daerah bisa menangis saat dirinya dinyatakan sebagai pemenang dalam pemilihan umum kepala daerah. Ia merasa bangga dan bahagia berhasil memenangkan pertempuran politik yang sangat melelahkan dan menegangkan. Pengantin baru bisa menangis bahagia setelah selesai akad nikah, karena mendapatkan jodoh sesuai keinginannya.
Ya, siapapun orang yang mengalami kebahagiaan dan kebanggaan, bisa menangis karena terharu, sebagai ungkapan jiwa yang mengalami antiklimaks setelah melakukan perjuangan yang sangat panjang dan melelahkan.
6. Tangis Kerinduan
Suatu saat anda bepergian lama sekali meninggalkan keluarga, meninggalkan saudara, meninggalkan kampung halaman tercinta. Anda bekerja di negeri orang, jauh dari sanak saudara. Selama di perantauan, anda hanya bisa berkirim kabar melalui sms atau telepon, sesekali mengirim surat dengan email. Kendati teknologi memungkinkan anda berbicara menggunakan sarana teleconference yang menyebabkan anda bisa saling melihat dengan keluarga, namun hal itu tidak bisa mengobati kerinduan anda.
Ada titik puncak kerinduan yang tidak bisa anda hindari. Di titik itu anda menangis. Sangat rindu, sangat ingin ketemu, sangat ingin segera pulang. Ingin ketemu suami atau isteri, ingin berjumpa anak-anak, ingin melihat rumah dan kampung halaman. Perasaan rindu sudah tidak tertahankan, sementara anda belum bisa pulang. Anda masih terikat kontrak yang harus diselesaikan. Menghitung waktu, rasanya tak ada ujung, waktu bergerak sangat lambat. Anda ingin berlari ke masa depan, melampaui batas kontrak yang telah anda janjikan.
Bagi anda yang lama berada di luar negeri, ada titik rindu ingin melihat tanah air. Anda bisa menangis karena mendengar lagu Indonesia Raya dinyanyikan di negeri orang. Padahal selama tinggal di Indonesia, tidak pernah menangis mendengar lagu itu dikumandangkan. Inilah tangis kerinduan, tangis yang muncul karena perasaan rindu menggebu, perasaan kangen yang mendalam.
7. Tangis Kesehatan
Secara umum, semua jenis tangis bisa mendatangkan manfaat kesehatan. Cairan yang keluar dari mata saat menangis dapat mencegah dehidrasi pada membran mata. Dehidrasi pada membran mata ini potensial membuat penglihatan menjadi kabur. Dengan menangis, mata akan terhindarkan dari dehidrasi, sehingga kesehatan penglihatan tetap terjaga karena aliran air mata tersebut. Dengan demikian, menangis bisa menjadi bagian dari terapi kesehatan.
Air mata juga berfungsi sebagai antibakteri alami. Di dalam air mata terkandung cairan yang disebut dengan lisozom yang dapat membunuh sekitar 90 – 95 % bakteri hanya dalam waktu 5 menit. Setiap hari tubuh kita berinteraksi dengan banyak sekali bakteri. Misalnya, bakteri yang terserap dari keyboard komputer, pegangan tangga, perlatan rumah tangga, serta tempat-tempat yang mengandung bakteri. Dengan menangis, air mata akan membunuh berbagai bakteri tersebut secara alami, tanpa harus menggunakan obat tetes mata.
Masih banyak sekali sisi menangis. Misalnya ada orang menangis karena tertawa terbahak-bahak. Menangisnya karena tertawa, aneh ya ? Yang seperti ini tidak saya masukkan dalam tulisan ini, karena itu menangis “palsu”. Ya, ia tidak ingin menangis, namun keluar air mata. Ia sangat senang dan enjoy, bahkan tertawa-tawa. Namun tidak sengaja keluar air mata justru karena banyaknya tertawa.
Anda tidak perlu menangis karena membaca tulisan ini, namun anda perlu menangis jika ternyata sudah lama sekali anda tidak menangis. Jaga keimanan anda, jaga kesehatan jiwa anda, jaga keseimbangan perasaan anda, jaga suasana kejiwaan anda, dengan menangis. Tumpahkan kerinduan anda, curahkan beban perasaan anda, dengan menangis. Jangan malu menangis, karena menangis itu pertanda iman, menangis itu tanda kemanusiaan, dan menangis itu menyehatkan.
Pancoran Barat, 14 Juli 2011

Sabtu, 04 Juni 2011

Mengenang Massa

Empat tahun lamanya Ibnu Khaldun (732-808 H/1332-1406) mengurung diri di pedalaman Afrika Utara untuk menuntaskan buku sejarah monumentalnya, Al ‘Ibar. Lima bulan diantaranya digunakan khusus untuk menulis kata pengantarnya, yang kelak dikenal dengan sebagai Al Muqaddimah. Empat tahun lagi sesudahnya ia gunakan untuk membaca ulang, mengedit dan memperbaiki buku itu hingga terbit. Di antara tahun 776-784 H, Ibnu Khaldun ‘menempatkan’ maqomnya dalam sejarah literatur Islam dan dunia sebagai filosof sejarah dan sosial, bahkan disebut sebagai pendiri ilmu sosiologi modern.

Seperti dalam dunia pengembaraan dan penulisan geografi, ilmu sejarah merupakan salah satu cabang ilmu yang paling banyak berkembang dalam sejarah pemikiran Islam. Ia juga merupakan buah dari perintah Qur’an untuk mengenal ruang dan waktu yang menjadi konteks di mana teks-teksnya akan diturunkan menjadi realitas. “Ketahuilah”, kata Ibnu Khaldun dalam Muqaddimahnya, “bahwa sejarah adalah ilmu sangat berharga, sangat bermanfaat dan sangat mulia dalam tujuannya. Ia menjelaskan kepada kita tentang perilaku-perilaku umat terdahulu, jalan hidup nabi-nabi serta cara raja-raja mengatur negara-negara mereka. Dengan itu kita dapat meneladani mereka dalam urusan agama dan dunia.” Belajar sejarah adalah belajar tentang kehidupan dan seluruh aspeknya. “Sejarah”, lanjut Ibnu Khaldun, “membutuhkan banyak sudut pandang dan beragam pengetahuan serta kemampuan analisa untuk sampai pada kebenaran dan terbebas dari kesalahan.”

Sejarah menyadarkan kita akan efek akumulasi dari makna waktu. Kebahagiaan dan keruntuhan dalam sejarah perdaban manusia sebenarnya merupakan efek akumulasi dari perilaku dan budaya tertentu yang berkembang dalam masyarakat. Efek dari perilaku tidak akan tampak sekaligus. Ia muncul secara bertahap melalui deret waktu tertentu hingga mencapai limitnya lalu meledakkan efeknya. Sehingga di tahap-tahap awal efek dan gejalanya tidak terlihat. Itu yang membuat masyarakat terlena dan tidak menyadari bahwa mereka sedang berada di ambang bahaya besar. Itu terjadi saat sebuah peradaban menuju keruntuhannya. Begitu juga sebaliknya ketika ia merangkak naik menuju kejayaannya. Semua terjadi secara sekuensial melalui time series sebagai efek akumulasi.

Efek akumulasi dari waktu itulah yang membuahkan kemampuan berpikir sekuensial (sequential mind) yang juga merupakan faktor penting yang membentuk kemampuan berpikir strategis seseorang. Karena itu, sebagaimana geografi, sejaran dari dulu selalu melekat di dalam struktur pengetahuan raja-raja dan para pemimpin politik. Para Khulafa Rasyidi, khususnya Abu Bakar dan Utsman bin Affan, dikenal luas di kalangan masyarakat jazirah Arab sebagai orang yang paling tahu tentang sejarah nasab suku-suku di masanya.

Setiap kali Nabi Muhammad SAW menghadapi masalah besar dan bersedih, Allah selalu menghiburnya dengan sejaran Nabi-nabi sebelumnya. Itu seperti pesan, bahwa beliau tidak sendiri perjuangannya. Ini adalah mata rantai kenabian yang panjang yang menghaadapi tantangan yang sama. [Anis Matta, sumber : Serial Pembelajaran Majalah Tarbawi edisi 246]http://muchlisin.blogspot.com/2011/03/akumulasi-waktu-kebajikan.html

Selasa, 03 Mei 2011

U L A T


Seorang gadis cilik tampak asyik bermain di halaman rumah yang penuh bunga. Ada bunga mawar, melati, ros, dan lain-lain. Sesekali, ia pandangi bunga itu satu per satu. “Aih, cantiknya bunga ini!” ucap gadis cilik sambil menyentuh tangkai bunga.
Tapi, ia pun terkejut saat akan memetik bunga yang hampir di genggamannya itu. Seekor ulat bulu begitu asyik menikmat dedaunan di sekitar bunga. Sebegitu lahapnya, sang ulat tak menyadari kalau ia sedang diperhatikan seseorang.
Langkah sang gadis kecil pun menyurut. Ia pun mencari-cari sesuatu untuk menghentikan kerakusan ulat bulu yang bisa merusak bunga kesayangannya itu. “Ha, ada kayu!” ucapnya sambil mengarahkan kayu kecil itu ke tubuh sang ulat. Dan….
“Jangan, sayang! Biarkan sang ulat itu menampakkan kerakusannya!” ucap seseorang yang ternyata ibu gadis itu. Saat itu juga, gadis kecil itu pun menghentikan langkahnya dan merapat ke sang ibu. “Tapi, Bu…” ujarnya sambil menggenggam jari sang ibu.
“Anakku, biarkanlah. Saat ini, kita sedang diajari Tuhan tentang siapa ulat bulu,” jelas sang ibu sambil membelai rambut gadis kecilnya.
“Apa selamanya dia serakus itu, Bu?” sergah sang gadis kecil kemudian.
“Tidak, anakku. Ia serakus itu karena ingin sukses menjadi kupu-kupu yang indah!” jelas sang ibu sambil senyum.
**
Begitu banyak pelajaran bertebaran dalam dinamika alam raya ini. Ada yang mudah ditafsirkan, dan tidak sedikit yang butuh perenungan.
Serangan ulat bulu seolah memberikan kita sebuah teguran. Bahwa keindahan fisik berupa penampilan, citra, wibawa, dan segala kemegahan jasadiyah lain yang dicita-citakan; semestinya tidak diraih dari menghalalkan segala cara dan penuh kerakusan. (muhammadnuh@eramuslim.com)
http://www.eramuslim.com/hikmah/tafakur/ulat.htm

Para Pengemban Amanah

Para Pengemban Amanah